BAB I
KETENTUAN UMUM

Standar Bantuan Hukum litigasi meliputi standar Bantuan Hukum untuk perkara:
a.pidana;
b.perdata; dan
c.tata usaha negara.

Pasal 4
Pemberian Bantuan Hukum litigasi dilakukan oleh advokat yang berstatus sebagai pengurus Pemberi Bantuan Hukum dan/atau advokat yang direkrut oleh Pemberi Bantuan Hukum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Bagian Kedua
Standar Bantuan Hukum untuk Perkara Pidana

Penerima Bantuan Hukum dalam perkara perdata terdiri atas:
a.penggugat; atau
b.tergugat.

Pasal 7
(1)Bantuan Hukum yang diberikan kepada penggugat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf a meliputi:
a.membuat surat kuasa;
b.gelar perkara di lingkungan Pemberi Bantuan Hukum;
c.membuat surat gugatan;
d.memeriksa seluruh kelengkapan dokumen yang berkenaan dengan proses di sidang pengadilan;
e.mendaftarkan gugatan ke pengadilan negeri;
f.mendampingi dan mewakili Penerima Bantuan Hukum pada saat mediasi;
g.mendampingi dan mewakili Penerima Bantuan Hukum saat pemeriksaan di sidang pengadilan;
h.menyiapkan dan menghadirkan alat bukti, saksi dan/atau ahli;
i.membuat surat replik dan kesimpulan; dan/atau
j.menyiapkan memori banding atau kasasi.
(2)Bantuan Hukum yang diberikan kepada tergugat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf b meliputi:
a.membuat surat kuasa;
b.gelar perkara di lingkungan organisasi Bantuan Hukum;
c.memeriksa seluruh kelengkapan dokumen yang berkenaan dengan proses persidangan;
d.mendampingi dan mewakili Penerima Bantuan Hukum pada saat mediasi;
e.membuat surat jawaban atas gugatan, duplik, dan kesimpulan;
f.mendampingi dan mewakili Penerima Bantuan Hukum pada saat pemeriksaan di sidang pengadilan;
g.menyiapkan dan menghadirkan alat bukti, saksi dan/atau ahli; dan/atau
h.menyiapkan memori banding atau kasasi.

Bagian Keempat
Standar Bantuan Hukum untuk Perkara Tata Usaha Negara

Pasal 8
Bantuan Hukum untuk perkara tata usaha negara meliputi:
a.membuat surat kuasa;
b.gelar perkara di lingkungan Pemberi Bantuan Hukum;
c.memeriksa seluruh kelengkapan dokumen yang berkenaan dengan proses persidangan;
d.membuat surat gugatan;
e.mendaftarkan gugatan ke pengadilan tata usaha negara;
f.mendampingi dan/atau mewakili dalam proses dismisall, mediasi, dan pemeriksaan di sidang pengadilan tata usaha negara;
g.menyiapkan alat bukti dan menghadirkan saksi dan/atau ahli;
h.membuat surat replik dan kesimpulan; dan/atau
i.menyiapkan memori banding atau kasasi.

BAB III
STANDAR BANTUAN HUKUM NONLITIGASI

Bagian Kesatu
Umum

Bantuan Hukum nonlitigasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (2) tidak dapat dilakukan untuk Bantuan Hukum litigasi terhadap kasus atau Penerima Bantuan Hukum yang sama.

Bagian Kedua
Penyuluhan Hukum

Pasal 11
(1)Penyuluhan hukum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (2) huruf a berupa:
a.ceramah;
b.diskusi; dan/atau
c.simulasi.
(2)Penyelenggaraan penyuluhan hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus didokumentasikan.

(1)Penyelenggaraan penyuluhan hukum harus memenuhi syarat:
a.peserta penyuluhan hukum berjumlah paling sedikit 30 (tiga puluh) orang, yang dibuktikan dengan daftar hadir;
b.pelaksanaan penyuluhan hukum dilakukan dalam waktu paling singkat 2 x 60 (dua kali enam puluh) menit;
c.lokasi penyuluhan hukum dilaksanakan di tempat kelompok orang miskin berada; dan
d.materi yang disampaikan dalam bentuk bahan tertulis.
(2)Laporan pelaksanaan kegiatan penyuluhan hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuat dalam bentuk notula dan laporan tertulis.
(3)Formulir laporan penyuluhan hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

