info: aktifkan javascript browser untuk tampilan normal...
BAB I
KETENTUAN UMUM

BPRS harus memiliki anggaran dasar yang selain memenuhi persyaratan anggaran dasar sebagaimana diatur dalam ketentuan perundang-undangan juga harus memuat ketentuan bahwa:
a.calon anggota Dewan Komisaris, calon anggota Direksi dan calon anggota DPS diangkat oleh rapat umum pemegang saham;
b.pengangkatan anggota Dewan Komisaris, anggota Direksi dan anggota DPS berlaku efektif setelah mendapat persetujuan Bank Indonesia;
c.tugas, wewenang, tanggung jawab dan hal-hal lain yang terkait dengan persyaratan Dewan Komisaris, Direksi dan DPS harus sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
d.rapat umum pemegang saham BPRS harus menetapkan remunerasi anggota Dewan Komisaris dan Direksi, laporan pertanggungjawaban tahunan, penunjukan dan biaya jasa akuntan publik, dan hal-hal lainnya yang ditetapkan dalam ketentuan Bank Indonesia; dan
e.rapat umum pemegang saham harus dipimpin oleh Komisaris Utama.

BAB II
PERIZINAN

Bagian Pertama
Pendirian BPRS

Pasal 4
(1)BPRS hanya dapat didirikan dan melakukan kegiatan usaha setelah memperoleh izin Bank Indonesia.
(2)Pemberian izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dalam 2 (dua) tahap:
a.persetujuan prinsip, yaitu persetujuan untuk melakukan persiapan pendirian BPRS; dan
b.izin usaha, yaitu izin untuk melakukan kegiatan usaha BPRS setelah persiapan sebagaimana dimaksud dalam huruf a selesai dilakukan.

BPRS hanya dapat didirikan dan/atau dimiliki oleh:
a.warga negara Indonesia dan/atau badan hukum Indonesia yang seluruh pemiliknya warga negara Indonesia;
b.pemerintah daerah; atau
c.dua pihak atau lebih sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b.

Bagian Kedua
Persetujuan Prinsip

Pasal 7
(1)Permohonan persetujuan prinsip pendirian BPRS sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) huruf a diajukan paling kurang oleh salah satu calon pemilik BPRS disertai dengan antara lain:
a.akta pendirian atau rancangan akta pendirian badan hukum Perseroan Terbatas (PT), termasuk anggaran dasar atau rancangan anggaran dasar;
b.daftar pemegang saham berikut rincian besarnya masing-masing kepemilikan saham;
c.daftar calon anggota Dewan Komisaris, anggota Direksi dan anggota DPS disertai dengan dokumen yang akan diatur lebih lanjut dalam Surat Edaran Bank Indonesia;
d.studi kelayakan mengenai potensi ekonomi dan peluang pasar;
e.rencana bisnis (business plan); dan
f.bukti setoran modal paling kurang 30% (tiga puluh persen) dari modal disetor minimum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5.
(2)Calon pemilik BPRS harus memberikan penjelasan mengenai sumber dana, rencana dan tujuan pendirian serta kemampuan keuangan dalam rangka memelihara solvabilitas dan pertumbuhan BPRS.

Pasal 8
(1)Persetujuan prinsip sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) berlaku untuk jangka waktu 1 (satu) tahun terhitung sejak tanggal persetujuan prinsip diberikan dan tidak dapat diperpanjang.
(2)Pihak yang telah mendapat persetujuan prinsip sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilarang melakukan kegiatan usaha sebelum mendapat izin usaha.
(3)Apabila dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) calon pemilik BPRS belum mengajukan permohonan izin usaha kepada Bank Indonesia, maka persetujuan prinsip yang telah diberikan menjadi tidak berlaku.

Bagian Ketiga
Izin Usaha

(1)BPRS yang telah mendapat izin usaha dari Bank Indonesia wajib melaksanakan kegiatan usaha paling lambat 60 (enam puluh) hari terhitung sejak tanggal izin usaha diberikan.
(2)Pelaksanaan kegiatan usaha BPRS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dilaporkan oleh Direksi BPRS kepada Bank Indonesia paling lambat 10 (sepuluh) hari terhitung sejak tanggal pelaksanaan kegiatan usaha.
(3)Apabila dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) BPRS belum melakukan kegiatan usaha, maka izin usaha BPRS yang telah diberikan dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 11
BPRS yang telah mendapat izin usaha dari Bank Indonesia wajib mencantumkan secara jelas frase "Bank Pembiayaan Rakyat Syariah" atau "BPR Syariah" atau "BPRS" pada penulisan namanya dan logo iB pada kantor BPRS yang bersangkutan.

BAB III
KEPEMILIKAN DAN PERUBAHAN MODAL

Bagian Pertama
Kepemilikan

Sumber dana yang digunakan dalam rangka kepemilikan BPRS dilarang:
a.berasal dari pinjaman atau fasilitas pembiayaan dalam bentuk apapun dari bank dan/atau pihak lain; dan/atau
b.berasal dari dan untuk tujuan pencucian uang (money laundering).

Pasal 14
(1)Pihak-pihak yang dapat menjadi pemilik BPRS harus memenuhi persyaratan integritas, yang paling kurang mencakup:
a.memiliki akhlak dan moral yang baik;
b.memiliki komitmen untuk mematuhi peraturan perbankan syariah dan peraturan perundang-undangan yang berlaku; dan
c.memiliki komitmen yang tinggi terhadap pengembangan BPRS yang sehat dan tangguh (sustainable).
(2)BPRS wajib memiliki PSP.
(3)Pemegang saham yang ditunjuk sebagai PSP sebagaimana dimaksud pada ayat (2), selain memenuhi persyaratan integritas sebagaimana pada ayat (1) juga harus memenuhi persyaratan kelayakan keuangan.

Bagian Kedua
Perubahan Kepemilikan

Perubahan modal dasar wajib dilaporkan oleh Direksi BPRS kepada Bank Indonesia paling lambat 10 (sepuluh) hari setelah tanggal diterimanya persetujuan perubahan anggaran dasar dari instansi berwenang.

