BAB I
KETENTUAN UMUM

Tujuan pengaturan tingkat ketelitian peta untuk penataan ruang wilayah, dimaksudkan untuk mewujudkan kesatuan sistem penyajian data dan informasi penataan ruang wilayah.

BAB III
JENIS PETA DAN TINGKAT KETELITIAN
PETA RENCANA TATA RUANG WILAYAH

Bagian Pertama
Umum

Pasal 4
(1)Jenis peta, meliputi:
a.peta dasar;
b.peta wilayah; dan
c.peta tematik wilayah.
(2)Jenis peta harus memiliki karakteristik ketelitian peta yang pasti.
(3)Karakteristik ketelitian peta menjadi dasar ketelitian bagi pembuatan peta rencana tata ruang wilayah.

(1)Peta dasar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf a, menggunakan sistem referensi menurut ketentuan Datum Geodesi Nasional 1995, sistem proyeksi Transverse Mercator (TM) dengan sistem grid Universal Transverse Mercator (UTM) dan sistem penomoran lembar peta secara nasional.
(2)Peta dasar digunakan sebagai dasar bagi pembuatan peta wilayah.

Pasal 7
Peta wilayah digunakan sebagai dasar bagi pembuatan peta tematik wilayah dan peta rencana tata ruang wilayah.

Pasal 8
(1)Peta tematik wilayah digambarkan berdasarkan pada kriteria, klasifikasi dan spesifikasi unsur-unsur tematik yang ditetapkan oleh instansi yang mengadakan peta tematik wilayah.
(2)Peta rencana tata ruang wilayah digambarkan dengan unsur-unsur peta wilayah dan unsur-unsur peta rencana tata ruang wilayah.

Bagian Ketiga
Tingkat Ketelitian Peta Rencana Tata Ruang Wilayah

Paragraf 1
Umum

Peta rencana tata ruang wilayah nasional menggunakan peta wilayah negara Indonesia dan peta tematik wilayah dengan tingkat ketelitian peta skala yang sama.

Pasal 11
(1)Peta wilayah negara Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10, berpedoman pada tingkat ketelitian minimal berskala 1:1.000.000.
(2)Peta wilayah negara Indonesia dengan skala 1:1.000.000 meliputi unsur-unsur:
a.garis pantai;
b.hidrologi, berupa laut beserta unsur-unsur di perairan pantainya, sungai, danau, waduk atau bendungan yang digambarkan dengan skala untuk lebar minimal 125 meter;
c.permukiman, berupa kota;
d.jaringan transportasi, berupa jalan tol, jalan arteri, jalan kolektor, jalan kereta api, jalan lain, bandar udara, pelabuhan;
e.batas administrasi, berupa batas negara, batas propinsi, batas kabupaten, batas kota; dan
f.nama-nama unsur geografis.

(1)Peta rencana tata ruang wilayah nasional digambarkan dalam peta wilayah negara Indonesia.
(2)Unsur-unsur peta rencana tata ruang wilayah nasional, meliputi kawasan lindung, kawasan budidaya, kawasan tertentu, sistem permukiman, jaringan transportasi, jaringan kelistrikan dan energi, jaringan telekomunikasi, sarana dan prasarana air baku dan sistem jaringan utilitas.

Pasal 14
Unsur-unsur peta rencana tata ruang wilayah nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (2), digambarkan dengan simbol dan atau notasi pada Lampiran VII Peraturan Pemerintah ini.

Paragraf 3
Tingkat Ketelitian Peta Rencana Tata
Ruang Wilayah Daerah Propinsi

(1)Peta wilayah daerah propinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, berpedoman pada tingkat ketelitian minimal berskala 1:250.000.
(2)Peta wilayah daerah propinsi dengan skala 1:250.000 meliputi unsur-unsur:
a.garis pantai;
b.hidrologi, berupa laut beserta unsur-unsur di perairan pantainya, sungai, danau, waduk atau bendungan yang digambarkan dengan skala untuk lebar minimal 35 meter;
c.permukiman;
d.jaringan transportasi, berupa jalan tol, jalan arteri, jalan kolektor, jalan kereta api, jalan lain, bandar udara, pelabuhan;
e.batas administrasi, berupa batas negara, batas propinsi, batas kabupaten, batas kota;
f.garis kontur, dengan selang kontur yang mempunyai kelipatan 125 meter;
g.titik tinggi; dan
h.nama-nama unsur geografis.

Pasal 17
Unsur-unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (2), digambarkan dengan simbol dan atau notasi pada Lampiran II Peraturan Pemerintah ini.

Pasal 18
(1)Peta rencana tata ruang wilayah daerah propinsi digambarkan dalam peta wilayah daerah propinsi.
(2)Unsur-unsur peta rencana tata ruang wilayah daerah propinsi, meliputi kawasan lindung, kawasan budidaya, kawasan tertentu, sistem permukiman, jaringan transportasi, jaringan kelistrikan dan energi, jaringan telekomunikasi, sarana dan prasarana air baku dan sistem jaringan utilitas.

(1)Dalam hal wilayah daerah propinsi yang bentangan wilayahnya sempit dapat digunakan peta wilayah dengan skala 1:100.000 atau skala 1:50.000.
(2)Peta wilayah daerah propinsi yang menggunakan skala 1:100.000, untuk unsur-unsur dan penggambarannya berlaku ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2) dan Pasal 24.
(3)Peta wilayah daerah propinsi yang menggunakan skala 1:50.000, untuk unsur-unsur dan penggambarannya berlaku ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (2) dan Pasal 31.

Pasal 21
(1)Dalam hal peta rencana tata ruang wilayah daerah propinsi digambarkan dalam peta wilayah daerah propinsi yang menggunakan skala 1:100.000 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (2), untuk unsur-unsur dan penggambarannya berlaku ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (2) dan Pasal 26.
(2)Dalam hal peta rencana tata ruang wilayah daerah propinsi digambarkan dalam peta wilayah daerah propinsi yang menggunakan skala 1:50.000 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (3), untuk unsur-unsur dan penggambarannya berlaku ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (2) dan Pasal 33.

Paragraf 4
Tingkat Ketelitian Peta Rencana Tata
Ruang Wilayah Daerah Kabupaten

(1)Peta wilayah daerah kabupaten sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 berpedoman pada tingkat ketelitian minimal berskala 1:100.000.
(2)Peta wilayah daerah kabupaten dengan skala 1:100.000 unsur-unsurnya meliputi:
a.garis pantai;
b.hidrologi, berupa laut beserta unsur-unsur di perairan pantainya, sungai, danau, waduk atau bendungan yang digambarkan dengan skala untuk lebar minimal 35 meter;
c.permukiman;
d.jaringan transportasi, berupa jalan tol, jalan arteri, jalan kolektor, jalan kereta api, bandar udara digambarkan sesuai dengan skala;
e.batas administrasi, berupa batas negara, batas propinsi, batas kabupaten, batas wilayah daerah kota, batas kecamatan;
f.garis kontur, dengan selang kontur yang mempunyai kelipatan 50 meter;
g.titik tinggi; dan
h.nama-nama unsur geografis.

Pasal 24
Unsur-unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2) digambarkan dengan simbol dan atau notasi pada Lampiran III Peraturan Pemerintah ini.

(1)Dalam hal wilayah daerah kabupaten yang bentangan wilayahnya sempit dapat digunakan peta wilayah dengan wilayah skala 1:50.000 atau skala 1:25.000.
(2)Peta wilayah daerah kabupaten yang menggunakan skala 1:50.000, untuk unsur-unsur dan penggambarannya berlaku ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (2) dan Pasal 31.
(3)Peta wilayah daerah kabupaten yang menggunakan skala 1:25.000, untuk unsur-unsur dan penggambarannya berlaku ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (2) dan Pasal 33.

Pasal 28
(1)Dalam hal peta rencana tata ruang wilayah daerah kabupaten digambarkan dalam peta yang menggunakan skala 1:50.000 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (2), untuk unsur-unsur dan penggambarannya berlaku ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33.
(2)Dalam hal peta rencana tata ruang wilayah daerah kabupaten digambarkan dalam peta wilayah daerah kabupaten yang menggunakan skala 1:25.000 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (3), untuk unsur-unsur dan penggambarannya berlaku ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35.