Bagian Ketiga
Konsultasi Hukum

Pasal 14
(1)Konsultasi hukum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (2) huruf b dilakukan secara langsung dengan Penerima Bantuan Hukum untuk 1 (satu) masalah hukum.
(2)Hasil konsultasi hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuat secara tertulis dengan mengisi formulir konsultasi.
(3)Formulir konsultasi hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

Bagian Keempat
Investigasi Kasus

(1)Penelitian hukum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (2) huruf d dilakukan oleh panitia yang dibentuk oleh Pemberi Bantuan Hukum.
(2)Panitia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas 1 (satu) orang ketua dan paling sedikit 2 (dua) orang anggota.
(3)Keanggotaan panitia sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri atas unsur:
a.advokat;
b.paralegal;
c.dosen; dan/atau
d.mahasiswa fakultas hukum, yang terdaftar pada Pemberi Bantuan Hukum.
(4)Ketua panitia sebagaimana dimaksud pada ayat (2) paling rendah berpendidikan strata I di bidang hukum.

Pasal 17
(1)Penelitian hukum dilakukan terhadap permasalahan Bantuan Hukum yang terjadi di wilayah Pemberi Bantuan Hukum.
(2)Penelitian hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) di lakukan dengan menggunakan metode penelitian hukum.
(3)Anggota panitia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (3) harus mengajukan proposal penelitian hukum kepada Pemberi Bantuan Hukum untuk melakukan penelitian hukum.
(4)Formulir proposal penelitian hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

Bagian Keenam
Mediasi

Pasal 18
(1)Mediasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (2) huruf e dilaksanakan berdasarkan kesepakatan para pihak untuk masalah hukum perdata atau tata usaha negara.
(2)Mediasi dilaksanakan paling banyak 4 (empat) kali pertemuan.
(3)Setiap pertemuan mediasi harus dibuat berita acara mediasi yang ditandatangani para pihak.
(4)Dalam hal pertemuan mediasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) telah selesai, laporan pelaksanaan kegiatan mediasi dibuat dalam bentuk tertulis.
(5)Formulir laporan mediasi sebagaimana dimaksud pada ayat (4) tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

Bagian Ketujuh
Negosiasi

(1)Pemberdayaan masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (2) huruf g dilakukan guna meningkatkan pengetahuan hukum Penerima Bantuan Hukum untuk:
a.penanganan atau pemantauan kasus;
b.penyusunan permohonan atau gugatan; dan/atau
c.pelaporan kasus atau pendaftaran kasus.
(2)Jumlah peserta kegiatan pemberdayaan masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit 10 (sepuluh) orang.
(3)Pelaksanaan kegiatan pemberdayaan masyarakat disusun dalam sebuah laporan pelaksanaan kegiatan yang meliputi:
a.jenis keterampilan;
b.jumlah Penerima Bantuan Hukum; dan
c.jangka waktu kegiatan.
(4)Formulir laporan kegiatan pemberdayaan masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

Bagian Kesembilan
Pendampingan di luar Pengadilan

Pasal 21
(1)Pendampingan di luar pengadilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (2) huruf h dilakukan dalam bentuk advokasi kepada saksi dan/atau korban tindak pidana ke instansi/lembaga pemerintah yang terkait.
(2)Kegiatan pendampingan di luar pengadilan bagi saksi dan/atau korban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa:
a.pemberian konsultasi hukum yang mencakup informasi mengenai hak dan kewajiban saksi dan/atau korban dalam proses peradilan;
b.pendampingan saksi dan/atau korban di tingkat penyidikan, penuntutan, dan pada saat pemeriksaan dalam sidang pengadilan;
c.pendampingan saksi dan/atau korban ke unit pelayanan terpadu bagi korban yang berada di wilayahnya terutama bagi perempuan dan anak;
d.pendampingan saksi dan/atau korban ke rumah sakit atau puskesmas terdekat untuk mendapatkan visum et repertum atau perawatan kesehatan;
e.pendampingan saksi dan/atau korban dalam menanyakan perkembangan penyidikan dan persidangan kepada aparat penegak hukum;
f.pendampingan saksi dan/atau korban untuk mendapatkan pelindungan; dan/atau
g.pendampingan saksi dan/atau korban ke lembaga konseling.
(3)Setiap pendampingan di luar pengadilan dilakukan paling sedikit 4 (empat) kali untuk waktu paling lama 2 (dua) bulan.
(4)Pendampingan di luar pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak boleh mengabaikan proses hukum yang sedang berjalan.
(5)Setiap kegiatan pendampingan di luar pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus dibuat dalam berita acara yang ditandatangani oleh Penerima Bantuan Hukum dan Pemberi Bantuan Hukum.

