BAB I
KETENTUAN UMUM

Pemberian kemudahan kepada Peternak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) meliputi:
a.pengaksesan sumber pembiayaan, permodalan, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta informasi;
b.pelayanan Peternakan, pelayanan Kesehatan Hewan, dan bantuan teknik;
c.penghindaran pengenaan biaya yang menimbulkan ekonomi biaya tinggi;
d.pembinaan kemitraan dalam meningkatkan sinergi antarpelaku usaha;
e.penciptaan iklim usaha yang kondusif dan/atau me peningkatan kewirausahaan;
f.pengutamaan pemanfaatan sumber daya Peternakan dan Kesehatan Hewan dalam negeri;
g.pemfasilitasan terbentuknya kawasan pengembangan Usaha Peternakan;
h.pemfasilitasan pelaksanaan promosi dan pemasaran; dan/atau
i.perlindungan harga dan Produk Hewan dari luar negeri.

BAB II
AKSES SUMBER PEMBIAYAAN, PERMODALAN,
ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI, SERTA INFORMASI

Bagian Kesatu
Akses Sumber Pembiayaan dan Permodalan

Pasal 4
(1)Sumber pembiayaan dan permodalan untuk Pemberdayaan Peternak dapat berasal dari Pemerintah dan pemerintah daerah.
(2)Selain berasal dari Pemerintah dan pemerintah daerah, sumber pembiayaan dan permodalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berasal dari masyarakat, lembaga perbankan, dan lembaga keuangan bukan bank, serta badan usaha lainnya.

(1)Ilmu pengetahuan dan teknologi dalam rangka Pemberdayaan Peternak paling sedikit meliputi:
a.benih/bibit;
b.pakan;
c.alat dan mesin;
d.budidaya;
e.panen dan pascapanen;
f.pengolahan dan pemasaran hasil;
g.Kesehatan Hewan; dan/atau
h.kesehatan masyarakat veteriner.
(2)Ilmu pengetahuan dan teknologi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diutamakan yang berasal dari hasil penelitian dan pengembangan dalam negeri.
(3)Hasil penelitian dan pengembangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berupa invensi atau inovasi.
(4)Menteri, gubernur, dan bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya mendorong dan mendukung kegiatan penelitian dan pengembangan bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Pasal 7
(1)Menteri, gubernur, dan bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya harus memberikan kemudahan akses ilmu pengetahuan dan teknologi melalui:
a.penyediaan teknologi tepat guna dalam berbagai metode, media, dan saluran informasi;
b.pendampingan dalam proses alih teknologi;
c.penyuluhan; dan/atau
d.pendidikan dan pelatihan.
(2)Penyuluhan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dilakukan oleh penyuluh sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang sistem penyuluhan pertanian, kehutanan, dan perikanan.

Pasal 8
Pemberian kemudahan akses terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) huruf a dan huruf b berupa invensi atau inovasi yang dilindungi dengan hak kekayaan intelektual harus dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Bagian Ketiga
Akses Informasi

Pelayanan Peternakan terdiri atas:
a.penyediaan dan pengelolaan lahan penggembalaan umum;
b.penyediaan benih/bibit unggul;
c.penyelamatan Ternak ruminansia betina produktif; dan
d.penyediaan pos inseminasi buatan.

Pasal 11
Pelayanan Kesehatan Hewan terdiri atas:
a.pemeriksaan kebuntingan;
b.pengamatan dan pengidentifikasian penyakit;
c.pengamanan penyakit Hewan;
d.pengobatan Hewan sakit; dan
e.pemberantasan penyakit Hewan.

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian pelayanan Peternakan dan pelayanan Kesehatan Hewan diatur dengan Peraturan Menteri.