Paragraf 5
Tingkat Ketelitian Peta Rencana Tata
Ruang Wilayah Daerah Kota

Pasal 29
Peta rencana tata ruang wilayah daerah kota menggunakan peta wilayah daerah kota dan peta tematik wilayah dengan tingkat ketelitian peta pada skala yang sama.

Pasal 30
(1)Peta wilayah daerah kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29, berpedoman pada tingkat ketelitian minimal berskala 1:50.000.
(2)Peta wilayah daerah kota dengan skala 1:50.000 unsur-unsurnya meliputi:
a.garis pantai;
b.hidrologi, berupa laut beserta unsur-unsur di perairan pantainya, sungai, danau, waduk atau bendungan yang digambarkan dengan skala untuk lebar minimal 7 meter;
c.permukiman;
d.jaringan transportasi, berupa jalan tol, jalan arteri, jalan kolektor, jalan kereta api, jalan setapak, bandar udara dan pelabuhan, bandar udara digambarkan sesuai dengan skala;
e.batas administrasi, berupa batas negara, batas propinsi, batas kabupaten, batas kota, batas kecamatan;
f.garis kontur, dengan selang kontur yang mempunyai kelipatan 25 meter;
g.titik tinggi; dan
h.nama-nama unsur geografis.

Pasal 31
Unsur-unsur peta wilayah daerah kota dengan skala 1:50.000, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (2), digambarkan dengan simbol dan atau notasi pada Lampiran IV Peraturan Pemerintah ini.

Pasal 32
(1)Peta rencana tata ruang wilayah daerah kota digambarkan dalam peta wilayah daerah kota.
(2)Unsur-unsur peta rencana tata ruang wilayah daerah kota meliputi kawasan lindung, kawasan budidaya, sistem permukiman, jaringan transportasi, jaringan kelistrikan dan energi, jaringan telekomunikasi, sarana dan prasarana air baku dan sistem jaringan utilitas.

Pasal 33
Unsur-unsur peta rencana tata ruang wilayah daerah kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (2), digambarkan dengan simbol dan atau notasi pada Lampiran X Peraturan Pemerintah ini.

Pasal 34
(1)Dalam hal wilayah daerah kota yang bentangan wilayahnya sempit, dapat digunakan peta wilayah dengan skala 1:25.000 atau skala 1:10.000.
(2)Peta wilayah daerah kota yang menggunakan peta wilayah dengan skala 1:25.000 sebagaimana dimaksud pada ayat (1), unsur-unsurnya meliputi:
a.garis pantai;
b.hidrografi, berupa laut beserta unsur-unsur di perairan pantainya, sungai, terusan, saluran air, danau, waduk atau bendungan yang digambarkan dengan skala untuk lebar minimal 5 meter;
c.permukiman;
d.jaringan transportasi, berupa jalan tol, jalan arteri, jalan kolektor, jalan lokal, jalan lain, jalan setapak, jalan kereta api, bandar udara dan pelabuhan;
e.batas administrasi, berupa batas negara, batas propinsi, batas kabupaten, batas kota, batas kecamatan, batas kelurahan;
f.garis kontur, dengan selang kontur yang mempunyai kelipatan 12,5 meter;
g.titik tinggi; dan
h.nama-nama unsur geografis.

Pasal 35
Unsur-unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (2), digambarkan dengan simbol dan atau notasi pada Lampiran V Peraturan Pemerintah ini.

Pasal 36
Unsur-unsur peta rencana tata ruang wilayah daerah kota yang menggunakan skala 1:250.000, meliputi kawasan lindung, kawasan budidaya, sistem permukiman, jaringan transportasi, jaringan kelistrikan dan energi, jaringan telekomunikasi, sarana dan prasarana air baku dan sistem jaringan utilitas.

Pasal 37
Unsur-unsur peta rencana tata ruang wilayah daerah kota yang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36, digambarkan dengan simbol dan atau notasi pada Lampiran XI Peraturan Pemerintah ini.

Pasal 38
Peta wilayah daerah kota yang menggunakan peta wilayah dengan skala 1:10.000, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (1), unsur-unsurnya meliputi:
a.garis pantai;
b.hidrologi, berupa laut beserta unsur-unsur di perairan pantainya, sungai, terusan, saluran air, danau, waduk atau bendungan yang digambarkan dengan skala untuk lebar minimal 1,5 meter;
c.permukiman;
d.jaringan transportasi, berupa jalan tol, jalan arteri, jalan kolektor, jalan lokal, jalan lain, jalan setapak, jalan kereta api, bandar udara dan pelabuhan;
e.batas administrasi, berupa batas negara, batas propinsi, batas kabupaten, batas kota, batas kecamatan, batas desa;
f.garis kontur, dengan selang kontur yang mempunyai kelipatan 5 meter;
g.titik tinggi; dan
h.nama-nama unsur geografis.

Pasal 39
Unsur-unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38, digambarkan dengan simbol dan atau notasi pada Lampiran VI Peraturan Pemerintah ini.

Pasal 40
Unsur-unsur peta rencana tata ruang wilayah daerah kota yang menggunakan skala 1:10.000 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39, meliputi kawasan lindung, kawasan budidaya, sistem permukiman, jaringan transportasi, jaringan kelistrikan dan energi, jaringan telekomunikasi, sarana dan prasarana air baku dan sistem jaringan utilitas.

Pasal 41
Unsur-unsur peta rencana tata ruang wilayah daerah kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40, digambarkan dengan simbol dan atau notasi pada Lampiran XII Peraturan Pemerintah ini.

BAB IV
PENGADAAN DAN PEMBINAAN TEKNIS

Pasal 42
(1)Pengadaan peta wilayah negara Indonesia, peta wilayah daerah propinsi, peta wilayah daerah kabupaten dan peta wilayah daerah kota diselenggarakan oleh instansi yang bertanggung jawab.
(2)Pengadaan Peta wilayah daerah propinsi, peta wilayah daerah kabupaten dan peta wilayah daerah kota dapat diselenggarakan oleh instansi terkait di daerah dengan mengikuti ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini.
(3)Pengadaan peta tematik wilayah diselenggarakan oleh instansi yang mengadakan peta tematik wilayah.

Pasal 43
(1)Pembinaan teknis untuk memelihara kualitas peta wilayah dan peta rencana tata ruang wilayah diselenggarakan oleh instansi yang bertanggung jawab.
(2)Pembinaan teknis untuk memelihara kualitas peta tematik wilayah diselenggarakan oleh instansi yang mengadakan peta tematik wilayah.

Pasal 44
Pembinaan teknis dilakukan melalui pengembangan keterpaduan sistem jaringan dalam pemetaan untuk penataan ruang wilayah dengan menggunakan sistem informasi geografis nasional sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

BAB V
PERAN SERTA MASYARAKAT

Pasal 45
(1)Masyarakat berhak mengetahui peta wilayah melalui katalog peta wilayah yang disusun oleh instansi yang bertanggung jawab.
(2)Masyarakat berhak mengetahui peta tematik wilayah melalui katalog peta tematik wilayah yang disusun oleh instansi yang mengadakan peta tematik wilayah.

Pasal 46
Masyarakat dapat berperan serta memberikan data dan informasi dalam pembuatan peta dasar, peta wilayah dan peta tematik wilayah.

BAB VI
KETENTUAN LAIN

Pasal 47
Simbol dan atau notasi unsur-unsur peta rencana tata ruang yang belum diatur dalam Lampiran Peraturan Pemerintah ini, diatur lebih lanjut dengan keputusan instansi yang bertanggung jawab dengan mempertimbangkan masukan dari instansi yang terkait.

Pasal 48
Unsur penyusunan peta rencana tata ruang kawasan, unsur-unsurnya menggunakan simbol dan atau notasi sesuai dengan tingkatan ketelitian dan skala peta wilayah dan peta rencana tata ruang wilayah.