Pasal 17
Pembelian kembali saham yang telah dikeluarkan oleh BPRS wajib memperoleh persetujuan terlebih dahulu dari Bank Indonesia dan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Pasal 18
BPRS wajib mengadministrasikan dengan tertib daftar pemegang saham dan perubahannya.

BAB IV
DEWAN KOMISARIS, DIREKSI, DEWAN PENGAWAS SYARIAH
DAN PEJABAT EKSEKUTIF

Bagian Kesatu
Dewan Komisaris dan Direksi

(1)Dewan Komisaris melakukan pengawasan atas pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Direksi, serta memberikan nasihat kepada Direksi.
(2)Pengawasan dan nasihat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sedemikian rupa sehingga Direksi dapat mengembangkan dan memitigasi risiko atas kegiatan bisnisnya.
(3)Dewan Komisaris wajib mendorong Direksi BPRS untuk memenuhi prinsip kehati-hatian dan Prinsip Syariah.

Pasal 21
(1)Jumlah anggota Dewan Komisaris paling sedikit 2 (dua) orang dan paling banyak 3 (tiga) orang.
(2)Anggota Dewan Komisaris sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit 1 (satu) orang wajib berdomisili di dekat tempat kedudukan BPRS.
(3)Dewan Komisaris dipimpin oleh Presiden Komisaris atau Komisaris Utama.

(1)Direksi mengelola BPRS sesuai dengan kewenangan dan tanggung jawabnya sebagaimana diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi perbankan syariah.
(2)Direksi bertanggungjawab untuk melaksanakan pengelolaan BPRS sebagai lembaga intermediasi dengan memenuhi prinsip kehati-hatian dan Prinsip Syariah.

Pasal 24
(1)Jumlah anggota Direksi BPRS paling sedikit 2 (dua) orang.
(2)Direksi dipimpin oleh Presiden Direktur atau Direktur Utama.
(3)Paling sedikit 50% (lima puluh persen) dari anggota Direksi termasuk Direktur Utama harus berpengalaman operasional paling kurang:
a.2 (dua) tahun sebagai pejabat di bidang pendanaan dan/atau pembiayaan di perbankan syariah;
b.2 (dua) tahun sebagai pejabat di bidang pendanaan dan/atau perkreditan di perbankan konvensional dan memiliki pengetahuan di bidang perbankan syariah; atau
c.3 (tiga) tahun sebagai direksi atau setingkat dengan direksi di lembaga keuangan mikro syariah.
(4)Anggota Direksi berpendidikan formal paling kurang setingkat Diploma III atau Sarjana Muda.
(5)Anggota Direksi wajib memiliki sertifikasi kelulusan dari lembaga sertifikasi paling lambat 2 (dua) tahun setelah tanggal pengangkatan efektif.
(6)Direktur Utama dan anggota Direksi lainnya wajib bersikap independen dalam menjalankan tugasnya.
(7)Direktur Utama wajib berasal dari pihak independen terhadap PSP.

(1)Rencana pemberhentian dan/atau pengunduran diri anggota Dewan Komisaris dan/atau anggota Direksi wajib disampaikan kepada Bank Indonesia.
(2)Pemberhentian dan/atau pengunduran diri anggota Dewan Komisaris dan/atau anggota Direksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku efektif setelah mendapat penegasan dari Bank Indonesia.

Bagian Kedua
Dewan Pengawas Syariah

Pasal 28
(1)BPRS wajib membentuk DPS yang berkedudukan di kantor pusat BPRS.
(2)Anggota DPS wajib memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a.Integritas, yang paling kurang mencakup:
1.memiliki akhlak dan moral yang baik;
2.memiliki komitmen untuk mematuhi peraturan perbankan syariah dan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
3.memiliki komitmen yang tinggi terhadap pengembangan operasional BPRS yang sehat;
4.tidak termasuk dalam Daftar Kepatutan dan Kelayakan (Daftar Tidak Lulus) sebagaimana diatur dalam ketentuan mengenai uji kemampuan dan kepatutan (fit and proper test) yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.
b.Kompetensi, yang paling kurang memiliki pengetahuan dan pengalaman di bidang syariah mu’amalah dan pengetahuan di bidang perbankan dan/atau keuangan secara umum; dan
c.Reputasi keuangan, yang paling kurang mencakup:
1.tidak termasuk dalam daftar kredit macet;
2.tidak pernah dinyatakan pailit atau menjadi pemegang saham, anggota Dewan Komisaris atau anggota Direksi yang dinyatakan bersalah menyebabkan suatu perseroan dinyatakan pailit, dalam waktu 5 (lima) tahun terakhir sebelum dicalonkan.

Pasal 29
(1)DPS bertugas dan bertanggungjawab memberikan nasihat dan saran kepada Direksi serta mengawasi penerapan Prinsip Syariah dalam penghimpunan dana, pembiayaan dan kegiatan jasa BPRS lainnya.
(2)Pelaksanaan tugas dan tanggung jawab DPS sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi antara lain:
a.mengawasi proses pengembangan produk baru BPRS;
b.meminta fatwa kepada Dewan Syariah Nasional untuk produk baru BPRS yang belum ada fatwanya.
c.melakukan review secara berkala terhadap mekanisme penghimpunan dana dan penyaluran dana serta pelayanan jasa BPRS; dan
d.meminta data dan informasi terkait dengan aspek syariah dari satuan kerja BPRS dalam rangka pelaksanan tugasnya.
(3)Pedoman pelaksanaan tugas dan tanggung jawab DPS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) akan diatur lebih lanjut dalam Surat Edaran Bank Indonesia.

Pasal 30
(1)Jumlah anggota DPS paling sedikit 2 (dua) orang dan paling banyak 3 (tiga) orang.
(2)DPS dipimpin oleh seorang ketua yang berasal dari salah satu anggota DPS.
(3)Anggota DPS dapat merangkap jabatan sebagai anggota DPS paling banyak pada 4 (empat) lembaga keuangan syariah lain.