Bagian Kedua
Bantuan Teknik

Pasal 14
Dalam rangka bantuan teknik, Menteri, gubernur, dan bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya memberikan:
a.supervisi dan pendampingan dalam menggunakan alat dan mesin Peternakan dan Kesehatan Hewan;
b.supervisi dalam penerapan sistem budidaya yang lebih efisien dan ramah lingkungan; dan
c.sarana produksi Peternakan dan Kesehatan Hewan dalam meningkatkan kemandirian dan daya saing usaha.

Penghindaran pengenaan ekonomi biaya tinggi dilakukan melalui efisiensi dalam kegiatan penyediaan sarana produksi, budidaya, pascapanen, dan pemasaran atau distribusi Hewan dan Produk Hewan.

Pasal 17
(1)Dalam melakukan penghindaran pengenaan ekonomi biaya tinggi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16, Menteri, menteri/pimpinan lembaga pemerintah nonkementerian terkait, gubernur, dan bupati/walikota wajib memberikan kemudahan yang terkait dengan:
a.kebijakan;
b.perdagangan; dan
c.prasarana dan sarana.
(2)Dalam memberikan kemudahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Menteri, menteri/pimpinan lembaga pemerintah nonkementerian terkait, gubernur, dan bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya menyediakan fasilitas untuk:
a.budidaya Ternak yang baik;
b.kegiatan panen dan pascapanen hasil Ternak melalui penyediaan rumah potong Hewan, industri pengolahan susu, daging, dan telur;
c.kegiatan distribusi dan pemasaran hasil Ternak melalui penyediaan alat angkut, pasar Hewan, tempat pengumpul Ternak, dan instalasi pendingin; dan
d.penyimpanan Produk Hewan dan pakan melalui penyediaan gudang dan/atau gudang pendingin.

Pasal 18
(1)Ketentuan lebih lanjut mengenai syarat dan tata cara penyediaan fasilitas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) yang berkaitan dengan budidaya dan pascapanen Peternakan diatur dengan Peraturan Menteri.
(2)Ketentuan lebih lanjut mengenai syarat dan tata cara penyediaan fasilitas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) selain yang berkaitan dengan budidaya dan pascapanen Peternakan dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

BAB V
PEMBINAAN KEMITRAAN DALAM MENINGKATKAN SINERGI
ANTARPELAKU USAHA

(1)Kemitraan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 harus dibuat dalam bentuk perjanjian tertulis.
(2)Perjanjian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memuat:
a.harga dasar sarana produksi dan/atau harga jual Ternak serta Produk Hewan atau pembagian dalam bentuk natura;
b.jaminan pemasaran;
c.pembagian keuntungan dan risiko usaha;
d.penetapan standar mutu sarana produksi, Ternak, dan Produk Hewan; dan
e.mekanisme pembayaran.
(3)Mekanisme pembayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf e dilakukan untuk memberikan jaminan hak pembayaran.

Pasal 21
(1)Dalam melakukan kemitraan, Perusahaan Peternakan harus melaksanakan:
a.pendidikan;
b.pelatihan;
c.penyuluhan; dan/atau
d.proses alih teknologi.
(2)Dalam melakukan kemitraan, Peternak harus mengikuti pendidikan dan pelatihan, pemagangan, dan/atau penyuluhan yang dilaksanakan oleh Perusahaan Peternakan, serta menerapkan teknologi yang diberikan Perusahaan Peternakan.

Iklim usaha yang kondusif bagi Peternak meliputi:
a.kepastian berusaha;
b.kemudahan dalam pelayanan pendaftaran Usaha Peternakan;
c.tidak adanya praktik persaingan usaha yang tidak sehat; dan
d.terpeliharanya status Kesehatan Hewan yang baik.

Pasal 24
Untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23:
a.Menteri menetapkan tempat pemasukan sarana produksi, Ternak, dan Produk Hewan dari luar negeri untuk melindungi sumber daya dan budidaya Ternak dari berbagai penyakit Hewan akibat lalu lintas Hewan dan Produk Hewan sesuai dengan kemampuan tindakan karantina, perlindungan sumber daya, dan budidaya; dan
b.Menteri, gubernur, dan bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya menetapkan program Pemberdayaan Peternak, kompensasi bagi Hewan sehat yang berdasarkan pedoman pemberantasan wabah penyakit Hewan harus didepopulasi untuk memutus rantai penyebaran penyakit Hewan, dan memfasilitasi Peternak untuk melakukan diversifikasi usaha.