BAB VII
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 49
(1)Pada saat mulai berlakunya Peraturan Pemerintah ini, maka semua peta wilayah dan rencana tata ruang wilayah yang telah ada harus disesuaikan dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini.
(2)Penyesuaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus diselesaikan selambat-lambatnya dalam tiga tahun setelah berlakunya Peraturan Pemerintah ini.

BAB VIII
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 50
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 21 Pebruari 2000
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

ABDURRAHMAN WAHID
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 21 Pebruari 2000
Pj.SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA,

BONDAN GUNAWAN



TAMBAHAN
LEMBARAN NEGARA RI



Pasal 1
Istilah-istilah dirumuskan dalam pasal ini dimaksudkan agar terdapat keseragaman pengertian atas Peraturan Pemerintah ini serta peraturan pelaksanaannya.
Angka 1
Cukup jelas
Angka 2
Skala peta menunjukan tingkat kerincian data dan atau informasi pada peta. Peta skala besar lebih rinci kandungan informasinya daripada peta skala kecil. Misalnya, kandungan informasi pada peta dengan skala 1:50.000 adalah lebih rinci daripada peta dengan skala 1:250.000, dan seterusnya. Contoh, jika jarak dua titik di peta pada skala 1:50.000 = 10 cm, maka jarak kedua titik tersebut di muka bumi adalah 10 x 50.000 cm = 500.000 cm = 5 km, sedangkan pada peta skala 1:250.000, maka jarak kedua titik tersebut menjadi 10 x 250.000 cm = 25 km.
Angka 3
Ketetapan data dan informasi georeferensi menunjukkan kebenaran posisi atau lokasi suatu objek pada peta terhadap kedudukan sebenarnya di permukaan bumi dengan mengacu pada suatu sistem referensi di bumi. Pengertian Georeferensi memiliki persyaratan-persyaratan geometrik dan posisi yang benar. Geometrik dimaksudkan sebagai hal-hal yang berhubungan dengan besaran-besaran dan bentuk-bentuk yang dapat diukur, seperti jarak, sudut, tinggi, luas, segiempat, segitiga, lingkaran dan lain sebagainya. Kerincian data dan atau informasi tematik adalah kesesuaian jumlah unsur-unsur tematik dengan ketersediaan ruang pada peta sebagai wahana penggambarannya. Kelengkapan data dan atau informasi dimaksudkan sebagai keberadaan semua data dan informasi yang disajikan tanpa ada kekurangan sesuai dengan skala.
Data dan atau informasi tematik adalah hal-hal yang berhubungan dengan tema atau topik tertentu yang dipetakan, seperti kehutanan, pertanian, geologi, pertanahan dan lain sebagainya.
Angka 4
Yang dimaksud dengan unsur alam, antara lain: hipsografi, hidrografi, dan vegetasi, sedangkan yang dimaksud dengan unsur buatan manusia, antara lain: prasarana (jalan, bendungan dan sebagainya), bandar udara, tempat permukiman: desa, kota, dan sebagainya dan ditambah dengan batas administrasi dan nama-nama unsur geografis (toponimi): nama ibukota daerah propinsi, nama kota, nama laut, nama selat, nama sungai. Unsur hipsografi mencakup bentuk/relief permukaan bumi (gunung, bukit dan sebagainya). Unsur hidrografi mencakup sungai, danau, garis pantai dan sebagainya; dan unsur vetegasi mencakup semua jenis tanaman atau tumbuh-tumbuhan.
Angka 5
Wilayah yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan pada aspek administrasi disebut wilayah pemerintahan. Wilayah yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan pada aspek fungsional disebut kawasan.
Angka 6
Diturunkan dari peta dasar artinya digambar kembali dari peta dasar. Penggambaran kembali dilakukan dengan mengutamakan batas-batas wilayah administratif dengan beberapa unsur rupa bumi yang diperlukan sebagai dasar untuk penyajian informasi tematik maupun informasi rencana tata ruang wilayah. Unsur rupa bumi yang menjadi unsur pada peta wilayah adalah unsur yang saat ini ada dilapangan. Peta wilayah terdiri dari peta wilayah negara Indonesia, peta wilayah daerah propinsi, peta wilayah daerah kabupaten, dan peta wilayah daerah kota.
Angka 7
Peta tematik wilayah menyajikan data dan informasi tematik pada wilayah yang bersangkutan.
Angka 8
Cukup jelas
Angka 9
Cukup jelas
Angka 10
Cukup jelas

Pasal 2
Cukup jelas

Pasal 3
Cukup jelas

Pasal 4
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan karakteristik ketelitian adalah hal-hal yang khas mendukung terciptanya peta yang teliti. Termasuk dalam karakteristik ketelitian ini adalah karakteristik kebenaran dan kelengkapan kandungan informasinya.
Ayat (3)
Cukup jelas

Pasal 5
Penetapan skala minimal dimaksudkan untuk menentukan skala minimal yang dapat digunakan sesuai dengan ketetapan yang dibutuhkan.
Sebagai contoh, ketetapan suatu obyek di muka bumi sepanjang 100 meter, pada peta skala 1:100.000 akan tergambar sepanjang 1 mm, sedangkan pada peta skala 1:250.000 akan tergambar sepanjang 4 mm. Dengan semikian kenampakan suatu obyek sebesar 100 meter di muka bumi tersebut akan terlihat lebih jelas pada peta skala 1:25.000 dan akan lebih jelas pada peta berskala yang lebih besar (1:10.000, 1:5.000, dan seterusnya).

Pasal 6
Ayat (1)
Sistem referensi merupakan sistem acuan atau pedoman tentang posisi suatu obyek pada arah horizontal dan arah vertikal. Sistem proyeksi merupakan sistem penggambaran permukaan bumi yang tidak beraturan pada bidang datar secara matematis sedemikian rupa sehingga mengurangi atau menghilangkan kesalahan yang dapat mengakibatkan perbedaan bentuk dari tidak beraturan ke bidang datar. Sistem grid merupakan sistem yang menunjukan tanda dua garis yang berpotongan tegak lurus untuk mengetahui dan menentukan koordinat titik di atas peta.
Sistem penomoran lembar peta adalah sistem penomoran lembar peta yang berlaku secara nasional.
Ayat (2)
Karena peta dasar digunakan sebagai dasar bagi pembuatan peta wilayah, maka sistem referensi dan sistem proyeksi dari peta dasar digunakan sebagai sistem referensi dan sistem proyeksi peta wilayah.

Pasal 7
Dalam hal tidak tersedia peta dasar, maka peta lain dapat digunakan sebagai dasar bagi pembuatan peta wilayah, setelah peta lain itu ditransformasikan ke sistem referensi dan sistem proyeksi yang ditentukan berdasarkan Peraturan Pemerintah ini. Transformasi tersebut dapat dilakukan baik oleh instansi yang bertanggung jawab maupun oleh instansi terkait. Yang dimaksud dengan instansi terkait adalah instansi pemerintah baik pusat maupun daerah yang tugas dan fungsinya berkaitan dengan pengadaan peta dasar dan peta wilayah.
Peta wilayah skala 1:1.000.000 menjadi dasar bagi penggambaran peta tematik wilayah maupun peta rencana tata ruang wilayah skala 1:1.000.000.
Peta wilayah skala 1:250.000 menjadi dasar bagi penggambaran peta tematik wilayah maupun peta rencana tata ruang wilayah skala 1:250.000.
Peta wilayah skala 1:100.000 menjadi dasar bagi penggambaran peta tematik wilayah maupun peta rencana tata ruang wilayah skala 1:100.000.
Peta wilayah skala 1:50.000 menjadi dasar bagi penggambaran peta tematik wilayah maupun peta rencana tata ruang wilayah skala 1:50.000.
Peta wilayah skala 1:25.000 menjadi dasar bagi penggambaran peta tematik wilayah maupun peta rencana tata ruang wilayah skala 1:25.000.
Peta wilayah skala 1:10.000 menjadi dasar bagi penggambaran peta tematik wilayah maupun peta rencana tata ruang wilayah skala 1:10.000.
Peta tematik wilayah digunakan sebagai salah satu bahan analisis untuk penyusunan peta rencana tata ruang wilayah.