Pasal 31
(1)Penunjukkan anggota DPS harus mendapat persetujuan rapat umum pemegang saham.
(2)Penunjukkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan setelah mendapat rekomendasi Dewan Syariah Nasional - Majelis Ulama Indonesia.
(3)Pengangkatan anggota DPS berlaku efektif setelah mendapat persetujuan dari Bank Indonesia.

Pasal 32
(1)Rencana pemberhentian dan/atau pengunduran diri anggota DPS wajib disampaikan kepada Bank Indonesia.
(2)Pemberhentian dan/atau pengunduran diri anggota DPS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku efektif setelah mendapat penegasan dari Bank Indonesia.

Bagian Ketiga
Pejabat Eksekutif

Pasal 33
(1)Pengangkatan, penggantian atau pemberhentian Pejabat Eksekutif BPRS wajib dilaporkan oleh Direksi BPRS kepada Bank Indonesia paling lambat 10 (sepuluh) hari terhitung sejak tanggal pengangkatan, penggantian atau pemberhentian efektif.
(2)Apabila menurut penilaian dan penelitian Bank Indonesia, Pejabat Eksekutif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Daftar Kepatutan dan Kelayakan (Daftar Tidak Lulus), Daftar Kredit Macet atau terdapat informasi lain yang menunjukkan tidak terpenuhinya aspek integritas dan kompetensi, maka pengangkatan Pejabat Eksekutif tersebut wajib dibatalkan paling lambat 30 (tiga puluh) hari setelah tanggal surat penegasan dari Bank Indonesia.

BAB V
KEGIATAN USAHA

Pasal 34
BPRS wajib melaksanakan kegiatan usaha sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Perbankan Syariah dengan menerapkan Prinsip Syariah dan prinsip kehati-hatian.

BAB VI
PEMBUKAAN KANTOR BPRS

Bagian Pertama
Kantor Cabang

Pasal 35
(1)Pembukaan Kantor Cabang hanya dapat dilakukan dengan izin Bank Indonesia.
(2)Pembukaan Kantor Cabang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan paling kurang:
a.berlokasi dalam 1 (satu) wilayah propinsi yang sama dengan kantor pusatnya;
b.telah tercantum dalam rencana kerja tahunan BPRS;
c.didukung dengan teknologi sistem informasi yang memadai; dan
d.menambah modal disetor paling kurang sebesar 75% (tujuh puluh lima persen) dari ketentuan modal minimal BPRS sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 sesuai dengan lokasi pembukaan Kantor Cabang.
(3)Khusus untuk BPRS yang berkantor pusat di wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya dan Kabupaten/Kota Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi, selain dapat membuka Kantor Cabang di wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a, juga dapat membuka Kantor Cabang di wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya dan Kabupaten/Kota Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi.

Pasal 36
(1)Pelaksanaan pembukaan Kantor Cabang wajib dilakukan paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal izin diterbitkan.
(2)Pelaksanaan pembukaan Kantor Cabang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dilaporkan oleh Direksi BPRS kepada Bank Indonesia paling lambat 10 (sepuluh) hari setelah tanggal pembukaan.
(3)Apabila dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) BPRS tidak melaksanakan pembukaan Kantor Cabang, maka izin pembukaan Kantor Cabang yang telah diberikan menjadi tidak berlaku.

Bagian Kedua
Kantor Kas dan Kegiatan Kas di luar Kantor

Pasal 37
(1)Rencana pembukaan Kantor Kas dan Kegiatan Kas di luar Kantor harus dicantumkan dalam rencana kerja tahunan BPRS.
(2)Pembukaan Kantor Kas dan Kegiatan Kas di luar Kantor hanya dapat dilakukan di wilayah sekitar kantor BPRS yang menjadi induknya.
(3)Laporan keuangan Kantor Kas dan transaksi keuangan yang dilakukan dalam Kegiatan Kas di luar Kantor wajib digabungkan dengan laporan keuangan kantor BPRS yang menjadi induknya pada hari yang sama.

Pasal 38
Pelaksanaan pembukaan Kantor Kas wajib dilaporkan oleh Direksi BPRS kepada Bank Indonesia paling lambat 10 (sepuluh) setelah tanggal pembukaan.

Pasal 39
(1)Pembukaan Kegiatan Kas di luar Kantor wajib dilaporkan oleh Direksi BPRS kepada Bank Indonesia secara semesteran untuk posisi akhir bulan Juni dan Desember.
(2)Laporan pembukaan Kegiatan Kas di luar Kantor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib disampaikan paling lambat 10 (sepuluh) hari setelah akhir bulan laporan.

BAB VII
PEMINDAHAN ALAMAT KANTOR

Bagian Kesatu
Kantor Pusat dan Kantor Cabang

Pasal 40
(1)Pemindahan alamat kantor pusat dan Kantor Cabang hanya dapat dilakukan dengan izin Bank Indonesia.
(2)Pemindahan alamat kantor pusat dan Kantor Cabang hanya dapat dilakukan dalam wilayah Kabupaten/Kota yang sama.
(3)Pemindahan alamat kantor pusat dan Kantor Cabang harus mempertimbangkan kepentingan nasabah.

Pasal 41
(1)Pemindahan alamat kantor pusat dan Kantor Cabang wajib diumumkan kepada nasabah dan masyarakat paling lambat 10 (sepuluh) hari sebelum pelaksanaan pemindahan alamat kantor.
(2)Pelaksanaan pemindahan alamat kantor pusat dan Kantor Cabang wajib dilaporkan oleh Direksi BPRS kepada Bank Indonesia paling lambat 10 (sepuluh) hari setelah tanggal pelaksanaan pemindahan alamat.
(3)Apabila dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal izin diberikan, BPRS tidak melaksanakan pemindahan alamat kantor, maka izin pemindahan alamat kantor pusat dan Kantor Cabang yang telah diberikan akan ditinjau kembali.