Bagian Kedua
Peningkatan Kewirausahaan

(1)Kelembagaan Peternak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 huruf c terdiri atas:
a.kelembagaan usaha; dan
b.kelembagaan nirlaba.
(2)Kelembagaan usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri atas:
a.kelompok Peternak;
b.gabungan kelompok Peternak; dan
c.badan usaha milik Peternak.
(3)Kelembagaan nirlaba sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b terdiri atas asosiasi.

Pasal 28
Fasilitasi pengembangan kelembagaan Peternak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 huruf c dapat berbentuk bimbingan penyusunan:
a.anggaran dasar dan anggaran rumah tangga kelompok Peternak, gabungan kelompok Peternak, dan badan usaha milik Peternak; dan
b.rencana kegiatan atau rencana kegiatan kelompok.

Pasal 29
(1)Kelompok Peternak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (2) huruf a dibentuk atas dasar jenis komoditas, kesamaan kepentingan, dan kondisi lingkungan.
(2)Kelompok Peternak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibentuk oleh, dari, dan untuk Peternak.

Pasal 30
Kelompok Peternak menyelenggarakan fungsi:
a.peningkatan kemampuan anggota dalam mengembangkan Usaha Peternakan yang mandiri dan berkelanjutan;
b.penampungan dan penyaluran aspirasi anggota; dan
c.penyelesaian permasalahan yang timbul di antara anggota.

Pasal 31
Gabungan kelompok Peternak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (2) huruf b merupakan gabungan dari dua atau lebih kelompok Peternak dalam satu atau beberapa desa, dalam satu atau beberapa kecamatan, atau dalam satu kabupaten yang menjadi anggota gabungan kelompok Peternak.

Pasal 32
Gabungan kelompok Peternak melakukan:
a.kegiatan untuk kepentingan anggota dalam mengembangkan Kemitraan Usaha;
b.penampungan dan penyaluran aspirasi anggota; dan
c.penyelesaian permasalahan yang timbul di antara anggota.

Pasal 33
(1)Badan usaha milik Peternak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (2) huruf c dibentuk oleh, dari, dan untuk Peternak.
(2)Badan usaha milik Peternak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus melakukan:
a.penyusunan rencana usaha yang layak secara ekonomi dan perbankan;
b.diversifikasi usaha; dan
c.Kemitraan Usaha.

Pasal 34
(1)Asosiasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (3) dibentuk oleh, dari, dan untuk Peternak.
(2)Asosiasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berfungsi untuk:
a.memperjuangkan kepentingan anggota;
b.memberikan masukan kepada Pemerintah dan pemerintah daerah dalam perumusan kebijakan pemberdayaan Usaha Peternakan;
c.mempromosikan usaha anggota; dan
d.mengadvokasi pelaksanaan kewirausahaan.

Pasal 35
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara peningkatan kewirausahaan diatur dengan Peraturan Menteri.

BAB VII
PEMANFAATAN SUMBER DAYA DALAM NEGERI

Pasal 36
Sumber daya dalam Usaha Peternakan meliputi:
a.sumber daya alam; dan
b.sumber daya manusia.

Pasal 37
(1)Sumber daya alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 huruf a meliputi:
a.lahan;
b.sumber daya genetik Hewan;
c.benih dan bibit Ternak;
d.pakan hijauan; dan
e.sumber daya air.
(2)Dalam memanfaatkan benih, bibit, dan pakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dan huruf d diutamakan menggunakan benih, bibit, dan pakan yang dihasilkan dari:
a.teknologi yang ditemukan oleh bangsa Indonesia; dan
b.usaha yang dilakukan dengan modal dalam negeri.