Pasal 8
Ayat (1)
Kriteria, klasifikasi dan spesifikasi unsur-unsur tematik yang ditetapkan oleh instansi yang mangadakan peta tematik wilayah, dimaksudkan bahwa peta tematik itu digambar dan disiapkan oleh instansi yang tugas dan fungsinya mengelola daya alam, misalnya: lahan, hutan, air, mineral dan lain-lain.
Peta tematik wilayah merupakan peta yang memuat satu atau beberapa tema tertentu yang sesuai untuk keperluan penataan ruang. Sebagai contoh: peta liputan lahan, peta bentuk lahan, peta kemiringan lereng, peta daerah aliran sungai dan kerapatan aliran, peta potensi mineral (bahan galian), peta potensi hutan, peta potensi sumber daya air, peta potensi ketersediaan lahan, peta potensi kawasan lindung dan peta sebaran penduduk.
Peta tematik wilayah mengandung data dan informasi baik grafi, jaringan transportasi kuantitatif mengenai keberadaan dan macam sumber daya alam dan atau sumber daya buatan dengan ketelitian kandungan informasi sesuai dengan skala dari setiap tema petanya.
Ayat (2)
Unsur-unsur peta wilayah antara lain adalah garis pantai, hidrografi, jaringan transportasi dan batas wilayah administratif. Unsur-unsur peta rencana tata ruang wilayah adalah kawasan lindung dan kawasan budidaya. Unsur-unsur peta rencana tata ruang wilayah merupakan hasil analisis dari unsur-unsur peta tematik yang terakit langsung untuk penataan ruang.

Pasal 9
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Tingkatan skala menunjukkan tingkat kerincian kandungan informasi yang dipetakan. Dalam hal klasifikasi skala minimal yang tercantum dalam Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang, maka perbandingan tingkat kerincian kandungan informasi untuk masing-masing skala adalah seperti pada tabel berikut:

Pasal 10
Cukup jelas

Pasal 11
Ayat (1)
Skala 1:1.000.000 untuk peta wilayah negara Indonesia adalah skala minimal. Dengan demikian, dimungkinkan untuk menggunakan skala yang lebih besar.
Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas
Huruf b
Yang dimaksud dengan unsur-unsur perairan pantai misalnya, terumbu, batu karang, beting karang dan menara suar. Sungai, danau, waduk atau bendungan yang lebih kecil dari 25 meter digambarkan dengan simbol.
Huruf c
Cukup jelas
Huruf d
Cukup jelas
Huruf e
Cukup jelas
Huruf f
Cukup jelas

Pasal 12
Yang dimaksud dengan simbol dan atau notasi dalam Lampiran adalah petunjuk penggambaran dan uraian teknis tentang unsur-unsur peta.

Pasal 13
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Kawasan lindung meliputi kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya, kawasan perlindungan setempat, kawasan suaka alam, kawasan pelestarian alam, kawasan cagar budaya, kawasan rawan bencana alam dan kawasan lindung lainnya.
Kawasan budidaya meliputi kawasan hutan produksi, kawasan hutan rakyat, kawasan pertanian, kawasan pertambangan, kawasan peruntukan industri, kawasan pariwisata, dan kawasan permukiman. Pada kawasan budidaya, digambarkan kawasan andalan. Pada skala ini terdapat kawasan tertentu.
Selain kawasan tersebut di atas, digambarkan pula sistem permukiman meliputi pusat permukiman perkotaan atau kota dan pusat permukiman perdesaan.
Jaringan transportasi meliputi:
1)Jaringan transportasi darat meliputi jalan bebas hambatan atau jalan tol, jalan arteri primer dan jalan kolektor.
2)Jaringan jalan kereta api.
3)Jaringan transportasi penyeberangan meliputi jembatan antar pulau.
4)Jaringan transportasi laut meliputi:
a)Pelabuhan laut utama meliputi pelabuhan laut utama primer, pelabuhan laut utama sekunder, pelabuhan laut utama tersier, pelabuhan pengumpan regional dan pelabuhan pengumpan lokal;
b)Alur pelayaran laut.
5)Jaringan transportasi udara meliputi:
a)Bandar udara pusat penyebaran primer;
b)Bandar udara pusat penyebaran sekunder;
c)Bandar udara pusat penyebaran tersier;
d)Bandar udara bukan pusat penyebaran.
6)Jaringan kelistrikan dan energi meliputi:
1)Jaringan listrik meliputi transmisi kabel laut;
2)Jaringan gas
Jaringan telekomunikasi dalam hal ini stasiun bumi.
Sarana dan prasarana air baku dalam hal bendungan.
Sistem jaringan utilitas meliputi saluran air limbah primer dan saluran drainase primer.

Pasal 14
Cukup jelas

Pasal 15
Cukup jelas

Pasal 16
Ayat (1)
Skala 1:250.000 untuk peta wilayah daerah propinsi adalah skala minimal. Dengan demikian, dimungkinkan untuk menggunakan skala yang lebih besar.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan unsur-unsur perairan pantai misalnya, terumbu, batu karang, beting karang dan menara suar.
Yang dimaksud dengan kontur laut adalah garis peta pada peta yang menghubungkan titik-titik atau tempat-tempat di luar yang mempunyai kedalaman yang sama.
Yang dimaksud dengan garis kontur adalah garis pada peta yang menghubungkan titik atau tempat-tempat di darat yang mempunyai ketinggian yang sama.

Pasal 17
Cukup jelas

Pasal 18
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Kawasan lindung meliputi kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya, kawasan perlindungan setempat, kawasan suaka alam, kawasan pelestarian alam, kawasan cagar budaya, kawasan rawan bencana, dan kawasan lindung lainnya.
Kawasan budidaya meliputi kawasan hutan produksi, kawasan hutan rakyat, kawasan pertanian, kawasan pertambangan, kawasan peruntukan industri, kawasan pariwisata, dan kawasan permukiman. Pada kawasan budidaya, digambarkan kawasan andalan.
Pada skala ini kawasan tertentu.
Selain kawasan tersebut di atas, digambarkan pula sistem permukiman, meliputi pusat permukiman perkotaan atau kota pusat permukiman perdesaan, kawasan perdesaan sebagai pusat produksi pertanian, kawasan perdesaan sebagai pusat pengolahan sumber daya lainnya dan kota tani (Agropolitan Centre).
Jaringan transportasi meliputi:
1)Jaringan transportasi darat meliputi jalan bebas hambatan atau jalan tol, jalan arteri primer dan jalan kolektor.
2)Jaringan jalan kereta api dalam hal ini jalan kereta api jalur tunggal.
3)Jaringan transportasi penyeberangan dalam hal ini jembatan antar pulau.
4)Jaringan transportasi laut meliputi:
a)Pelabuhan laut utama meliputi pelabuhan laut utama primer, pelabuhan laut utama sekunder, pelabuhan laut utama tersier, pelabuhan pengumpan regional dan pelabuhan pengumpan lokal;
b)Alur pelayanan laut.
5)Jaringan transportasi udara meliputi:
a)Bandar udara pusat penyebaran primer;
b)Bandar udara pusat penyebaran sekunder;
c)Bandar udara pusat penyebaran tersier;
d)Bandar udara bukan pusat penyebaran.
Jaringan kelistrikan dan energi meliputi:
1)Jaringan listrik meliputi transmisi kabel laut, tegangan tinggi dan bangunan pembangkit tenaga listrik.
2)Jaringan gas dalam hal ini saluran primer jaringan gas.
Jaringan telekomunikasi meliputi stasiun bumi.
Sarana dan prasarana air baku meliputi fasilitas air bersih, mata air dan bendungan.
Sistem jaringan utilitas meliputi saluran air limbah primer dan saluran drainase primer.