Anggaran Bantuan Hukum untuk pendampingan di luar pengadilan dapat dilakukan pencairan dengan cara mengumpulkan paling sedikit 4 (empat) kasus kecuali pada tahap terakhir dapat dilakukan berdasarkan sisa alokasi yang ditentukan.

Bagian Kesepuluh
Drafting Dokumen Hukum

Pasal 24
(1)Drafting dokumen hukum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (2) huruf i diberikan dalam bentuk penyusunan:
a.surat gugatan;
b.surat jawaban;
c.replik;
d.duplik;
e.permohonan; dan/atau
f.dokumen hukum lain yang diperlukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2)Hasil drafting dokumen hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Penerima Bantuan Hukum paling lama 5 (lima) hari kerja terhitung sejak tanggal permintaan Bantuan Hukum diterima.
(3)Laporan pelaksanaan kegiatan drafting dokumen hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuat dalam bentuk tertulis.
(4)Formulir laporan drafting dokumen hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

Bagian Kesebelas
Pendokumentasian Hukum

Untuk dapat memberikan Bantuan Hukum, paralegal harus memenuhi syarat:
a.terdaftar pada salah satu Pemberi Bantuan Hukum yang terakreditasi;
b.telah mengikuti pelatihan paralegal yang dibuktikan dengan sertifikat pelatihan paralegal yang diselenggarakan oleh:
1.Pemberi Bantuan Hukum;
2.perguruan tinggi;
3.lembaga swadaya masyarakat yang memberikan Bantuan Hukum; atau
4.lembaga pemerintah yang menjalankan fungsinya di bidang hukum.
c.tunduk dan patuh terhadap kode etik pelayanan Bantuan Hukum paralegal yang dibuat oleh Pemberi Bantuan Hukum tempat paralegal tersebut terdaftar.

Bagian Ketiga
Dosen

Pasal 28
Untuk dapat memberikan Bantuan Hukum, dosen harus memenuhi syarat:
a.terdaftar pada salah satu Pemberi Bantuan Hukum yang terakreditasi; dan
b.berijazah sarjana di bidang hukum yang mengajar pada fakultas hukum atau fakultas syariah.

Bagian Keempat
Mahasiswa

Pasal 29
Untuk dapat memberikan Bantuan Hukum, mahasiswa harus memenuhi syarat:
a.terdaftar pada salah satu Pemberi Bantuan Hukum yang terakreditasi;
b.merupakan mahasiswa fakultas hukum atau fakultas syariah yang dibuktikan dengan kartu tanda mahasiswa yang masih berlaku;
c.telah lulus hukum acara pidana, hukum acara perdata, dan/atau hukum acara tata usaha negara yang dibuktikan dengan fotokopi transkrip nilai yang telah dilegalisir; dan
d.telah mengikuti pelatihan paralegal yang dibuktikan dengan sertifikat pelatihan paralegal yang diselenggarakan oleh:
1.Pemberi Bantuan Hukum;
2.perguruan tinggi;
3.lembaga swadaya masyarakat yang memberikan Bantuan Hukum; atau
4.lembaga pemerintah yang menjalankan fungsinya di bidang hukum.

BAB V
STANDAR PEMBERIAN BANTUAN HUKUM

Bagian Kesatu
Permohonan Bantuan Hukum

Pasal 30
(1)Permohonan Bantuan Hukum diajukan secara tertulis oleh calon Penerima Bantuan Hukum kepada Pemberi Bantuan Hukum dengan mengisi formulir yang disediakan oleh Pemberi Bantuan Hukum.
(2)Permohonan Bantuan Hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memuat:
a.identitas Pemohon Bantuan Hukum; dan
b.uraian singkat mengenai pokok persoalan yang dimintakan Bantuan Hukum.
(3)Permohonan Bantuan Hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus disampaikan oleh calon Penerima Bantuan Hukum secara langsung ke kantor Pemberi Bantuan Hukum pada hari kerja dan jam kerja.
(4)Dalam hal calon Penerima Bantuan Hukum tidak dapat datang langsung ke kantor Pemberi Bantuan Hukum, permohonan Bantuan Hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat disampaikan oleh keluarga atau pihak lain dengan melampirkan surat kuasa.