Pasal 38
Sumber daya manusia dalam bidang Peternakan diutamakan bagi warga negara Indonesia yang memiliki kompetensi di bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

BAB VIII
KAWASAN USAHA PETERNAKAN

Pasal 39
(1)Dalam Pemberdayaan Peternak diperlukan adanya kawasan Usaha Peternakan untuk menjamin kepastian usaha budidaya Ternak.
(2)Kawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan paling sedikit:
a.bebas dari patogen yang berbahaya bagi Ternak dan manusia yang mengkonsumsi Produk Hewan;
b.tersedia sumber daya air dan pakan yang memadai;
c.tersedia prasarana berupa jalan, jembatan, pasar Hewan, dan/atau embung; dan
d.sesuai dengan peraturan perundang-undangan di bidang tata ruang dan di bidang perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan.
(3)Kawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan bagian dari kawasan agropolitan.

Pasal 40
Prasarana berupa jalan, jembatan, pasar Hewan, dan/atau embung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 ayat (2) huruf c wajib disediakan oleh pemerintah kabupaten/kota.

Pasal 41
Kawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 dapat digunakan untuk:
a.lahan penggembalaan umum;
b.kegiatan usaha budidaya Ternak;
c.penghasil tumbuhan pakan;
d.tempat perkawinan alami, seleksi, kastrasi, dan pelayanan inseminasi buatan;
e.tempat pelayanan Kesehatan Hewan; dan/atau
f.tempat atau objek penelitian dan pengembangan teknologi Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Pasal 42
(1)Pemerintah kabupaten/kota menetapkan suatu lokasi sebagai kawasan Usaha Peternakan.
(2)Dalam hal belum terdapat kawasan Usaha Peternakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), untuk pengembangan usaha budidaya Ternak ruminansia skala kecil, pemerintah kabupaten/kota wajib menetapkan lahan penggembalaan umum.
(3)Pengelolaan lahan penggembalaan umum sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri.

BAB IX
PROMOSI DAN PEMASARAN

Pasal 43
Menteri, gubernur, dan bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya memfasilitasi promosi dan pemasaran Ternak dan Produk Hewan melalui:
a.pembangunan dan pengelolaan pasar Hewan dan pasar Produk Hewan yang memenuhi higiene dan sanitasi serta ketertiban umum;
b.pengembangan pasar bagi badan usaha milik Peternak;
c.pengembangan sistem pemasaran dan promosi hasil Peternakan;
d.penyediaan sistem informasi pasar hewan; dan
e.pemberian kewajiban kepada pasar modern untuk mengutamakan penjualan Produk Hewan dalam negeri.

BAB X
PERLINDUNGAN HARGA TERNAK DAN PRODUK HEWAN

Bagian Kesatu
Perlindungan Harga Ternak

Pasal 44
(1)Perlindungan harga Ternak dilakukan melalui:
a.penetapan jumlah Ternak, jenis Ternak, dan klasifikasi Ternak yang dapat dimasukkan dari luar negeri;
b.pengklasifikasian Ternak bibit dan Ternak bukan bibit;
c.penetapan harga dasar Ternak bibit dan harga dasar Ternak bukan bibit; dan
d.pemberian kemudahan kepada Peternak untuk menjual Ternak bibit ke seluruh wilayah negara Republik Indonesia.
(2)Harga dasar Ternak bibit ditetapkan sesuai dengan nilai mutu genetik dan harga dasar Ternak bukan bibit ditetapkan berdasarkan berat badan Ternak.
(3)Perlindungan harga Ternak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Menteri, gubernur, dan bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
(4)Penetapan jumlah jenis dan klasifikasi Ternak yang dapat dimasukkan dari luar negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilakukan oleh Menteri melalui koordinasi dengan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perdagangan.
(5)Pengklasifikasian Ternak bibit dan Ternak bukan bibit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf bdilakukan oleh Menteri.
(6)Pemberian kemudahan kepada Peternak untuk menjual Ternak bibit ke seluruh wilayah negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d dilakukan oleh gubernur.