Bagian Kedua
Kantor Kas dan Kegiatan Kas di luar Kantor

Pasal 42
(1)Pemindahan alamat Kantor Kas dan Kegiatan Kas di luar Kantor hanya dapat dilakukan di wilayah sekitar kantor BPRS yang menjadi induknya.
(2)Pemindahan alamat Kantor Kas dan Kegiatan Kas di luar Kantor harus mempertimbangkan kepentingan nasabah.

Pasal 43
(1)Pemindahan alamat Kantor Kas wajib diumumkan kepada nasabah dan masyarakat paling lambat 10 (sepuluh) hari sebelum tanggal pelaksanaan.
(2)Pelaksanaan pemindahan alamat Kantor Kas wajib dilaporkan oleh Direksi BPRS paling lambat 10 (sepuluh) hari setelah tanggal pelaksanaan.

Pasal 44
(1)Pemindahan alamat Kegiatan Kas di luar Kantor wajib dilaporkan oleh Direksi BPRS kepada Bank Indonesia secara semesteran untuk posisi akhir bulan Juni dan Desember.
(2)Laporan pemindahan alamat Kegiatan Kas di luar Kantor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib disampaikan paling lambat 10 (sepuluh) hari setelah akhir bulan laporan.

BAB VIII
PENUTUPAN KANTOR

Bagian Kesatu
Kantor Cabang

Pasal 45
Penutupan Kantor Cabang hanya dapat dilakukan dengan izin Bank Indonesia.

Pasal 46
(1)BPRS yang telah memperoleh izin penutupan Kantor Cabang wajib untuk:
a.menyelesaikan seluruh kewajiban Kantor Cabang;
b.mengumumkan rencana penutupan Kantor Cabang kepada nasabah dan masyarakat paling lambat 3 (tiga) hari sebelum tanggal pelaksanaan penutupan; dan
c.menghentikan seluruh kegiatan usaha pada Kantor Cabang dimaksud.
(2)Pelaksanaan penutupan Kantor Cabang wajib dilaporkan oleh Direksi BPRS paling lambat 10 (sepuluh) hari setelah tanggal pelaksanaan.

Bagian Kedua
Kantor Kas dan Kegiatan Kas di luar Kantor

Pasal 47
Pelaksanaan penutupan Kantor Kas wajib dilaporkan oleh Direksi BPRS paling lambat 10 (sepuluh) hari setelah tanggal penutupan.

Pasal 48
(1)Penutupan Kegiatan Kas di luar Kantor wajib dilaporkan oleh Direksi BPRS kepada Bank Indonesia secara semesteran untuk posisi akhir bulan Juni dan Desember.
(2)Laporan penutupan Kegiatan Kas di luar Kantor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib disampaikan paling lambat 10 (sepuluh) hari setelah akhir bulan laporan.

BAB IX
PERUBAHAN ANGGARAN DASAR DAN NAMA

Bagian Kesatu
Perubahan Anggaran Dasar

Pasal 49
BPRS wajib melaporkan setiap perubahan anggaran dasar BPRS paling lambat 10 (sepuluh) hari setelah diterimanya persetujuan atau penerimaan pemberitahuan perubahan anggaran dasar dari instansi yang berwenang.

Bagian Kedua
Perubahan Nama

Pasal 50
(1)Perubahan nama BPRS wajib dilakukan dengan memenuhi ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
(2)BPRS yang telah memperoleh persetujuan perubahan anggaran dasar terkait penggunaan nama baru dari instansi berwenang wajib mengajukan permohonan mengenai penetapan penggunaan izin usaha yang dimiliki untuk BPRS dengan nama yang baru.
(3)Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diajukan oleh Direksi BPRS paling lambat 30 (tiga puluh) hari setelah perubahan nama mendapat persetujuan dari instansi berwenang.

Pasal 51
Pelaksanaan perubahan nama BPRS wajib diumumkan dalam surat kabar harian lokal atau pada papan pengumuman di kantor kecamatan setempat dan kantor BPRS paling lambat 10 (sepuluh) hari setelah tanggal persetujuan Bank Indonesia.

BAB X
PENCABUTAN IZIN USAHA ATAS PERMINTAAN BPRS

Pasal 52
Bank Indonesia dapat mencabut izin usaha BPRS atas permintaan BPRS.

Pasal 53
(1)BPRS yang telah memperoleh persetujuan pencabutan izin usaha wajib untuk:
a.menghentikan seluruh kegiatan usaha BPRS;
b.mengumumkan kepada nasabah dan masyarakat paling lambat 10 (sepuluh) hari sejak tanggal surat persetujuan persiapan pencabutan izin usaha BPRS; dan
c.segera menyelesaikan seluruh hak dan kewajiban BPRS.
(2)Pelaksanaan penghentian kegiatan BPRS wajib dilaporkan oleh Direksi BPRS paling lambat 10 (sepuluh) hari setelah tanggal penghentian.

Pasal 54
Status badan hukum BPRS berakhir sejak tanggal pengumuman berakhirnya badan hukum BPRS dalam Berita Negara Republik Indonesia.

BAB XI
KANTOR BPRS TIDAK BEROPERASI
PADA HARI KERJA

Pasal 55
Penutupan sementara kantor BPRS di luar hari libur resmi wajib memperoleh persetujuan dari Bank Indonesia.

Pasal 56
(1)BPRS wajib mengajukan persetujuan atas rencana untuk tidak beroperasi pada hari kerja paling lambat 15 (lima belas) hari sebelum tanggal tidak beroperasi.
(2)Rencana kantor BPRS untuk tidak beroperasi pada hari kerja wajib diumumkan kepada masyarakat paling lambat 3 (tiga) hari sebelum tanggal tidak beroperasi.

BAB XII
PENCANTUMAN STATUS DAN LOGO PADA KANTOR BPRS

Pasal 57
(1)BPRS wajib mencantumkan secara jelas nama dan jenis status kantor pada masing-masing kantornya.
(2)BPRS wajib mencantumkan logo iB pada formulir, warkat, produk dan kantor serta Kegiatan Kas di luar Kantor BPRS.