Pasal 31
(1)Permohonan Bantuan Hukum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30, harus melampirkan:
a.fotokopi Kartu Tanda Penduduk atau dokumen lain yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang;
b.surat keterangan miskin dari lurah, kepala desa, atau nama lainnya di tempat tinggal pemohon Bantuan Hukum; dan
c.dokumen yang berkenaan dengan perkara.
(2)Dokumen yang berkenaan dengan perkara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c sesuai dengan tahapan proses beracara berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3)Dalam hal pemohon Bantuan Hukum tidak memiliki identitas, Pemberi Bantuan Hukum membantu pemohon Bantuan Hukum dalam memperoleh surat keterangan alamat sementara dan/atau dokumen lainnya dari instansi yang berwenang sesuai domisili Pemberi Bantuan Hukum.
(4)Surat keterangan alamat sementara dan/atau dokumen lain sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus diketahui oleh lurah, kepala desa, atau nama lainnya di tempat tinggal Pemberi Bantuan Hukum.

Pasal 32
(1)Pemberi Bantuan Hukum melakukan pemeriksaan terhadap permohonan Bantuan Hukum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 dengan mendengarkan uraian dan menganalisis dokumen yang diberikan calon Penerima Bantuan Hukum.
(2)Pemberi Bantuan Hukum setelah melakukan analisis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberikan penjelasan tentang masalah hukum beserta resiko yang mungkin dihadapi kepada Penerima Bantuan Hukum.

Pasal 33
(1)Pemberi Bantuan Hukum memberikan keputusan mengabulkan atau menolak permohonan Bantuan Hukum dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) hari terhitung sejak tanggal permohonan diajukan oleh calon Penerima Bantuan Hukum.
(2)Keputusan menolak permohonan Bantuan Hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus berdasarkan alasan:
a.tidak sesuai dengan visi dan misi Pemberi Bantuan Hukum;
b.persyaratan untuk menerima Bantuan Hukum tidak terpenuhi; dan
c.dalam perkara perdata, kerugian materiil lebih sedikit daripada biaya penyelesaian perkara.
(3)Dalam hal Pemberi Bantuan Hukum menolak permohonan, calon Penerima Bantuan Hukum dapat mengajukan keberatan kepada Panitia Pengawas Daerah.

Bagian Kedua
Pelaksanaan Bantuan Hukum dalam Penanganan Kasus

Pasal 34
(1)Dalam memberikan Bantuan Hukum, Pemberi Bantuan Hukum wajib mengumumkan hal-hal sebagai berikut:
a.dasar hukum;
b.jam pelayanan;
c.personalia dan struktur organisasi; dan
d.jenis layanan.
(2)Pemberi Bantuan Hukum wajib menyediakan petugas yang kompeten dan menyediakan sarana pelayanan yang memadai.

Pasal 35
(1)Pemberi Bantuan Hukum hanya boleh memberikan Bantuan Hukum kepada 1 (satu) pihak untuk 1 (satu) kasus, kecuali mediasi.
(2)Dalam hal Bantuan Hukum yang diberikan dalam 1 (satu) kasus terdapat lebih dari 1 (satu) pihak, Pemberi Bantuan Hukum wajib memberikan informasi atau rujukan kepada Pemberi Bantuan Hukum yang lain.

Pasal 36
(1)Dalam hal Penerima Bantuan Hukum mendapatkan pelayanan Bantuan Hukum yang tidak sesuai dengan standar pemberian Bantuan Hukum, Penerima Bantuan Hukum dapat melaporkan Pemberi Bantuan Hukum kepada Panitia Pengawas Daerah, dan/atau unit kerja pada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia atau Kantor Wilayah.
(2)Dalam hal Pemberi Bantuan Hukum masih menerapkan pelayanan Bantuan Hukum yang tidak sesuai dengan standar pemberian Bantuan Hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Penerima Bantuan Hukum mengajukan permohonan kepada Menteri untuk menunjuk Pemberi Bantuan Hukum lain.

BAB VI
ANGGARAN BANTUAN HUKUM

Bagian Kesatu
Umum

Pasal 37
(1)Anggaran Bantuan Hukum diberikan untuk kegiatan litigasi dan nonlitigasi.
(2)Besaran anggaran Bantuan Hukum ditentukan oleh Menteri sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai standar biaya.