Bagian Kedua
Perlindungan Harga Produk Hewan

Pasal 45
(1)Perlindungan harga Produk Hewan dilakukan melalui:
a.penetapan jumlah dan jenis Produk Hewan yang dapat dimasukkan dari luar negeri serta unit usaha di negara asal;
b.pengaturan mengenai penyerapan Produk Hewan dalam negeri bagi pemasok Produk Hewan dari luar negeri; dan
c.pemberian jaminan halal bagi Produk Hewan yang dipersyaratkan, aman, sehat, dan utuh.
(2)Penetapan jumlah dan jenis Produk Hewan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a harus memperhatikan ketersediaan Produk Hewan yang dihasilkan di dalam negeri dan kebutuhan Produk Hewan dalam negeri.
(3)Penetapan jumlah dan jenis Produk Hewan dan pengaturan mengenai penyerapan Produk Hewan di dalam negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilakukan oleh Menteri melalui koordinasi dengan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perdagangan.
(4)Pengawasan pemberian jaminan halal bagi Produk Hewan yang dipersyaratkan, aman, sehat, dan utuh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dilakukan oleh Menteri.

Pasal 46
Menteri, gubernur, dan bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya melakukan perlindungan harga Produk Hewan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45.

BAB XI
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 47
Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku, ketentuan mengenai Usaha Peternakan yang tidak memerlukan izin dalam Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1977 tentang Usaha Peternakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1977 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3102), dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 48
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 2 Januari 2013
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DR.H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 2 Januari 2013
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,

AMIR SYAMSUDIN



TAMBAHAN
LEMBARAN NEGARA RI



Pasal 1
Cukup jelas

Pasal 2
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan "skala usaha tertentu" yaitu skala usaha berdasarkan jenis dan jumlah ternak yang diusahakan dan ditetapkan dalam Peraturan Menteri.
Ayat (2)
Cukup jelas

Pasal 3
Huruf a
Yang dimaksud dengan "pembiayaan" adalah dana yang dipergunakan untuk membiayai Pemberdayaan Peternak.
Huruf b
Cukup jelas
Huruf c
Cukup jelas
Huruf d
Cukup jelas
Huruf e
Cukup jelas
Huruf f
Cukup jelas
Huruf g
Cukup jelas
Huruf h
Cukup jelas
Huruf i
Cukup jelas.

Pasal 4
Cukup jelas

Pasal 5
Ayat (1)
Bantuan pembiayaan atau permodalan diberikan kepada Peternak yang melakukan Usaha Peternakan agar usahanya lebih berkembang, bertambah maju, dan berdaya saing.
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Bantuan pembiayaan atau permodalan dapat berupa dana bergulir, kemudahan memperoleh kredit dengan memberikan subsidi bunga kredit, dan bantuan sosial.
Ayat (4)
Cukup jelas

Pasal 6
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas
Huruf b
Cukup jelas
Huruf c
Cukup jelas
Huruf d
Cukup jelas
Huruf e
Cukup jelas
Huruf f
Cukup jelas
Huruf g
Cukup jelas
Huruf h
Yang dimaksud dengan "kesehatan masyarakat veteriner" adalah segala urusan yang berhubungan dengan Hewan dan Produk Hewan yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi kesehatan manusia.
Ayat (2)
Ilmu pengetahuan dan teknologi dalam negeri dapat berasal dari:
a.lembaga penelitian dan pengembangan Pemerintah atau pemerintah daerah;
b.lembaga pendidikan; dan/atau
c.perorangan maupun lembaga swadaya masyarakat tanpa menutup kemungkinan menerima invensi dan inovasi dari luar negeri yang tidak merugikan kepentingan nasional.
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas

Pasal 7
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas
Huruf b
Yang dimaksud dengan "pendampingan" adalah kegiatan yang dilakukan secara berkelanjutan oleh penyuluh, akademisi, peneliti, dan/atau pihak lain yang mempunyai kompetensi untuk membantu Peternak di dalam mengimplementasikan atau mengadopsi teknologi inovatif yang akan dikembangkan.
Huruf c
Cukup jelas
Huruf d
Cukup jelas
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan "penyuluh" yaitu penyuluh pegawai negeri sipil, penyuluh swasta, dan penyuluh swadaya.

