info: aktifkan javascript browser untuk tampilan normal...
Pasal I
Beberapa ketentuan dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2008 Tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender Di Daerah diubah sebagai berikut:

1.Ketentuan angka 6 dan angka 7 Pasal 1 diubah, di antara angka 7 dan angka 8 disisipkan 1 (satu) angka yakni angka 7a dan di antara angka 9 dan angka 10 disisipkan 1 (satu) angka yakni angka 9a, sehingga Pasal 1 berbunyi sebagai berikut:

"Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
1.Pengarusutamaan Gender di daerah yang selanjutnya disebut PUG adalah strategi yang dibangun untuk mengintegrasikan gender menjadi laki dan perempuan.
2.Gender adalah konsep yang mengacu pada pembedaan peran, fungsi dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan yang terjadi akibat dari dan dapat berubah oleh keadaan sosial dan budaya masyarakat.
3.Kesetaraan Gender adalah kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan dan hak-haknya sebagai manusia, agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan, dan kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan.
4.Keadilan Gender adalah suatu proses untuk menjadi adil terhadap laki-laki dan perempuan.
5.Analisis gender adalah proses analisis data gender secara sistematis tentang kondisi laki-laki dan perempuan khususnya berkaitan dengan tingkat akses, partisipasi, kontrol dan perolehan manfaat dalam proses pembangunan untuk mengungkapkan akar permasalahan terjadinya ketimpangan kedudukan, fungsi, peran dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan.
6.Perencanaan Responsif Gender adalah perencanaan untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender, yang dilakukan melalui pengintegrasian pengalaman, aspirasi, kebutuhan, potensi, dan penyelesaian permasalahan perempuan dan laki-laki.
7.Anggaran Responsif Gender yang selanjutnya disingkat ARG adalah anggaran yang respon terhadap kebutuhan perempuan dan laki-laki yang tujuannya untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender.
7a.Gender Budget Statement yang selanjutnya disingkat GBS adalah dokumen yang menginformasikan suatu output kegiatan telah responsif gender terhadap isu gender yang ada, dan/atau suatu biaya telah dialokasikan pada output kegiatan untuk menangani permasalahan kesenjangan gender.
8.Pemerintahan daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
9.Pemerintah Daerah adalah gubernur, bupati, walikota, dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah.
9a.Satuan Kerja Perangkat Daerah yang selanjutnya disingkat SKPD adalah perangkat daerah pada pemerintah daerah.
10.Kecamatan adalah wilayah kerja camat sebagai perangkat daerah kabupaten dan daerah kota.
11.Kelurahan adalah wilayah kerja lurah sebagai perangkat daerah kabupaten dan/atau daerah kota di bawah kecamatan.
12.Desa atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
13.Focal Point PUG adalah aparatur SKPD yang mempunyai kemampuan untuk melakukan pengarusutamaan gender di unit kerjanya masing-masing.
14.Kelompok Kerja Pengarustamaan Gender yang selanjutnya disebut Pokja PUG adalah wadah konsultasi bagi pelaksana dan penggerak pengarustamaan gender dari berbagai instansi/lembaga di daerah."

2.Ketentuan Pasal 4 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:

"Pasal 4
(1)Pemerintah daerah berkewajiban menyusun kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan responsif gender yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah atau RPJMD, Rencana Strategis SKPD, dan Rencana Kerja SKPD.
(2)Penyusunan kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan responsif gender sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui analisis gender."

3.Ketentuan ayat (2) dan ayat (3) Pasal 5 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:

"
(1)Bappeda mengoordinasikan penyusunan RPJMD, Renstra SKPD, rencana kerja dan anggaran SKPD yang responsif gender.
(2)Rencana kerja dan anggaran SKPD yang responsif gender sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan peraturan gubernur, bupati/walikota."

6.Ketentuan ayat (1) Pasal 7 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:

"Pasal 7
(1)Gubernur bertangung jawab atas pelaksanaan pengarusutamaan gender di provinsi.
(2)Pelaksanaan tanggung jawab gubernur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibantu oleh wakil gubernur."

7.Ketentuan Pasal 8 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:

"Pasal 8
Gubernur menetapkan SKPD yang membidangi tugas pemberdayaan perempuan sebagai koordinator penyelenggaraan pengarusutamaan gender di provinsi."

8.Ketentuan ayat (2) Pasal 9 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:

"Pokja PUG provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 mempunyai tugas:
a.mempromosikan dan memfasilitasi PUG kepada masing-masing SKPD;
b.melaksanakan sosialisasi dan advokasi PUG kepada pemerintah kabupaten/kota;
c.menyusun program kerja setiap tahun;
d.mendorong terwujudnya perencanaan dan penganggaran yang responsif gender;
e.menyusun rencana kerja Pokja PUG setiap tahun;
f.bertanggung jawab kepada gubernur melalui wakil gubernur;
g.merumuskan rekomendasi kebijakan kepada bupati/walikota;
h.menyusun Profil Gender Provinsi;
i.melakukan pemantauan pelaksanaan PUG di masing-masing instansi;
j.menetapkan tim teknis untuk melakukan analisis terhadap anggaran daerah;
k.menyusun Rencana Aksi Daerah (RANDA) PUG di provinsi; dan
l.mendorong dilaksanakannya pemilihan dan penetapan focal point di masing-masing SKPD."

