info: aktifkan javascript browser untuk tampilan normal...
BABI
KETENTUAN UMUM

Ruang lingkup dan sistematika Peraturan Kapolri ini meliputi:
a.ketentuan umum;
b.dasar pertimbangan, manfaat dan prinsip penerapan Polmas;
c.konsepsi Polmas;
d.pola penerapan Polmas;
e.pelaksana/pengemban Polmas;
f.manajemen perubahan untuk keberhasilan Polmas;
g.manajemen penyelenggaraan Polmas;
h.evaluasi keberhasilan Polmas;
i.percepatan dan pengembangan Polmas;

BABII
DASAR PERTIMBANGAN, MANFAAT DAN PRINSIP PENERAPAN POLMAS

Bagian Kesatu
Dasar Pertimbangan Penerapan Polmas

Pasal 4
(1)Pola penyelenggaraan pemolisian yang bertumpu kepada konsep peningkatan jumlah polisi dan/atau peningkatan intensitas kegiatan polisi (misalnya patroli dan penindakan pelanggaran) tidak mampu mengatasi atau menekan angka gangguan Kamtibmas yang berkembang pesat di dalam masyarakat.
(2)Pemolisian lebih efektif dengan mengalihkan pendekatan konvensional ke pendekatan modern yaitu penerapan Polmas menekankan upaya pemecahan masalah yang terkait dengan kejahatan dan ketidaktertiban secara proaktif bersama-sama dengan masyarakat.
(3)Praktek keterlibatan masyarakat tradisional dalam pemolisian sudah dikenal di Indonesia di antaranya dalam bentuk: ronda kampung, jogo boyo, jogo tirto, pecalang dan sebagainya.
(4)Pola-pola penyelesaian masalah masyarakat melalui adat kebiasaan sudah umum diterapkan di dalam masyarakat tradisional, yang kesemuanya merupakan pola-pola pemecahan masalah dan pencegahan serta pembinaan ketentraman dan kerukunan masyarakat yang mendasarkan pada asas kemitraan, kebersamaan dan keharmonisan di dalam masyarakat.
(5)Paradigma Reformasi dalam negara demokrasi yang plural menuntut agar Polri mampu melaksanakan tugas dengan berpegang pada prinsip-prinsip Hak Asasi Manusia, berperan sebagai pelindung dan pelayan masyarakat, bukan mengambil peran sebagai penguasa. Reformasi juga menghendaki keterbukaan Polri serta kepekaan Polri terhadap aspirasi rakyat serta memperhatikan kepentingan, kebutuhan dan harapan warga.
(6)Penerapan Polmas sebagai falsafah dan strategi merupakan langkah yang tepat untuk meningkatkan kualitas pelayanan Polri kepada masyarakat melalui kemitraan dengan warga masyarakat untuk mewujudkan pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat dalam era demokrasi dan penegakan hak asasi manusia.