Pasal 8
Cukup jelas

Pasal 9
Cukup jelas

Pasal 10
Cukup jelas

Pasal 11
Huruf a
Cukup jelas
Huruf b
Cukup jelas
Huruf c
Cukup jelas
Huruf d
Cukup jelas
Huruf e
Pemberantasan penyakit Hewan diprioritaskan untuk penyakit Hewan menular strategis misalnya penyakit zoonosis.

Pasal 12
Cukup jelas

Pasal 13
Cukup jelas

Pasal 14
Huruf a
Cukup jelas
Huruf b
"Sistem budidaya yang lebih efisien dan ramah lingkungan" dalam ketentuan ini misalnya pengembangan Ternak pola integrasi tanaman Ternak dengan pendekatan nirlimbah (zero waste).
Contoh yang telah dikembangkan: integrasi Peternakan sapi di perkebunan sawit.
Huruf c
Cukup jelas.

Pasal 15
Cukup jelas

Pasal 16
"Sarana produksi" dalam ketentuan ini misalnya benih/bibit Ternak, pakan, alat dan mesin, dan obat Hewan.
Yang dimaksud dengan "pascapanen" adalah usaha untuk memperpanjang daya simpan Produk Hewan dengan maksud untuk meningkatkan kualitas dan nilai produk.

Pasal 17
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas
Huruf b
Cukup jelas
Huruf c
Yang dimaksud dengan "prasarana" antara lain jalan atau jembatan yang menghubungkan antara lokasi Peternakan dengan jalan umum, rumah potong Hewan, fasilitas bongkar muat dan penampungan Ternak di pelabuhan, dan instalasi karantina Hewan.
Yang dimaksud dengan "sarana" antara lain alat angkut pakan, Ternak/Hewan, dan Produk Hewan, alat dan mesin Peternakan dan Kesehatan Hewan, benih dan bibit Ternak, serta pakan dan obat Hewan.
Ayat (2)
Huruf a
Yang dimaksud dengan "fasilitas untuk budidaya" adalah penyediaan fasilitas untuk perkembangbiakan, pembesaran, penggemukan sesuai dengan tata cara budidaya yang baik, sering disebut dengan istilah good farming practices.
Huruf b
Yang dimaksud dengan "rumah potong Hewan" yaitu rumah potong untuk unggas, ruminansia besar, ruminansia kecil,babi, dan aneka Ternak.
Huruf c
Cukup jelas
Huruf d
Cukup jelas.

Pasal 18
Cukup jelas

Pasal 19
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas
Huruf b
Cukup jelas
Huruf c
Yang dimaksud dengan "perusahaan di bidang lain" adalah perusahaan yang bergerak di sektor hulu, misalnya usaha pembibitan, atau di sektor hilir misalnya pengolahan hasil Ternak seperti industri pengolahan susu.
Di samping itu kemitraan dapat juga dilakukan antara Peternak dengan perusahaan di bidang Kesehatan Hewan, perkebunan, perikanan, dan kehutanan.
Ayat (2)
Huruf a
Yang dimaksud dengan "bagi hasil" adalah pola kemitraan di mana keuntungan yang diperoleh didasarkan pada prosentase yang disepakati bersama, misalnya kontrak farming, sumba kontrak, gaduhan, dan marobati.
Huruf b
Yang dimaksud dengan "sewa" adalah pola kemitraan di mana salah satu pihak menyewakan lahan, kandang, dan/atau ternak kepada pihak penyewa.
Huruf c
Yang dimaksud dengan "inti plasma" adalah pola kemitraan di mana pihak inti menyediakan Ternak dan/atau sarana produksi untuk pihak plasma dengan pembagian keuntungan berdasarkan kesepakatan.