Pasal 19
Cukup jelas

Pasal 20
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan bentangan wilayah yang sempit adalah wilayah yang tidak begitu luas untuk dapat digambarkan pada peta dengan skala 1:250.000 sedemikian rupa sehingga jika dipaksakan untuk digambarkan dalam skala tersebut akan menjadi gambaran peta yang berlalu kecil dalam ukuran lembar peta yang baku.
Penggunaan skala yang lebih besar dimungkinkan karena luas bentangan masing-masing daerah propinsi itu berbeda untuk digambarkan dalam skala yang sama. Hubungan antara luar bentangan dengan skala yang dipilih berdasarkan pada kerincian data dan informasi yang disajikan sebagai contoh:
Daerah Propinsi Yogyakarta atau daerah yang berkembang dengan cepat seperti kawasan Jabotabek digambarkan dengan rinci. Hal ini akan menentukan skala peta sesuai dengan muatan informasi yang digunakan.
Ayat (2)
Dalam kaidah perpetaan, simbol dan atau notasi unsur-unsur dan tata cara penggambarannya mengikuti skala yang dipilih.
Ayat (3)
Cukup jelas

Pasal 21
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas

Pasal 22
Cukup jelas

Pasal 23
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan unsur-unsur perairan pantai misalnya, terumbu, batu karang, beting karang, dermaga, penahan ombak, menara suar dan kontur laut.
Yang dimaksud dengan kontur laut adalah garis peta pada peta yang menghubungkan titik atau tempat-tempat di laut yang mempunyai kedalaman yang sama.
Untuk daerah kabupaten yang wilayahnya tidak berbatasan dengan laut, maka unsur garis pantai dan unsur-unsur perairan pantainya tidak diberlakukan dalam penggambarannya.

Pasal 24
Cukup jelas

Pasal 25
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Kawasan lindung meliputi kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya, kawasan perlindungan setempat, kawasan suaka alam, kawasan pelestarian alam, kawasan cagar budaya, kawasan rawan bencana alam, dan kawasan lindung lainnya.
Kawasan budidaya meliputi kawasan hutan produksi, kawasan hutan rakyat, kawasan pertanian, kawasan pertambangan, kawasan peruntukan industri, kawasan pariwisata, dan kawasan permukiman. Selain kawasan tersebut di atas, digambarkan pula sistem permukiman, meliputi pusat permukiman perkotaan atau kota, pusat permukiman perdesaan, kawasan perdesaan sebagai pusat produksi pertanian, kawasan perdesaan sebagai pusat pengolahan sumber daya lainnya dan kota tani (Agropolitan Centre).
Jaringan transportasi meliputi:
1)Jaringan transportasi darat meliputi jalan bebas hambatan atau jalan tol, jalan arteri primer dan jalan arteri sekunder.
2)Jaringan jalan kereta api dalam hal ini jalan kereta api jalur tunggal dan stasiun kereta api.
3)Jaringan transportasi penyeberangan dalam hal ini jembatan antar pulau.
4)Jaringan transportasi laut meliputi:
a)Pelabuhan laut utama meliputi pelabuhan laut utama primer, pelabuhan laut utama sekunder, pelabuhan laut utama tersier, pelabuhan pengumpan regional dan pelabuhan pengumpan lokal;
b)Alur pelayanan laut.
5)Jaringan transportasi udara meliputi:
a)Bandar udara pusat penyebaran primer;
b)Bandar udara pusat penyebaran sekunder;
c)Bandar udara pusat penyebaran tersier;
d)Bandar udara bukan pusat penyebaran.
Jaringan kelistrikan dan energi meliputi:
1)Jaringan listrik meliputi transmisi kabel laut, tegangan tinggi dan bangunan pembangkit tenaga listrik.
2)Jaringan gas dalam hal ini saluran primer jaringan gas.
Jaringan telekomunikasi meliputi:
1)Stasiun bumi.
2)Jaringan transmisi.
Sarana dan prasarana air baku meliputi:
1)Fasilitas air bersih meliputi:
a)Mata air.
b)Pipa air bersih dalam hal ini air bersih utama.
2)Bendungan
Sistem jaringan utilitas meliputi saluran air limbah primer dan saluran drainase primer.

Pasal 26
Cukup jelas

Pasal 27
Cukup jelas

Pasal 28
Cukup jelas

Pasal 29
Cukup jelas

Pasal 30
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan unsur-unsur perairan pantai misalnya, terumbu, batu karang, beting karang, dermaga, penahan ombak, menara suar dan kontur laut.
Untuk daerah kota yang wilayahnya tidak berbatasan dengan laut, maka unsur garis pantai dan unsur-unsur perairan pantainya tidak diberlakukan dalam penggambarannya.

Pasal 31
Cukup jelas

Pasal 32
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Kawasan lindung meliputi:
a.Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya meliputi kawasan lindung, kawasan bergambut dan kawasan resapan air.
b.Kawasan perlindungan setempat meliputi kawasan sempadan pantai, kawasan sempadan sungai sekitar danau/waduk, kawasan sekitar mata air dan kawasan terbuka hijau kota termasuk di dalamnya hutan kota.
c.Kawasan suaka alam meliputi cagar alam dan suaka margasatwa.
d.Kawasan pelestarian alam meliputi taman nasional, taman hutan raya, taman wisata alam dan taman buru.
e.Kawasan cagar budaya.
f.Kawasan rawan bencana alam meliputi kawasan rawan lentusan gunung api, kawasan rawan gempa bumi, kawasan rawan tanah longsor, kawasan rawan banjir, kawasan rawan gelombang pasang, kawasan rawan kekeringan, dan kawasan rawan petir.
g.Kawasan lindung lainnya meliputi cagar biosfer, kawasan perlindungan plasma nutfak, kawasan pengungsian satwa dan kawasan pantai berhutan bakau.

Kawasan budidaya meliputi:
a.Kawasan hutan produksi meliputi kawasan hutan produksi terbatas, kawasan hutan produksi tetap dan kawasan produksi yang dapat dikonservasi.
b.Kawasan hutan rakyat.
c.Kawasan pertanian meliputi kawasan pertanian lahan basah, kawasan pertanian lahan kering, kawasan tanaman tahunan/perkebunan, kawasan peternakan dan kawasan perikanan.
d.Kawasan pertambangan meliputi kawasan pertambangan golongan bahan galian strategis, kawasan pertambangan golongan bahan galian vital dan kawasan pertambangan golongan bahan galian lainnya.
e.Kawasan peruntukan industri meliputi kawasan peruntukan industri dan kawasan industri.
f.Kawasan pariwisata.
g.Kawasan permukiman.

Selain kawasan tersebut di atas, digambarkan pula sistem permukiman yang meliputi:
1)Pusat permukiman perkotaan atau kota meliputi:
a)Pusat perbelanjaan dan niaga kota meliputi pusat perbelanjaan dan niaga kawasan.
b)Tempat pembuangan sampah akhir.
2)Pusat permukiman perdesaan meliputi pusat perbelanjaan dan niaga perdesaan.
3)Kawasan perdesaan sebagai pusat produksi pertanian.
4)Kawasan perdesaan sebagai pusat pengolahan sumber daya lainnya.
5)Kota tani (Agropolitan Centre).

Jaringan transportasi meliputi:
1)Jaringan transportasi darat meliputi jalan bebas hambatan atau jalan tol, jalan arteri primer dan jalan arteri sekunder dan jalan kolektor primer.
2)Jaringan jalan kereta api meliputi jalan kereta api jalur tunggal, jalan kereta api jalur ganda dan stasiun kereta api.
3)Jaringan transportasi sungai meliputi jaringan transportasi danau, jaringan transportasi penyeberangan dan jembatan antar pulau.
4)Jaringan transportasi laut meliputi:
a)Pelabuhan laut utama meliputi pelabuhan laut utama primer, pelabuhan laut utama sekunder, pelabuhan laut utama tersier, pelabuhan pengumpan regional dan pelabuhan pengumpan lokal;
b)Alur pelayanan laut.
5)Jaringan transportasi udara meliputi:
a)Bandar udara pusat penyebaran primer;
b)Bandar udara pusat penyebaran sekunder;
c)Bandar udara pusat penyebaran tersier;
d)Bandar udara bukan pusat penyebaran.