Bagian Kedua
Manfaat Penerapan Polmas

Prinsip-prinsip penyelenggaraan Polmas meliputi:
a.komunikasi intensif: praktek pemolisian yang menekankan kesepakatan dengan warga, bukan pemaksaan berarti bahwa Polri menjalin komunikasi intensif dengan masyarakat melalui tatap muka, telekomunikasi, surat, pertemuan-pertemuan, forum-forum komunikasi, diskusi dan sebagainya di kalangan masyarakat dalam rangka membahas masalah keamanan;
b.kesetaraan: asas kesejajaran kedudukan antara warga masyarakat/komunitas dan petugas kepolisian yang saling menghormati martabat, hak dan kewajiban, dan menghargai perbedaan pendapat. asas kesetaraan juga mensyaratkan upaya memberi layanan kepada semua kelompok masyarakat, dengan memperhatikan kebutuhan-kebutuhan khusus perempuan, anak, lansia, serta kelompok-kelompok rentan lainnya;
c.kemitraan: Polri membangun interaksi dengan masyarakat berdasarkan kesetaraan/kesejajaran, sikap saling mempercayai dan menghormati dalam upaya pencegahan kejahatan, pemecahan masalah keamanan dalam komunitas/masyarakat, serta peningkatan kualitas kehidupan masyarakat;
d.transparansi: asas keterbukaan polisi terhadap warga masyarakat/komunitas serta pihak-pihak lain yang terkait dengan upaya menjamin rasa aman, tertib dan tenteram, agar dapat bersama-sama memahami permasalahan, tidak saling curiga dan dapat menumbuhkan kepercayaan satu sama lain;
e.akuntabilitas: penerapan asas pertangunjawaban Polri yang jelas, sehingga setiap tindakannya dapat dipertanggungjawabkan sesuai prosedur dan hukum yang berlaku dengan tolok ukur yang jelas, seimbang dan obyektif;
f.partisipasi: kesadaran polisi dan masyarakat untuk secara aktif ikut dalam berbagai kegiatan komunitas/masyarakat untuk mendorong keterlibatan warga dalam upaya memelihara rasa aman dan tertib, memberi informasi, saran dan masukan, serta aktif dalam proses pengambilan keputusan guna memecahkan permasalahan kamtibmas, sambil menghindari kecenderungan main hakim sendiri;
g.personalisasi: pendekatan polri yang lebih mengutamakan hubungan pribadi langsung daripada hubungan formal/birokrasi yang umumnya lebih kaku, demi menciptakan tata hubungan yang erat dengan warga masyarakat/komunitas;
h.desentralisasi: penerapan polmas mensyaratkan adanya desentralisasi kewenangan kepada anggota polisi di tingkat lokal untuk menegakkan hukum dan memecahkan masalah;
i.otonomisasi: pemberian kewenangan atau keleluasaan kepada kesatuan kewilayahan untuk mengelola Polmas di wilayahnya;
j.proaktif: segala bentuk kegiatan pemberian layanan polisi kepada masyarakat atas inisiatif polisi dengan atau tanpa ada laporan/permintaan bantuan dari masyarakat berkaitan dengan penyelenggaraan keamanan, ketertiban dan penegakan hukum;
k.orientasi pada pemecahan masalah: polisi bersama-sama dengan warga masyarakat/komunitas melakukan identifikasi dan menganalisa masalah, menetapkan prioritas dan respons terhadap sumber/akar masalah;
l.orientasi pada pelayanan: bahwa pelaksanaan tugas Polmas lebih mengutamakan pelayanan polisi kepada masyarakat berdasarkan pemahaman bahwa pelayanan adalah hak masyarakat yang harus dilaksanakan oleh anggota polisi sebagai kewajibannya.

BABIII
KONSEPSI POLMAS

Bagian Kesatu
Tujuan Polmas

Pasal 7
(1)Tujuan Polmas adalah terwujudnya kemitraan polisi dan masyarakat yang didasari kesadaran bersama dalam rangka menanggulangi permasalahan yang dapat mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat guna menciptakan rasa aman, tertib dan tentram serta meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.
(2)Upaya menanggulangi permasalahan yang dapat mengganggu keamanan, ketertiban dan ketentraman masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) mencakup rangkaian upaya pencegahan dengan melakukan identifikasi akar permasalahan, menganalisis, menetapkan prioritas tindakan, melakukan evaluasi dan evaluasi ulang atas efektifitas tindakan.
(3)Kemitraan polisi dan masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi mekanisme kemitraan yang mencakup keseluruhan proses manajemen, mulai dari perencanaan, pengawasan, pengendalian, analisis dan evaluasi atas pelaksanaannya. Kemitraan tersebut merupakan proses yang berkelanjutan.
(4)Dalam rangka mewujudkan masyarakat yang aman, tertib dan tenteram, warga masyarakat diberdayakan untuk ikut aktif menemukan, mengidentifikasi, menganalisis dan mencari jalan ke luar bagi masalah-masalah yang mengganggu keamanan, ketertiban dan masalah sosial lainnya. Masalah yang dapat diatasi oleh masyarakat terbatas pada masalah yang ringan, tidak termasuk perkara pelanggaran hukum yang serius.