BAB XIII
S A N K S I

Pasal 58
(1)BPRS yang tidak memenuhi ketentuan dalam Pasal 6, Pasal 10 ayat (1), Pasal 11, Pasal 13, Pasal 14 ayat (2), Pasal 15 ayat (2), Pasal 17, Pasal 18, Pasal 19 Pasal 20 ayat (3), Pasal 21 ayat (2), Pasal 22, Pasal 24 ayat (5), ayat (6) dan ayat (7), Pasal 25, Pasal 26 ayat (4), Pasal 27 ayat (1), Pasal 28, Pasal 32 ayat (1), Pasal 33 ayat (2), Pasal 34, Pasal 35 ayat (1), Pasal 36 ayat (1), Pasal 37 ayat (2) dan ayat (3), Pasal 39 ayat (1), Pasal 40 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 42 ayat (1), Pasal 44 ayat (1), Pasal 45 Pasal 46 ayat (1), Pasal 48 ayat (1), Pasal 50, Pasal 53 ayat (1), Pasal 55, Pasal 56 ayat (1), Pasal 57, Pasal 59 ayat (3) dan ayat (4), dan Pasal 60 dapat dikenakan sanksi administratif sesuai Pasal 58 Undang-undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah.
(2)BPRS yang tidak memenuhi ketentuan dalam Pasal 10 ayat (2), Pasal 15 ayat (3), Pasal 16, Pasal 26 ayat (5), Pasal 33 ayat (1), Pasal 36 ayat (2), Pasal 38, Pasal 39 ayat (2), Pasal 41 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 43, Pasal 44 ayat (2), Pasal 46 ayat (2), Pasal 47, Pasal 48 ayat (2), Pasal 49 Pasal 51, Pasal 53 ayat (2) dan Pasal 56 ayat (2) dapat dikenakan sanksi administratif sesuai Pasal 58 Undang-undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, berupa:
a.teguran tertulis dan denda uang sebesar Rp100.000,00 (seratus ribu rupiah) per hari kerja kelambatan untuk setiap laporan dan/atau pengumuman atau paling banyak sebesar Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah) untuk setiap laporan dan/atau pengumuman;
b.teguran tertulis dan denda uang paling banyak sebesar Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah) apabila BPRS tidak menyampaikan laporan dan/atau melaksanakan pengumuman.
(3)BPRS dinyatakan tidak menyampaikan laporan dan/atau pengumuman sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b apabila BPRS belum menyampaikan laporan dan/atau melaksanakan pengumuman setelah 30 (tiga puluh) hari sejak batas akhir penyampaian laporan dan/atau melaksanakan pengumuman.
(4)Pengenaan sanksi teguran tertulis dan denda uang karena tidak menyampaikan laporan dan/atau melaksanakan pengumuman sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b tidak menghapus kewajiban BPRS untuk menyampaikan laporan dan/atau melaksanakan pengumuman.
(5)Setiap pihak yang tidak mentaati ketentuan dalam Pasal 4 ayat (1) dan Pasal 8 ayat (2), dapat dikenakan sanksi pidana sesuai dengan Pasal 59 Undang-undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah.

BAB XIV
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 59
(1)Persetujuan prinsip pendirian BPRS yang telah dikeluarkan oleh Bank Indonesia sebelum berlakunya Peraturan Bank Indonesia ini, dinyatakan tetap berlaku.
(2)Persyaratan anggota Direksi paling kurang berpendidikan formal setingkat Diploma III atau Sarjana Muda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (4), dikecualikan bagi anggota Direksi BPRS yang telah disetujui Bank Indonesia dan diangkat sebelum berlakunya Peraturan Bank Indonesia ini.
(3)Anggota DPS yang tidak memenuhi persyaratan rangkap jabatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (3), wajib menyesuaikan dengan ketentuan tersebut paling lambat 1 (satu) tahun terhitung sejak berlakunya Peraturan Bank Indonesia ini.
(4)BPRS yang telah memiliki izin usaha sebagai BPRS wajib menyesuaikan ketentuan sesuai dengan amanat Undang-Undang Perbankan Syariah.

Pasal 60
BPRS yang belum memenuhi persyaratan modal disetor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5, wajib memenuhi persyaratan modal disetor dengan ketentuan sebagai berikut:
a.paling kurang 70% (tujuh puluh persen) dari jumlah modal disetor yang ditetapkan paling lambat pada tanggal 31 Desember 2010;
b.100% (seratus persen) dari jumlah modal disetor yang ditetapkan paling lambat pada tanggal 31 Desember 2012.

BAB XV
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 61
Peraturan pelaksanaan tentang Bank Pembiayaan Rakyat Syariah diatur lebih lanjut dalam Surat Edaran Bank Indonesia.

Pasal 62
Dengan berlakunya Peraturan Bank Indonesia ini, maka Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/17/PBI/2004 tanggal 1 Juli 2004 tentang Bank Perkreditan Rakyat Berdasarkan Prinsip Syariah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4392) dan Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/25/PBI/2006 tanggal 5 Oktober 2006 tentang Perubahan Atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/17/PBI/2004 tanggal 1 Juli 2004 tentang Bank Perkreditan Rakyat Berdasarkan Prinsip Syariah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4651) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 63
Peraturan Bank Indonesia ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Bank Indonesia ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 1 Juli 2009
Pjs.GUBERNUR BANK INDONESIA,

MIRANDA S. GOELTOM
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 1 Juli 2009
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,

ANDI MATTALATTA



TAMBAHAN
LEMBARAN NEGARA RI



Pasal 1
Cukup jelas

Pasal 2
Cukup jelas

Pasal 3
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Pokok-pokok pengaturan tugas Direksi BPRS dalam anggaran dasar antara lain:
a.tugas dan tanggung jawab;
b.pelaporan;
c.perlindungan dalam pelaksanaan tugas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Dalam hal Komisaris Utama berhalangan, maka Rapat Umum Pemegang Saham dapat dipimpin oleh anggota Dewan Komisaris lainnya.