Jaringan kelistrikan dan energi meliputi:
1)Jaringan listrik meliputi transmisi kabel laut, tegangan tinggi dan bangunan pembangkit tenaga listrik.
2)Jaringan gas dalam hal ini saluran primer jaringan gas.

Jaringan telekomunikasi meliputi:
1)Stasiun bumi.
2)Jaringan transmisi.
3)Kantor Pos.

Sarana dan prasarana air baku meliputi:
1)Fasilitas air bersih meliputi:
a)Mata air.
b)Pipa air bersih dalam hal ini air bersih utama.
2)Bendungan.
3)Kanal besar.
4)Waduk penampungan air hujan.

Sistem jaringan utilitas meliputi saluran air limbah primer dan saluran drainase primer.

Pasal 33
Cukup jelas

Pasal 34
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas
Huruf b
Yang dimaksud dengan unsur-unsur perairan pantai misalnya, terumbu, batu karang, dermaga, penahan ombak, menara suar dan kontur laut.
Huruf c
Cukup jelas
Huruf d
Bandar udara digambarkan sesuai dengan skala.
Huruf e
Cukup jelas
Huruf f
Cukup jelas
Huruf g
Cukup jelas
Huruf h
Cukup jelas
Huruf i
Cukup jelas

Pasal 35
Cukup jelas

Pasal 36
Kawasan lindung meliputi:
a.Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya meliputi kawasan lindung, kawasan bergambut dan kawasan resapan air.
b.Kawasan perlindungan setempat meliputi kawasan sempadan pantai, kawasan sempadan sungai, kawasan sekitar danau/waduk, kawasan sekitar mata air dan kawasan terbuka hijau kota termasuk di dalamnya hutan kota.
c.Kawasan suaka alam meliputi cagar alam dan suaka margasatwa.
d.Kawasan pelestarian alam meliputi taman nasional, taman hutan raya, taman wisata alam dan taman buru.
e.Kawasan cagar budaya.
f.Kawasan rawan bencana alam meliputi kawasan rawan lentusan gunung api, kawasan rawan gempa bumi, kawasan rawan tanah longsor, kawasan rawan banjir, kawasan rawan gelombang pasang, kawasan rawan kekeringan, dan kawasan rawan petir.
g.Kawasan lindung lainnya meliputi cagar biosfer, kawasan perlindungan plasma nutfak, kawasan pengungsian satwa dan kawasan pantai berhutan bakau.

Kawasan budidaya meliputi:
a.Kawasan hutan produksi meliputi kawasan produksi terbatas, kawasan hutan produksi tetap dan kawasan produksi yang dapat dikonservasi.
b.Kawasan hutan rakyat.
c.Kawasan pertanian meliputi kawasan pertanian lahan basah, kawasan pertanian lahan kering, kawasan tanaman tahunan/perkebunan, kawasan peternakan dan kawasan perikanan.
Kawasan pertanian lahan basah meliputi kawasan pertanian beririgasi, kawasan pertanian pasang surut, kawasan sawah lebak, dan kawasan sawah tadah hujan.
Kawasan Pertanian lahan kering meliputi kawasan tanaman semusim dataran tendah dan kawasan tanaman semusim dataran tinggi. Kawasan tanaman tahunan/perkebunan meliputi kawasan perkebunan sejenis (monokultur), kawasan kebun campuran dan kawasan kebun buah-buahan.
Kawasan peternakan meliputi kawasan penggembalaan dan kawasan ternak kandang.
Kawasan perikanan meliputi kawasan perikanan air tawar, kawasan perikanan payau/tambak dan kawasan perikanan laut.
d.Kawasan pertambangan meliputi kawasan pertambangan minyak bumi, kawasan pertambangan bitumen cair, kawasan pertambangan lilin bumi, kawasan pertambangan gas alam, kawasan pertambangan bitumen padat, kawasan pertambangan aspal, kawasan pertambangan antrasit, batu bara, batu bara muda, kawasan pertambangan uranium, kawasan pertambangan radium, kawasan pertambangan thorium, kawasan pertambangan nikel, kawasan pertambangan kobalt, kawasan pertambangan timah, kawasan pertambangan besi, kawasan pertambangan mangan, kawasan pertambangan molibden, kawasan pertambangan krom, kawasan pertambangan wolfram, kawasan pertambangan vanadium, kawasan pertambangan titan, kawasan pertambangan bauksit, kawasan pertambangan tembaga, kawasan pertambangan timbal, kawasan pertambangan seng, kawasan pertambangan emas, kawasan pertambangan platina, kawasan pertambangan perak, kawasan pertambangan air raksa, kawasan pertambangan intan, kawasan pertambangan arsen, kawasan pertambangan antimon, kawasan pertambangan bismuth, kawasan pertambangan thrium, kawasan pertambangan rhuttenium, kawasan pertambangan cerium, kawasan pertambangan berilumm, kawasan pertambangan korundum, kawasan pertambangan zirkon, kawasan pertambangan kristal kuarsa, kawasan pertambangan fluorspar, kawasan barit, kawasan pertambangan yodium, kawasan pertambangan brom, kawasan pertambangan khlor, kawasan pertambangan belerang, kawasan pertambangan gambut, kawasan pertambangan nitrat-nitrat, kawasan pertambangan fospat-fospat, kawasan pertambangan garam batu/halit, kawasan pertambangan asbes, kawasan pertambangan talk, kawasan pertambangan mika, kawasan pertambangan grafit, kawasan pertambangan magnesit, kawasan pertambangan yarosit, kawasan pertambangan leusit, kawasan pertambangan tawar/alum, kawasan pertambangan oker, kawasan pertambangan batu permata, batu setengah permata, kawasan pertambangan pasir kuarsa, kawasan pertambangan kaolin, kawasan pertambangan felspar, kawasan pertambangan gips, kawasan pertambangan bentonit, kawasan pertambangan batu apung, kawasan pertambangan tras, kawasan pertambangan apsidian, kawasan pertambangan perlit, kawasan pertambangan diatome, kawasan pertambangan tanah serap (fuller's earth), kawasan pertambangan marmer, kawasan pertambangan batu tulis, kawasan pertambangan batu kapur, kawasan pertambangan dolomit, kawasan pertambangan kalsit, kawasan pertambangan granit, kawasan pertambangan andesit, kawasan pertambangan trkhit, kawasan pertambangan tanah liat, kawasan pertambangan pasir sepanjang tidak mengandung unsur-unsur atau mineral golongan A dan B dalam jumlah yang berarti ditinjau dari segi ekonomi dan pertambangan.
e.Kawasan peruntukan industri meliputi kawasan peruntukan industri, kawasan industri (industrial estate) dan komplek industri (industri dasar).
f.Kawasan pariwisata.
g.Kawasan permukiman meliputi kawasan permukiman perkotaan dan kawasan permukiman perdesaan.

Selain kawasan tersebut di atas, digambarkan pula sistem permukiman yang meliputi:
1)Pusat permukiman perkotaan atau kota meliputi:
a)Pusat perbelanjaan dan niaga kota meliputi pusat perbelanjaan kawasan dan pusat perbelanjaan dan niaga kawasan.
b)Pasar meliputi pasar induk.
c)Tempat pembuangan sampah akhir.
2)Pusat permukiman perdesaan meliputi:
a)Pusat perbelanjaan niaga perdesaan dalam hal ini pusat perbelanjaan kawasan perdesaan.
b)Pasar meliputi pasar induk.
c)Tempat pembuangan sampah akhir.
3)Kawasan perdesaan sebagai pusat produksi pertanian.
4)Kawasan perdesaan sebagai pusat pengolahan sumber daya lainnya.
5)Kota tani (Agropolitan Centre).