Pasal 20
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Huruf a
Yang dimaksud dengan "natura" adalah Ternak atau Produk Hewan.
Huruf b
Cukup jelas
Huruf c
Cukup jelas
Huruf d
Cukup jelas
Huruf e
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas

Pasal 21
Cukup jelas

Pasal 22
Cukup jelas

Pasal 23
Cukup jelas

Pasal 24
Huruf a
Yang dimaksud dengan "lalu lintas Hewan dan Produk Hewan" adalah pengangkutan Hewan dan Produk Hewan dalam hubungan antarnegara (pemasukan dan pengeluaran).
Huruf b
Cukup jelas

Pasal 25
Cukup jelas

Pasal 26
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas
Huruf b
Yang dimaksud dengan "programa penyuluhan" adalah rencana tertulis yang disusun secara sistematis untuk memberikan arah dan pedoman sebagai alat pengendali pencapaian tujuan penyuluhan.
Ayat (2)
Cukup jelas

Pasal 27
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas
Huruf b
Yang dimaksud dengan "kelembagaan nirlaba" adalah kelembagaan Peternak yang tidak semata-mata bertujuan mencari laba (keuntungan finansial), misalnya asosiasi Peternakan.
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas

Pasal 28
Cukup jelas

Pasal 29
Ayat (1)
Kelompok Peternak berdasarkan jenis komoditas, misalnya kelompok Peternak unggas, kelompok Peternak sapi potong, dan kelompok Peternak sapi perah.
Ayat (2)
Cukup jelas

Pasal 30
Cukup jelas

Pasal 31
Cukup jelas

Pasal 32
Cukup jelas

Pasal 33
Cukup jelas

Pasal 34
Cukup jelas.

Pasal 35
Cukup jelas

Pasal 36
Cukup jelas

Pasal 37
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Huruf a
Yang dimaksud dengan "teknologi yang ditemukan oleh bangsa Indonesia" adalah teknologi tepat guna dengan memperhatikan budaya lokal dan pengetahuan tradisional dalam pengelolaan benih, bibit, dan pakan sesuai dengan kondisi agroekosistem dan sosial budaya masyarakat setempat.
Huruf b
Cukup jelas

Pasal 38
Cukup jelas

Pasal 39
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas
Huruf b
Cukup jelas
Huruf c
Yang dimaksud dengan "jalan dan/atau jembatan" adalah jalan dan/atau jembatan yang menghubungkan antara lokasi kawasan dengan jalan umum.
Huruf d
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas.

Pasal 40
Cukup jelas

Pasal 41
Cukup jelas

Pasal 42
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan "Ternak ruminansia" adalah Ternak memamah biak seperti sapi, kerbau, domba, dan kambing.
Ayat (3)
Cukup jelas

Pasal 43
Huruf a
Cukup jelas
Huruf b
Cukup jelas
Huruf c
Cukup jelas
Huruf d
Cukup jelas
Huruf e
Yang dimaksud dengan "pasar modern" adalah suatu tempat bertemunya penjual dan pembeli dengan sistem modern.

Pasal 44
Ayat (1)
Huruf a
"Jenis Ternak" misalnya ayam, itik, puyuh, sapi, kerbau, kambing, dan domba.
Huruf b
Cukup jelas
Huruf c
Cukup jelas
Huruf d
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas
Ayat (5)
Cukup jelas
Ayat (6)
Cukup jelas

Pasal 45
Cukup jelas

Pasal 46
Cukup jelas

Pasal 47
Cukup jelas

Pasal 48
Cukup jelas


[tulis] » komentar « [baca]