Bagian Kedua
Falsafah Polmas

Pasal 8
(1)Falsafah Polmas mendasari pemahaman bahwa masyarakat bukan merupakan obyek pembinaan dari petugas yang berperan sebagai subyek penyelenggara keamanan, melainkan masyarakat harus menjadi subyek dan mitra yang aktif dalam memelihara keamanan dan ketertiban di lingkungannya sesuai dengan hukum dan hak asasi manusia.
(2)Falsafah Polmas mendasari pemahaman bahwa penyelenggaraan keamanan tidak akan berhasil bila hanya ditumpukan kepada keaktifan petugas polisi semata, melainkan harus lebih ditumpukan kepada kemitraan petugas dengan warga masyarakat yang bersama-sama aktif mengatasi permasalahan di lingkungannya.
(3)Falsafah Polmas menghendaki agar petugas polisi di tengah masyarakat tidak berpenampilan sebagai alat hukum atau pelaksana undang-undang yang hanya menekankan penindakan hukum atau mencari kesalahan warga, melainkan lebih menitikberatkan kepada upaya membangun kepercayaan masyarakat terhadap Polri melalui kemitraan yang didasari oleh prinsip demokrasi dan hak asasi manusia, agar warga masyarakat tergugah kesadaran dan kepatuhan hukumnya. Oleh karenanya, fungsi keteladanan petugas Polri menjadi sangat penting.
(4)Sebagai syarat agar dapat membangkitkan dan mengembangkan kesadaran warga masyarakat untuk bermitra dengan polisi, maka setiap petugas polisi harus senantiasa bersikap dan berperilaku sebagai mitra masyarakat yang lebih menonjolkan pelayanan, menghargai kesetaraan antara polisi dan warga masyarakat serta senantiasa memfasilitasi masyarakat untuk berpartisipasi dalam rangka mengamankan lingkungannya.
(5)Upaya membangun kepercayaan masyarakat terhadap polisi harus menjadi prioritas dalam pendekatan tugas kepolisian di lapangan karena timbulnya kepercayaan masyarakat (trust) terhadap Polri merupakan kunci pokok keberhasilan Polmas. Kepercayaan ini dibangun melalui komunikasi dua arah yang intensif antara polisi dan warga masyarakat dalam pola kemitraan yang setara.
(6)Penerapan Polmas pada dasarnya sejalan dengan nilai-nilai dasar budaya bangsa Indonesia yang terkandung dalam konsep Siskamswakarsa, sehingga penerapannya tidak harus melalui penciptaan konsep yang baru melainkan lebih mengutamakan pengembangan sistem yang sudah ada yang disesuaikan dengan kekinian penyelenggaraan fungsi kepolisian modern dalam masyarakat sipil di era demokrasi.
(7)Untuk menjamin terpeliharanya rasa aman, tertib dan tenteram dalam masyarakat, polisi dan warga masyarakat menggalang kemitraan untuk memelihara dan menumbuhkembangkan pengelolaan keamanan dan ketertiban lingkungan. Kemitraan ini dilandasi norma-norma sosial dan/atau kesepakatan-kesepakatan lokal dengan tetap mengindahkan peraturan-peraturan hukum nasional yang berlaku dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip hak asasi manusia dan kebebasan individu yang bertanggungjawab dalam kehidupan masyarakat yang demokratis.

Bagian Ketiga
Strategi Polmas

Sasaran Strategi Polmas meliputi:
a.tumbuhnya kesadaran dan kepedulian masyarakat/komunitas terhadap potensi gangguan keamanan, ketertiban dan ketentraman di lingkungannya;
b.meningkatnya kemampuan masyarakat bersama dengan polisi untuk mengidentifikasi akar permasalahan yang terjadi di lingkungannya, melakukan analisis dan memecahkan masalahnya;
c.meningkatnya kemampuan masyarakat untuk mengatasi permasalahan yang ada bersama-sama dengan polisi dan dengan cara yang tidak melanggar hukum;
d.meningkatnya kesadaran hukum masyarakat;
e.meningkatnya partisipasi masyarakat dalam menciptakan Kamtibmas di lingkungannya masing-masing;
f.menurunnya peristiwa yang mengganggu keamanan, ketertiban dan ketenteraman masyarakat/komunitas.

Pasal 11
Metode Polmas adalah melalui penyelenggaraan kemitraan antara Polri dengan warga masyarakat yang didasari prinsip kesetaraan guna membangun kepercayaan warga masyarakat terhadap Polri, sehingga terwujud kebersamaan dalam rangka memahami masalah kamtibmas dan masalah sosial, menganalisis masalah, mengusulkan alternatif-alternatif solusi yang tepat dalam rangka menciptakan rasa aman, tentram dan ketertiban (tidak hanya berdasarkan pada hukum pidana dan penangkapan), melakukan evaluasi serta evaluasi ulang terhadap efektifitas solusi yang dipilih.

Persyaratan guna membangkitkan hubungan kemitraan dan kepercayaan masyarakat kepada Polri dalam penerapan strategi Polmas:
a.terwujudnya sikap perilaku yang didasari oleh keyakinan, ketulusan dan keikhlasan semua pimpinan pada setiap tingkatan organisasi polri beserta seluruh anggota jajarannya untuk meningkatkan pelaksanaan Polmas;
b.terwujudnya sikap dan perilaku segenap personel Polri baik dalam pelaksanaan tugas sehari-hari maupun dalam kehidupan pribadi sebagai anggota masyarakat yang menyadari bahwa warga masyarakat/komunitas adalah pemangku kepentingan (stakeholder) kepada siapa mereka dituntut menyajikan layanan kepolisian yang optimal. sikap, perilaku dan kesadaran ini akan meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada Polri;
c.terwujudnya komunikasi yang intensif antara warga masyarakat dengan Polri yang didasari prinsip kesetaraan saling menghargai, saling menghormati hak dan kewajiban masing-masing;
d.terwujudnya kesadaran masyarakat walaupun berbeda latar belakang dan kepentingan bahwa penciptaan situasi keamanan dan ketertiban umum adalah tanggung jawab bersama.