Jaringan transportasi meliputi:
1)Jaringan transportasi darat meliputi jalan bebas hambatan atau jalan tol, jalan arteri primer dan jalan arteri sekunder dan jalan kolektor primer.
2)Jaringan jalan kereta api meliputi jalan kereta api tunggal, jalan kereta api jalur ganda dan stasiun kereta api.
3)Jaringan transportasi sungai meliputi jaringan transportasi danau, jaringan transportasi penyeberangan, jembatan antar pulau dan jaringan transportasi jembatan dan terowongan antar pulau.
4)Jaringan transportasi laut meliputi:
a)Pelabuhan laut utama meliputi pelabuhan laut utama primer, pelabuhan laut utama sekunder, pelabuhan laut utama tersier, pelabuhan pengumpan regional dan pelabuhan pengumpan lokal;
b)Alur pelayanan laut.
5)Jaringan transportasi udara meliputi:
a)Bandar udara pusat penyebaran primer;
b)Bandar udara pusat penyebaran sekunder;
c)Bandar udara pusat penyebaran tersier;
d)Bandar udara bukan pusat penyebaran.

Jaringan kelistrikan dan energi meliputi:
1)Jaringan listrik meliputi transmisi kabel laut, tegangan tinggi dan bangunan pembangkit tenaga listrik, gardu induk listrik ekstra dan gardu induk listrik.
2)Jaringan gas dalam hal ini saluran primer jaringan gas dan saluran sekunder jaringan gas.

Jaringan telekomunikasi meliputi:
1)Stasiun bumi
2)Jaringan transmisi.
3)Kantor Pos besar.
4)Kantor Pos kecil
5)Warung Telekomunikasi (Wartel).
6)Stasiun telepon otomat.
7)Rumah kabel.

Sarana dan prasarana air baku meliputi:
1)Fasilitas air bersih meliputi:
a)Mata air.
b)Pipa air bersih dalam hal ini air bersih utama dan pipa air bersih sekunder.
c)Intake.
d)Pipa jaringan air bersih meliputi pipa air bersih utama dan pipa air bersih sekunder.
e)Jalur distribusi air bersih.
2)Bendungan
3)Kanal besar.
4)Waduk penampungan air hujan.

Sistem jaringan utilitas meliputi:
1)Saluran air limbah primer dan saluran limbah sekunder.
2)Saluran drainase primer dan saluran drainase sekunder.
3)Jaringan air hujan primer dan jaringan air hujan sekunder.
Pasal 37
Cukup jelas

Pasal 38
Huruf a
Cukup jelas
Huruf b
Yang dimaksud dengan unsur-unsur perairan pantai misalnya, terumbu, batu karang, beting karang, dermaga, penahan ombak, menara suar dan kontur laut.
Yang dimaksud dengan kuntur laut adalah garis peta pada peta yang menghubungkan titik-titik atau tempat-tempat di laut yang mempunyai kedalaman yang sama.
Huruf c
Cukup jelas
Huruf d
Bandar udara digambarkan sesuai dengan skala.
Huruf e
Cukup jelas
Huruf f
Cukup jelas
Huruf g
Cukup jelas
Huruf h
Cukup jelas

Pasal 39
Cukup jelas

Pasal 40
Kawasan lindung meliputi:
a.Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya meliputi kawasan lindung, kawasan bergambut dan kawasan resapan air.
b.Kawasan perlindungan setempat meliputi kawasan sempadan pantai, kawasan sempadan sungai, kawasan sekitar danau/waduk, kawasan sekitar mata air dan kawasan terbuka hijau kota termasuk di dalamnya hutan kota.
c.Kawasan suaka alam meliputi cagar alam dan suaka margasatwa.
d.Kawasan pelestarian alam meliputi taman nasional, taman hutan raya, taman wisata alam dan taman buru.
e.Kawasan cagar budaya.
f.Kawasan rawan bencana alam meliputi kawasan rawan lentusan gunung api, kawasan rawan gempa bumi, kawasan rawan tanah longsor, kawasan rawan banjir, kawasan rawan gelombang pasang, kawasan rawan kekeringan, dan kawasan rawan petir.
g.Kawasan lindung lainnya meliputi cagar biosfer, kawasan perlindungan plasma nutfak, kawasan pengungsian satwa dan kawasan pantai berhutan bakau.

Kawasan budidaya meliputi:
a.Kawasan hutan produksi meliputi kawasan hutan produksi terbatas, kawasan hutan produksi tetap dan kawasan produksi yang dapat dikonversi.
b.Kawasan hutan rakyat.
c.Kawasan pertanian meliputi kawasan pertanian lahan basah, kawasan pertanian lahan kering, kawasan tanaman tahunan/perkebunan, kawasan peternakan dan kawasan perikanan.
1)Kawasan pertanian lahan basah meliputi kawasan pertanian beririgasi, kawasan pertanian pasang surut, kawasan sawah lebak, dan kawasan sawah tadah hujan.
Sedangkan kawasan pertanian beririgasi meliputi kawasan irigasi teknis, kawasan irigasi semi teknis dan kawasan irigasi sederhana.
Kawasan pertanian pasang surut, kawasan sawah lebak dan kawasan sawah tadah hujan tidak dibagi ke dalam unsur-unsur.
2)Kawasan pertanian lahan kering seperti tersebut di atas meliputi kawasan tanaman semusim dataran rendah dan kawasan tanaman semusim dataran tinggi.
Kawasan tanaman semusim dataran rendah tersebut di atas meliputi kawasan serealia (padi gogo, jagung), kawasan kacang-kacangan (kedelai, kacang tanah), kawasan umbi-umbian (singkong, ubi jalar), kawasan sayuran (terong, kacang panjang, labu), dan kawasan bunga lainnya (bunga).
Kawasan tanaman semusim dataran tinggi tersebut di atas meliputi kawasan serealia (padi gogo, jagung), kawasan kacang-kacangan (kedelai, kacang tanah), kawasan umbi-umbian (singkong, ubi jalar), kawasan sayuran (terong, kacang panjang, labu), dan kawasan lainnya (bunga).
3)Kawasan tanaman tahunan/perkebunan seperti tersebut di atas meliputi kawasan perkebunan sejenis (monokultur), kawasan kebun campuran dan kawasan kebun buah-buahan.
4)Kawasan peternakan seperti tersebut di atas meliputi kawasan penggembalaan dan kawasan ternak kandang.
5)Kawasan perikanan seperti tersebut di atas meliputi kawasan perikanan air tawar, kawasan perikanan air payau/tambak dan kawasan perikanan laut.
Kawasan perikanan air tawar tersebut di atas meliputi kawasan perikanan danau, kawasan perikanan kolam dan kawasan perikanan minapadi.
Kawasan perikanan laut tersebut di atas meliputi kawasan perikanan laut dangkal dan kawasan perikanan laut dalam.
d.Kawasan pertambangan meliputi kawasan pertambangan minyak bumi, kawasan pertambangan bitumen cair, kawasan pertambangan lilin bumi, kawasan pertambangan gas alam, kawasan pertambangan bitumen padat, kawasan pertambangan aspal, kawasan pertambangan antrasit, batu bara, batu bara muda, kawasan pertambangan uranium, kawasan pertambangan radium, kawasan pertambangan thorium, kawasan pertambangan nikel, kawasan pertambangan kobalt, kawasan pertambangan timah, kawasan pertambangan besi, kawasan pertambangan mangan, kawasan pertambangan molibden, kawasan pertambangan krom, kawasan pertambangan wolfram, kawasan pertambangan vanadium, kawasan pertambangan titan, kawasan pertambangan bauksit, kawasan pertambangan tembaga, kawasan pertambangan timbal, kawasan pertambangan seng, kawasan pertambangan emas, kawasan pertambangan platina, kawasan pertambangan perak, kawasan pertambangan air raksa, kawasan pertambangan intan, kawasan pertambangan arsen, kawasan pertambangan antimon, kawasan pertambangan bismuth, kawasan pertambangan ytrium, kawasan pertambangan rhuttenium, kawasan cerium, kawasan pertambangan berilumm, kawasan pertambangan korundum, kawasan pertambangan zirkon, kawasan pertambangan kristal kuarsa, kawasan pertambangan kriolit kawasan pertambangan flourspar, kawasan barit, kawasan pertambangan pertambangan yodium, kawasan pertambangan brom, kawasan pertambangan khlor, kawasan pertambangan belerang, kawasan pertambangan gambut, kawasan pertambangan nitrat-nitrat, kawasan pertambangan fospat-fospat, kawasan pertambangan garam batu/halit, kawasan pertambangan asbes, kawasan pertambangan talk, kawasan pertambangan mika, kawasan pertambangan grafit, kawasan pertambangan magnesit, kawasan pertambangan yarosit, kawasan pertambangan leusit, kawasan pertambangan tawar/alum, kawasan pertambangan oker, kawasan pertambangan batu permata, batu setengah permata, kawasan pertambangan pasir kuarsa, kawasan pertambangan kaolin, kawasan pertambangan felspar, kawasan pertambangan gips, kawasan pertambangan bentonit, kawasan pertambangan batu apung, kawasan pertambangan tras, kawasan pertambangan opsidian, kawasan pertambangan perlit, kawasan pertambangan diatome, kawasan pertambangan tanah serap (fuller's earth), kawasan pertambangan marmer, kawasan pertambangan batu tulis, kawasan pertambangan batu kapur, kawasan pertambangan dolomit, kawasan pertambangan kalsit, kawasan pertambangan granit, kawasan pertambangan andesit, kawasan pertambangan basalt, kawasan pertambangan trkhit, kawasan pertambangan tanah liat, kawasan pertambangan pasir sepanjang tidak mengandung unsur-unsur atau mineral golongan A dan B dalam jumlah yang berarti ditinjau dari segi ekonomi dan pertambangan.
e.Kawasan peruntukan industri meliputi kawasan peruntukan industri, kawasan industri (industrial estate) dan komplek industri (industri dasar).
f.Kawasan pariwisata.
g.Kawasan permukiman meliputi kawasan permukiman perkotaan dan kawasan permukiman perdesaan.