Pasal 4
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Pemberian persetujuan prinsip pendirian BPRS diberikan oleh Bank Indonesia berdasarkan pada antara lain:
a.penilaian terhadap komitmen calon pemilik BPRS dalam pendirian BPRS;
b.analis terhadap studi kelayakan pendirian BPRS;
c.analisis yang mencakup antara lain tingkat kejenuhan jumlah BPRS serta pemerataan pembangunan ekonomi nasional; dan
d.uji kemampuan dan kepatutan (fit and proper test) terhadap calon PSP, anggota Direksi dan anggota Dewan Komisaris, dan wawancara terhadap calon anggota DPS.
Huruf b
Pemberian izin usaha pendirian BPRS diberikan oleh Bank Indonesia berdasarkan pada antara lain:
a.analis terhadap kesiapan operasional pendirian BPRS; dan
b.uji kemampuan dan kepatutan (fit and proper test) terhadap calon PSP, anggota Direksi dan anggota Dewan Komisaris, dan wawancara terhadap calon anggota DPS, apabila terdapat penggantian.

Pasal 5
Mengingat kondisi dan perkembangan perekonomian daerah yang berbeda-beda, maka Bank Indonesia dapat meminta calon pemilik BPRS untuk menyediakan modal disetor di atas jumlah minimum yang dipersyaratkan.

Pasal 6
Cukup jelas

Pasal 7
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Yang dimaksud dengan "rencana bisnis" adalah rencana kegiatan usaha BPRS yang paling kurang memuat:
1.rencana penghimpunan dan penyaluran dana serta strategi pencapaiannya; dan
2.proyeksi neraca bulanan dan laporan laba rugi kumulatif bulanan selama 12 (dua belas) bulan yang dimulai sejak BPRS melakukan kegiatan operasional;
Huruf f
Cukup jelas.
Ayat (2)
Hal-hal yang harus dijelaskan melalui presentasi di Bank Indonesia antara lain:
a.tujuan dan alasan pendirian BPRS;
b.target pasar penghimpunan dan penyaluran dana;
c.rencana bisnis jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang;
d.sistem teknologi informasi (IT); dan
e.struktur organisasi dan personalia.

Pasal 8
Cukup jelas

Pasal 9
Cukup jelas

Pasal 10
Cukup jelas

Pasal 11
Contoh:
PT Bank Pembiayaan Rakyat Syariah "ABC"; atau
PT BPR Syariah "ABC"; atau
PT BPRS "ABC"; atau
Bank Pembiayaan Rakyat Syariah "ABC"; atau
BPR Syariah "ABC"; atau
BPRS "ABC".

Pasal 12
Yang dimaksud dengan "modal bersih" adalah:
a.penjumlahan dari modal disetor, cadangan umum, cadangan tujuan, laba tahun lalu dan laba tahun berjalan dikurangi penyertaan dan kerugian, untuk badan hukum Perseroan Terbatas/Perusahaan Daerah;
b.penjumlahan dari simpanan pokok, simpanan wajib, hibah, modal penyertaan, dana cadangan, dan sisa hasil usaha, dikurangi penyertaan dan kerugian, untuk badan hukum Koperasi; atau
c.perhitungan modal bersih atau yang dapat dipersamakan dengan itu sesuai jenis badan hukum yang bersangkutan, untuk badan hukum lainnya.

Pasal 13
Huruf a
Tidak termasuk dalam pengertian pihak lain adalah Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, atau lembaga yang bertugas untuk melakukan penyelamatan BPRS sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Huruf b
Cukup jelas

Pasal 14
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Yang dimaksud dengan "memiliki komitmen yang tinggi" antara lain kesediaan untuk membantu mengembangkan BPRS agar menjadi sehat, tangguh dan berkembang (sustainable).
Ayat (2)
PSP berfungsi sebagai koordinator pemegang saham untuk mengefektifkan komunikasi antara pemilik bank dengan stakeholder.
Dalam hal BPRS tidak memiliki PSP, maka salah satu pemegang saham akan ditunjuk sebagai PSP oleh Bank Indonesia.
Ayat (3)
Persyaratan dan tata cara penilaian pemenuhan persyaratan PSP mengikuti ketentuan Bank Indonesia mengenai uji kemampuan dan kepatutan (fit and proper test).

Pasal 15
Ayat (1)
Perubahan kepemilikan BPRS mencakup:
a.penggantian pemegang saham;
b.penambahan pemegang saham baru; dan/atau
c.perubahan komposisi jumlah kepemilikan saham di antara para pemegang saham lama tanpa penggantian maupun penambahan pemegang saham baru;
dengan atau tanpa disertai dengan penambahan modal disetor.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan "tidak diperlakukan sebagai pengambilalihan (akuisisi)" adalah penggantian PSP yang tidak melalui persyaratan dan tatacara pengambilalihan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Ayat (3)
Perubahan kepemilikan BPRS mencakup:
a.penggantian pemegang saham;
b.penambahan pemegang saham baru; dan/atau
c.perubahan komposisi jumlah kepemilikan saham di antara para pemegang saham lama tanpa penggantian maupun penambahan pemegang saham baru;
dengan atau tanpa disertai dengan penambahan modal disetor.

Pasal 16
Cukup jelas

Pasal 17
Cukup jelas

Pasal 18
Cukup jelas

Pasal 19
Persyaratan dan tata cara penilaian pemenuhan persyaratan anggota Dewan Komisaris dan anggota Direksi diatur dalam ketentuan Bank Indonesia mengenai uji kemampuan dan kepatutan (fit and proper test).