Bagian Kedua
Tata Cara Pengajuan Rencana Anggaran Bantuan Hukum

Pasal 38
Pemberi Bantuan Hukum mengajukan rencana anggaran Bantuan Hukum secara tertulis kepada Menteri melalui Kepala Badan Pembinaan Hukum Nasional.

Pasal 39
Pengajuan rencana anggaran Bantuan Hukum dilakukan dengan mengisi formulir proposal pengajuan anggaran yang paling sedikit memuat:
a.identitas Pemberi Bantuan Hukum;
b.nama program;
c.tujuan program;
d.deskripsi program;
e.target pelaksanaan;
f.output yang diharapkan;
g.jadwal pelaksanaan; dan
h.rincian biaya program.

Pasal 40
Pengajuan rencana anggaran Bantuan Hukum dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 41
Formulir proposal pengajuan anggaran Bantuan Hukum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

Bagian Ketiga
Tata Cara Pelaksanaan Penyaluran Anggaran Bantuan Hukum

Pasal 42
(1)Penyaluran anggaran Bantuan Hukum meliputi tahapan:
a.pengajuan permohonan;
b.persetujuan permohonan; dan
c.pencairan anggaran penanganan perkara dan/atau kegiatan.
(2)Pemberi Bantuan Hukum mengajukan permohonan pencairan anggaran penanganan perkara dan/atau kegiatan kepada Menteri melalui Kepala Kantor Wilayah disertai dokumen yang disyaratkan.
(3)Kepala Kantor Wilayah memeriksa permohonan pencairan anggaran dan dokumen yang disyaratkan sebagaimana dimaksud pada ayat (2).
(4)Kepala Kantor Wilayah dalam jangka waktu paling lama 5 (lima) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya surat permohonan dan dokumen yang disyaratkan secara lengkap, wajib memberikan jawaban atas hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kepada Pemberi Bantuan Hukum.
(5)Kepala Kantor Wilayah menyampaikan permintaan pencairan anggaran kepada Menteri melalui Kepala Badan Pembinaan Hukum Nasional dengan tembusan kepada Pemberi Bantuan Hukum berdasarkan jawaban hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) hari kerja terhitung sejak tanggal penyampaian jawaban atas hasil pemeriksaan.
(6)Penyampaian jawaban dan permintaan pencairan anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5) dilakukan melalui:
a.pos;
b.faksimile; dan/atau
c.surat elektronik lainnya.

Pasal 43
(1)Dokumen yang disyaratkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (2) untuk Bantuan Hukum litigasi meliputi:
a.bukti penanganan perkara;
b.kuitansi pembayaran pengeluaran;
c.laporan keuangan penanganan kasus; dan
d.dokumentasi.
(2)Bukti penangan perkara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a untuk perkara pidana disesuaikan dengan tahapan pemeriksaan berupa:
a.surat kuasa;
b.bukti dan saksi pendukung sebagai seorang tersangka atau terdakwa;
c.pendapat hukum (legal opinion);
d.eksepsi atau keberatan;
e.pledoi atau pembelaan;
f.duplik;
g.memori banding atau kontra memori banding;
h.memori kasasi atau kontra memori kasasi; dan/atau
i.memori peninjauan kembali atau kontra memori peninjauan kembali.
(3)Bukti penanganan perkara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a untuk perkara perdata disesuaikan dengan tahapan pemeriksaan berupa:
a.surat kuasa;
b.pendapat hukum (legal opinion);
c.somasi;
d.gugatan atau jawaban gugatan;
e.tawaran mediasi atau jawaban;
f.eksepsi atau replik;
g.kesimpulan;
h.memori banding atau kontra memori banding;
i.memori kasasi atau kontra memori kasasi; dan/atau
j.memori peninjauan kembali/kontra memori peninjauan kembali.
(4)Bukti penanganan perkara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a untuk perkara tata usaha negara disesuaikan dengan tahapan pemeriksaan berupa:
a.surat kuasa;
b.pendapat hukum (legal opinion);
c.somasi;
d.gugatan atau jawaban gugatan;
e.eksepsi atau replik;
f.kesimpulan;
g.memori banding atau kontra memori banding;
h.memori kasasi atau kontra memori kasasi; dan/atau
i.memori peninjauan kembali atau kontra memori peninjauan kembali.