Selain kawasan tersebut di atas, digambarkan pula sistem permukiman yang meliputi:
1)Pusat permukiman perkotaan atau kota meliputi:
a)Pusat perbelanjaan dan niaga kota meliputi pusat perbelanjaan kawasan dan pusat perbelanjaan dan niaga kawasan.
b)Pasar meliputi pasar induk.
c)Tempat pembuangan sampah akhir.
2)Pusat permukiman perdesaan meliputi:
a)Pusat perbelanjaan niaga perdesaan dalam hal ini pusat perbelanjaan kawasan perdesaan.
b)Pasar meliputi pasar induk.
c)Tempat pembuangan sampah akhir.
3)Kawasan perdesaan sebagai pusat produksi pertanian.
4)Kawasan perdesaan sebagai pusat pengolahan sumber daya lainnya.
5)Kota tani (Agropolitan Centre).

Jaringan transportasi meliputi:
1)Jaringan transportasi darat meliputi jalan bebas hambatan atau jalan tol, jalan arteri primer, jalan arteri sekunder dan jalan kolektor primer, jalan kolektor sekunder, jalan layang, jalan lokal, jalan lain dan terminal angkutan jalan raya.
2)Jaringan jalan kereta api meliputi jalan kereta api jalur tunggal, jalan kereta api jalur ganda dan stasiun kereta api.
3)Jaringan transportasi sungai meliputi jaringan transportasi danau, jaringan transportasi penyeberangan, jembatan antar pulau dan jaringan transportasi jembatan dan terowongan antar pulau.
4)Jaringan transportasi laut meliputi:
a)Pelabuhan laut utama meliputi pelabuhan laut utama primer, pelabuhan laut utama sekunder, pelabuhan laut utama tersier, pelabuhan pengumpan regional dan pelabuhan pengumpan lokal;
b)Alur pelayanan laut.
5)Jaringan transportasi udara meliputi:
a)Bandar udara pusat penyebaran primer;
b)Bandar udara pusat penyebaran sekunder;
c)Bandar udara pusat penyebaran tersier;
d)Bandar udara bukan pusat penyebaran.

Jaringan kelistrikan dan energi meliputi:
1)Jaringan listrik meliputi transmisi kabel laut, tegangan tinggi dan bangunan pembangkit tenaga listrik, gardu induk listrik ekstra dan gardu induk listrik.
2)Jaringan gas dalam hal ini saluran primer jaringan gas dan saluran sekunder jaringan gas.

Jaringan telekomunikasi meliputi:
1)Stasiun bumi
2)Jaringan transmisi.
3)Kantor Pos besar.
4)Kantor Pos kecil
5)Warung Telekomunikasi (Wartel).
6)Stasiun telepon otomat.
7)Rumah kabel.

Sarana dan prasarana air baku meliputi:
1)Fasilitas air bersih meliputi:
a)Mata air.
b)Pipa air bersih dalam hal ini air bersih utama dan pipa air bersih sekunder.
c)Intake.
d)Bank penampung.
e)Pipa jaringan air bersih meliputi pipa air bersih utama dan pipa air bersih sekunder.
f)Jalur distribusi air bersih.
2)Bendungan
3)Kanal besar.
4)Waduk penampungan air hujan.

Sistem jaringan utilitas meliputi:
1)Saluran air limbah primer dan saluran limbah sekunder.
2)Saluran drainase primer dan saluran drainase sekunder.
3)Jaringan air hujan primer dan jaringan air hujan sekunder.
Pasal 41
Cukup jelas

Pasal 42
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan pengadaan peta wilayah adalah kegiatan yang meliputi pengumpulan data, pengolahan data, dan penggambaran data dalam bentuk peta wilayah.
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas

Pasal 43
Ayat (1)
Pembinaan teknis dilakukan melalui, antara lain, pendidikan dan pelatihan, serta lokakarya untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia dalam pembuatan peta wilayah dan rencana tata ruang wilayah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Ayat (2)
Pembinaan teknis dilakukan melalui, antara lain, pendidikan dan pelatihan, serta lokakarya untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia dalam pembuatan peta tematik wilayah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pasal 44
Pengembangan keterpaduan dilakukan antara lain melalui pemanfaatan teknologi secara terprogram, terarah serta dengan melibatkan segenap sektor/instansi terkait secara sinkron, menggunakan teknologi analog maupun digital, sistem informasi geografis dan visualisasinya, penyebarluasan serta penelitian dan pengembangan. Penyelengggaraan pemetaan untuk penataan ruang wilayah dapat memanfaatkan jaringan koordinasi pada pemerintah pusat dan pemerintah daerah dengan menggunakan sistem informasi geografis sebagai sarana. Sistem informasi geografis merupakan sarana permodelan keuangan dalam penyusunan, evaluasi, permodelan dan manajemen tata ruang wilayah. Oleh karena itu, perlu ditingkatkan penyebarluasan dan kemudahan dalam memperoleh informasi geografis nasional dan kesadaran masyarakat akan arti dan kegunaan sistem informasi geografis secara nasional.

Pasal 45
Ayat (1)
Ayat dimaksud dengan katalog peta wilayah adalah daftar tentang keberadaan dan status peta wilayah. Status peta merupakan keterangan tentang tahun dibuatnya atau diperbaikinya peta, jenis data yang dimuat dalam peta, dan lain sebagainya.
Ayat (2)
Ayat dimaksud dengan katalog peta tematik wilayah adalah daftar tentang keberadaan dan status peta tematik wilayah.

Pasal 46
Cukup jelas

Pasal 47
Yang dimaksud dengan keputusan instansi yang bertanggung jawab adalah keputusan yang dikeluarkan oleh pimpinan tertinggi dari instansi tersebut.
Keputusan tersebut diterbitkan setelah dikonsultasikan dengan lembaga yang ditugasi mengkoordinasikan penataan ruang sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Pasal 48
Dalam kaidah perpetaan, simbol dan atau notasi unsur-unsur dan tata cara penggambarannya mengikuti skala yang dipilih.

Pasal 49
Cukup jelas

Pasal 50
Cukup jelas


[tulis] » komentar « [baca]