Pasal 20
Cukup jelas

Pasal 21
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Kedekatan domisili komisaris dengan tempat kedudukan BPRS pada prinsipnya dimaksudkan agar Dewan Komisaris dapat melaksanakan tugas secara efektif sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Yang dimaksud dengan "berdomisili di dekat" adalah jarak tempuh dapat dicapai melalui perjalanan darat dan/atau air paling lama dalam waktu 2 (dua) jam, pada kondisi normal.
Ayat (3)
Cukup jelas

Pasal 22
Anggota Dewan Komisaris tidak dapat merangkap jabatan sebagai anggota Direksi pada BPRS lain, Bank Perkreditan Rakyat dan/atau Bank Umum.

Pasal 23
Cukup jelas

Pasal 24
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Yang dimaksud dengan "lembaga keuangan mikro syariah" adalah antara lain koperasi simpan pinjam syariah, dan Baitul Maal wa Tamwil (BMT).
Ayat (4)
Pendidikan setingkat Diploma III atau Sarjana Muda harus dibuktikan dengan ijazah yang diterbitkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Yang dimaksud dengan "bersikap independen" adalah pengambilan keputusan dilakukan secara profesional dan obyektif.
Ayat (7)
Penilaian independen didasarkan pada keterkaitan yang bersangkutan pada kepengurusan, kepemilikan dan/atau hubungan keuangan dengan seluruh kelompok usaha Pemegang Saham pengendali.

Pasal 25
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan "berdomisili di dekat" adalah jarak tempuh dapat dicapai melalui perjalanan darat dan/atau air paling lama dalam waktu 2 (dua) jam, pada kondisi normal.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Anggota Direksi BPRS yang merangkap jabatan sebagai pengurus organisasi/lembaga non profit harus melaporkan kepada Bank Indonesia.
Ayat (4)
Cukup jelas

Pasal 26
Ayat (1)
Dalam kondisi tertentu terhadap calon anggota Dewan Komisaris dan/atau calon anggota Direksi BPRS dapat dilakukan proses uji kemampuan dan kepatutan (fit & proper test) sebelum rapat umum pemegang saham.
Ayat (2)
Ketentuan ini berlaku juga terhadap peralihan jabatan dari anggota Direksi menjadi anggota Dewan Komisaris atau sebaliknya.
Pemberian persetujuan terhadap calon anggota Dewan Komisaris dan/atau calon anggota Direksi diberikan oleh Bank Indonesia berdasarkan pada antara lain:
a.penelitian atas kelengkapan dan kebenaran dokumen; dan
b.uji kemampuan dan kepatutan (fit and proper test) terhadap calon anggota Dewan Komisaris dan/atau calon anggota Direksi.
Ayat (3)
Pengajuan calon anggota Dewan Komisaris dan/atau calon anggota Direksi BPRS sebelum rapat umum pemegang saham hanya dapat dilakukan setelah BPRS memberikan penjelasan disertai dengan alasan yang cukup kuat kepada Bank Indonesia.
Ayat (4)
Calon anggota Dewan Komisaris dan/atau calon anggota Direksi yang tidak diangkat oleh rapat umum pemegang saham dalam jangka waktu 45 (empat puluh lima) hari, maka persetujuan yang telah diberikan oleh Bank Indonesia menjadi tidak berlaku.
Ayat (5)
Cukup jelas

Pasal 27
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan "pemberhentian efektif" adalah tanggal setelah pemberhentian yang bersangkutan mendapat persetujuan dari rapat umum pemegang saham, serah terima jabatan, atau mekanisme lainnya sebagaimana diatur dalam anggaran dasar.

Pasal 28
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Angka 1
Cukup jelas.
Angka 2
Cukup jelas.
Angka 3
Yang dimaksud dengan "memiliki komitmen" antara lain kesediaan untuk menyediakan waktu yang cukup kepada BPRS dalam rangka melaksanakan tugasnya secara efektif.
Angka 4
Cukup jelas.
Huruf b
Yang dimaksud dengan "syariah mu’amalah" adalah hubungan sosial, termasuk kegiatan bisnis, yang sejalan atau didasarkan pada prinsip Syariah.
Huruf c
Angka 1
Yang dimaksud dengan "daftar kredit macet" adalah daftar kredit macet sebagaimana diatur dalam ketentuan Bank Indonesia yang mengatur mengenai Sistem Informasi Debitur.
Angka 2
Cukup jelas

Pasal 29
Cukup jelas

Pasal 30
Cukup jelas

Pasal 31
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Persetujuan terhadap calon anggota DPS diberikan berdasarkan pada antara lain:
a.penilaian terhadap komitmen calon anggota DPS dalam pengawasan BPRS dan ketersediaan waktu; dan
b.wawancara terhadap calon anggota DPS.

Pasal 32
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan "pemberhentian efektif" adalah tanggal setelah pemberhentian yang bersangkutan mendapat persetujuan dari rapat umum pemegang saham, serah terima jabatan, atau mekanisme lainnya sebagaimana diatur dalam anggaran dasar.

Pasal 33
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan "informasi lain yang menunjukkan tidak terpenuhinya aspek integritas" antara lain dilakukan melalui wawancara, pengamatan dan pengujian (interview, observation and test) pada saat pelaksanaan pemeriksaan BPRS, informasi track record yang berasal dari hasil pengawasan Bank Indonesia atau sumber-sumber lainnya.

Pasal 34
Cukup jelas

Pasal 35
Ayat (1)
Persetujuan atas permohonan pembukaan Kantor Cabang diberikan berdasarkan pada antara lain:
a.penilaian terhadap kesiapan operasional Kantor Cabang;
b.analisis atas hasil studi kelayakan yang disampaikan oleh BPRS;
c.analisis atas kinerja keuangan BPRS, antara lain:
1.rasio Non Performing Financing (NPF) gross tidak lebih dari 15%;
2.tidak dalam keadaan rugi yang semakin besar; dan
3.memiliki peringkat komposit paling rendah 3 (tiga) selama 2 (dua) periode penilaian terakhir.
d.pemenuhan persyaratan modal; dan
e.tidak terdapat pelampauan dan/atau pelanggaran Batas Maksimum Penyaluran Dana.
Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Yang dimaksud dengan "teknologi sistem informasi yang memadai" adalah teknologi sistem informasi yang memungkinkan adanya pencatatan transaksi nasabah di Kantor Cabang secara otomasi dan online dengan kantor lain BPRS.
Huruf d
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas

Pasal 36
Cukup jelas.