10.Ketentuan ayat (1) Pasal 11 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:

"Pasal 11
(1)Tim Teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf j beranggotakan aparatur yang memahami analisis anggaran yang responsif gender.
(2)Rencana Aksi Daerah (RANDA) PUG di provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf k memuat:
a.PUG dalam peraturan perundang-undangan di daerah;
b.PUG dalam siklus pembangunan di daerah;
c.penguatan kelembagaan PUG di daerah; dan
d.penguatan peran serta masyarakat di daerah."

11.Ketentuan ayat (1) Pasal 12 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:

"Bupati/Walikota menetapkan SKPD yang membidangi tugas pemberdayaan perempuan sebagai koordinator penyelenggaraan pengarusutamaan gender di kabupaten/kota."

13.Ketentuan ayat (3) Pasal 14 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:

"Pasal 14
(1)Dalam upaya percepatan pelembagaan pengarusutamaan gender di seluruh SKPD kabupaten/kota dibentuk Pokja PUG kabupaten/kota.
(2)Anggota Pokja PUG adalah seluruh kepala/pimpinan SKPD.
(3)Bupati/walikota menetapkan ketua Bappeda sebagai Ketua Pokja PUG kabupaten/kota dan Kepala SKPD yang membidangi tugas pemberdayaan perempuan sebagai Kepala Sekretariat Pokja PUG kabupaten/kota.
(4)Pembentukan Pokja PUG kabupaten/kota ditetapkan dengan keputusan bupati/walikota."

14.Ketentuan huruf d dan huruf h Pasal 15 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:

"
(1)Tim Teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf j beranggotakan aparatur yang memahami analisis anggaran responsif gender.
(2)Rencana Aksi Daerah (RANDA) PUG di kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf k memuat:
a.PUG dalam peraturan perundang-undangan di daerah;
b.PUG dalam siklus pembangunan di daerah;
c.penguatan kelembagaan PUG di daerah; dan
d.penguatan peran serta masyarakat di daerah."

16.Ketentuan ayat (1), ayat (2) huruf b dan huruf f diubah serta ayat (3) dihapus, sehingga Pasal 17 berbunyi sebagai berikut:

"Pasal 17
(1)Focal Point PUG pada setiap SKPD di provinsi dan kabupaten/kota terdiri dari pejabat dan/atau staf yang membidangi tugas perencanaan dan/atau program.
(2)Focal Point PUG sebagaimana dimaksud pada ayat (1), mempunyai tugas:
a.mempromosikan pengarusutamaan gender pada unit kerja;
b.memfasilitasi penyusunan rencana kerja dan penganggaran SKPD yang responsif gender;
c.melaksanakan pelatihan, sosialisasi, advokasi pengarusutamaan gender kepada seluruh pejabat dan staf di lingkungan SKPD;
d.melaporkan pelaksanaan PUG kepada pimpinan SKPD;
e.mendorong pelaksanaan analisis gender terhadap kebijakan, program, dan kegiatan pada unit kerja; dan
f.memfasilitasi penyusunan data gender pada masing-masing SKPD;
(3)Hapus
(4)Focal Point PUG sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dipilih dan ditetapkan oleh kepala/pimpinan SKPD."

17.Ketentuan ayat (1) huruf f, huruf g dan ayat (2) dihapus, sehingga Pasal 23 berbunyi sebagai berikut:

"Pasal 23
(1)Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Pemberdayaan Masyarakat dan Desa melakukan pembinaan umum terhadap pelaksanaan PUG di daerah yang meliputi:
a.pemberian pedoman dan panduan;
b.penguatan kapasitas aparatur pemerintah daerah;
c.penguatan kapasitas Tim Teknis Analisis PUG, Pokja PUG provinsi, kabupaten dan kota;
d.pemantauan pelaksanaan PUG antar susunan pemerintahan; dan
e.evaluasi pelaksanaan PUG.
f.hapus.
g.hapus.
(2)Hapus."

18.Pasal 28 dihapus.

Pasal II
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 28 Desember 2011
MENTERI DALAM NEGERI
REPUBLIK INDONESIA,

GAMAWAN FAUZI
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 28 Desember 2011
MENTERI HUKUM DAN HAM
REPUBLIK INDONESIA,

AMIR SYAMSUDDIN

[tulis] » komentar « [baca]
LDj © 2010

© LDj - 2010 • ke atas