Pasal 44
Dokumen hukum yang disyaratkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (2) untuk Bantuan Hukum non litigasi meliputi:
a.surat kuasa;
b.pendapat hukum (legal opinion);
c.pelaporan atau pengaduan;
d.somasi atau teguran;
e.surat hearing atau audiensi;
f.tawaran mediasi; dan
g.akta perdamaian.

Pasal 45
Menteri melalui Kepala Badan Pembinaan Hukum Nasional mencairkan anggaran penanganan perkara dan/atau kegiatan setelah menerima permintaan anggaran dari Kepala Kantor Wilayah.

BAB VII
STANDAR PELAPORAN PENGELOLAAN ANGGARAN

Pasal 46
(1)Pemberi Bantuan Hukum menyampaikan laporan pengelolaan anggaran program Bantuan Hukum kepada Menteri melalui Kepala Badan Pembinaan Hukum Nasional secara triwulanan, semesteran, dan tahunan.
(2)Laporan pengelolaan anggaran Bantuan Hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan bentuk pertanggungjawaban keuangan dan kinerja atas pengelolaan anggaran pelaksanaan Bantuan Hukum, baik yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau sumber lainnya yang sah.
(3)Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a.laporan realisasi anggaran Bantuan Hukum;
b.laporan posisi keuangan program Bantuan Hukum;
c.laporan kinerja pelaksanaan Bantuan Hukum; dan
d.catatan atas laporan pengelolaan anggaran program Bantuan Hukum.

Pasal 47
(1)Penyusunan laporan pengelolaan anggaran program Bantuan Hukum dengan menggunakan pembukuan akuntansi paling sedikit:
a.jurnal;
b.buku besar; dan
c.buku pengawasan kredit anggaran.
(2)Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihasilkan dari sistem pelaporan pengelolaan anggaran dan kinerja Bantuan Hukum yang dikeluarkan dan dikelola oleh Menteri.
(3)Dalam hal sistem pelaporan pengelolaan anggaran dan kinerja Bantuan Hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (2) belum tersedia, Pemberi Bantuan Hukum menyusun dan menyampaikan laporan pengelolaan anggaran program Bantuan Hukum secara manual kepada Panitia Pengawas Daerah.
(4)Formulir laporan pengelolaan anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

Pasal 48
(1)Panitia Pengawas Daerah memeriksa laporan pengelolaan anggaran program Bantuan Hukum.
(2)Hasil pemeriksaan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Menteri dalam jangka waktu paling lama 10 (sepuluh) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya laporan.

BAB VIII
PEMANTAUAN DAN EVALUASI

Pasal 49
(1)Menteri melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan pemberian Bantuan Hukum.
(2)Pemantauan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara berkala dan secara insidental.
(3)Pemantauan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan terhadap:
a.penerapan standar Bantuan Hukum litigasi dan nonlitigasi;
b.penerapan standar bagi Pemberi Bantuan Hukum dan Penerima Bantuan Hukum; dan
c.kepatuhan pelaporan penyaluran anggaran sesuai dengan standar pelaporan keuangan.
(4)Pemantauan terhadap pelaksanaan pemberian Bantuan Hukum di daerah dilaksanakan oleh Kantor Wilayah.

Pasal 50
(1)Pemberi Bantuan Hukum wajib menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan pemberian Bantuan Hukum kepada Menteri.
(2)Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Menteri dalam jangka waktu paling lambat tanggal 15 Desember tahun berjalan dengan tembusan kepada Kepala Kantor Wilayah.

Pasal 51
(1)Menteri melakukan evaluasi pelaksanaan kegiatan Bantuan Hukum.
(2)Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan terhadap:
a.penerapan standar Bantuan Hukum litigasi dan nonlitigasi;
b.penerapan standar bagi Pemberi Bantuan Hukum dan Penerima Bantuan Hukum; dan
c.kepatuhan pelaporan penyaluran anggaran sesuai dengan standar pelaporan keuangan.
(3)Evaluasi pelaksanaan kegiatan Bantuan Hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk menilai pencapaian pelaksanaan kegiatan Bantuan Hukum yang dilakukan oleh Pemberi Bantuan Hukum.

BAB IX
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 52
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 20 Juni 2013
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,

AMIR SYAMSUDIN
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 27 Juni 2013
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,

AMIR SYAMSUDIN

[tulis] » komentar « [baca]