Pasal 37
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan "wilayah sekitar" adalah antara lain dalam wilayah Kabupaten/Kota yang sama dengan tempat kedudukan kantor BPRS yang menjadi induknya.
Ayat (3)
Cukup jelas

Pasal 38
Cukup jelas

Pasal 39
Cukup jelas

Pasal 40
Ayat (1)
Persetujuan atas permohonan izin pemindahan alamat kantor pusat dan Kantor Cabang diberikan berdasarkan pertimbangan antara lain:
a.alasan pemindahan kantor;
b.kesiapan operasional kantor pusat dan Kantor Cabang; dan
c.hasil analisis atas kinerja pada lokasi kantor lama dan studi kelayakan usaha pada lokasi kantor yang baru.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan antara lain:
a.jarak lokasi kantor lama dengan yang baru;
b.jumlah nasabah yang telah dibiayai; dan
c.infrastruktur penunjang pada lokasi kantor yang baru.

Pasal 41
Ayat (1)
Pengumuman dilakukan dalam surat kabar harian lokal atau dengan menempelkan pengumuman di lokasi kantor yang lama.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan "ditinjau kembali" adalah izin pemindahan dibatalkan apabila BPRS tidak dapat menyampaikan alasan yang relevan atas keterlambatan pelaksanaan pemindahan kantor atau diperpanjang apabila penundaan disebabkan oleh hal-hal yang tidak dapat dihindari (force majeur) oleh BPRS atau pertimbangan lain yang dapat diterima.

Pasal 42
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan "wilayah sekitar" adalah antara lain dalam wilayah Kabupaten/Kota yang sama dengan tempat kedudukan kantor BPRS yang menjadi induknya.
Ayat (2)
Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan antara lain:
a.jarak lokasi kantor lama dengan yang baru;
b.jumlah nasabah yang telah dibiayai; dan
c.infrastruktur penunjang pada lokasi kantor yang baru.

Pasal 43
Ayat (1)
Pengumuman dapat dilakukan antara lain dengan menempelkan pengumuman di lokasi kantor yang lama.
Ayat (2)
Cukup jelas.

Pasal 44
Cukup jelas

Pasal 45
Cukup jelas

Pasal 46
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Pengumuman dilakukan dalam surat kabar harian lokal atau dengan menempelkan pengumuman di lokasi kantor yang lama.
Huruf c
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas

Pasal 47
Cukup jelas

Pasal 48
Cukup jelas

Pasal 49
Cukup jelas

Pasal 50
Cukup jelas

Pasal 51
Cukup jelas

Pasal 52
Cukup jelas.

Pasal 53
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Pengumuman dilakukan dalam surat kabar harian lokal atau dengan menempelkan pengumuman di kantor kecamatan dan lokasi kantor BPRS yang lama.
Pengumumam pencabutan izin usaha memuat antara lain rencana pembubaran badan hukum BPRS, rencana penyelesaian seluruh hak dan kewajiban BPRS.
Huruf c
Termasuk dalam penyelesaian kewajiban dimaksud antara lain penyelesaian kewajiban kepada nasabah dan kreditur lainnya, pembayaran gaji terhutang, pembayaran biaya kantor, pajak terhutang dan biaya-biaya lain yang relevan.
Ayat (2)
Cukup jelas

Pasal 54
Pembubaran badan hukum BPRS dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 55
Cukup jelas.

Pasal 56
Cukup jelas

Pasal 57
Ayat (1)
Kantor BPRS yang dimaksud meliputi kantor pusat, Kantor Cabang dan Kantor Kas.
Pencantuman nama dan jenis kantor BPRS dapat dilakukan antara lain melalui papan nama dan/atau pada dinding atau kaca depan kantor BPRS agar mudah terlihat oleh nasabah.
Contoh:
1.Penulisan Kantor Cabang
PT BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARIAH/ BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARIAH/ PT BPR SYARIAH/ BPR SYARIAH/ PT BPRS/BPRS/"XXX"
Kantor Cabang "YYY".
2.Penulisan Kantor Kas
PT BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARIAH/ BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARIAH/ PT BPR SYARIAH/ BPR SYARIAH/ PT BPRS/BPRS/"XXX"
Kantor Kas "YYY".
Ayat (2)
Cukup jelas

Pasal 58
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Laporan dinyatakan diterima oleh Bank Indonesia apabila telah disampaikan secara lengkap dengan memuat data, informasi dan/atau dokumen yang dipersyaratkan sesuai jenis laporannya.
Tanggal penerimaan laporan oleh Bank Indonesia adalah tanggal:
a.stempel pos (time stamp), apabila laporan dikirimkan melalui P.T. Pos Indonesia; atau
b.penerimaan laporan, apabila laporan disampaikan secara langsung oleh BUK atau UUS atau dikirimkan melalui perusahaan jasa pengiriman selain P.T. Pos Indonesia.
Huruf a
Jumlah sanksi kewajiban membayar dihitung sebagai berikut:
Jumlah kewajiban membayar =
jumlah hari kerja keterlambatan x Rp100.000,00 x jumlah laporan/pengumuman.
Huruf b
Jumlah sanksi kewajiban membayar dihitung sebagai berikut:
Jumlah kewajiban membayar =
Rp1.000.000,00 x jumlah laporan/pengumuman.

BPRS yang dikenakan sanksi tidak menyampaikan laporan/pengumuman, tidak dikenakan sanksi keterlambatan penyampaian laporan/pengumuman.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas

Pasal 59
Cukup jelas

Pasal 60
Cukup jelas

Pasal 61
Cukup jelas

Pasal 62
Cukup jelas

Pasal 63
Cukup jelas


[tulis] » komentar « [baca]
LDj © 2010

© LDj - 2010 • ke atas