Pasal 14
Bentuk-bentuk kegiatan dalam penerapan Polmas antara lain:
a.kegiatan pelayanan dan perlindungan warga masyarakat:
1)intensifikasi kegiatan pembinaan masyarakat;
2)intensifikasi patroli dan tatap muka petugas Polri dengan warga.
b.komunikasi intensif petugas Polri - warga masyarakat:
1)intensifikasi kontak person antara petugas dengan warga secara langsung/tatap muka, atau melalui sarana komunikasi;
2)pemanfaatan sarana media pers cetak maupun elektronik;
3)penyelenggaraan forum komunikasi Polri dan masyarakat.
c.pemanfaatan FKPM untuk pemecahan masalah, eliminasi akar permasalahan dan pengendalian masalah sosial.
1)pemanfaatan tempat, balai pertemuan untuk forum komunikasi masyarakat;
2)pemanfaatan forum pertemuan yang dilaksanakan warga masyarakat secara rutin, periodik atau insidentil.
d.pendekatan dan komunikasi intensif dengan tokoh-tokoh formal dan informal (adat, agama, pemuda, tokoh perempuan/ibu, pengusaha, profesi, dsb) dalam rangka mengeliminasi akar permasalahan dan pemecahan masalah keamanan/ketertiban;
e.pemberdayaan pranata sosial untuk pengendalian sosial, eliminasi akar masalah dan pemecahan masalah sosial;
f.penerapan Konsep Alternative Dispute Resolution (pola penyelesaian masalah sosial melalui jalur alternatif yang lebih efektif berupa upaya menetralisir masalah selain melalui proses hukum atau non litigasi), misalnya melalui upaya perdamaian;
g.pendidikan/pelatihan ketrampilan penanggulangan gangguan kamtibmas;
h.koordinasi dan kerjasama dengan kelompok formal ataupun informal dalam rangka pemecahan masalah Kamtibmas.

BABIV
POLA PENERAPAN POLMAS

Bagian Kesatu
Model Penerapan Polmas

Polmas yang dikembangkan dari Pola Tradisional disebut Polmas Model A, antara lain meliputi:
a.Model Sistem Keamanan Lingkungan (Model A1) antara lain:
1)Ronda Kampung (Model A11);
2)Ronda di Lingkungan Kawasan Pemukiman (Model A12).
b.Model Pemberdayaan Pranata Sosial/Adat (Model A2), antara lain:
1)Jaga baya, jaga tirta (Model A21);
2)Pecalang (Model A22);
3)Pela gandong (Model A23).

Pasal 17
Polmas melalui intensifikasi kegiatan Fungsi Binmas Polri disebut Polmas Model B, meliputi antara lain:
a.Intensifikasi kontak petugas Polri dengan warga masyarakat (Model B1):
1)Sistem Hubungan Cepat: Hotline Telpon, SMS (Model B11);
2)Pemanfaatan Kotak Pengaduan, Kotak Pos 7777 (Model B12);
b.Intensifikasi penerangan, penyuluhan (Model B2):
1)Penerangan/penyuluhan umum Kamtibmas (Model B21);
2)Penerangan/Bimmas keliling (Model B22).
3)Pemanfaatan Sarana Media (Model B23).
c.Intensifikasi patroli (Model B3):
1)Patroli door to door (Model B31);
2)Patroli sambang kampung (Model B32);
3)Patroli Kamandanu (Patroli jarak jauh, menginap di rumah penduduk) (Model B33);
4)Patroli Blok (Model B34);
5)Patroli Beat (Model B35);
6)Kotak Patroli (Model B36).
d.Kegiatan pembinaan oleh Fungsi Teknis Kepolisian (Model B4):
1)Binmaspol: (Model B41):
a)Binmas Straal (Pembinaan warga masyarakat sekitar) (Model B411);
b)Penugasan Babinkamtibmas (Model B412);
c)Pembinaan masyarakat berkelanjutan (Model B413);
Pola Binaan, Pola Sentuhan, Pola Pantauan.
2)Reserse (Model B42):
a)Sistem Kring Reserse (Model B421);
b)Sistem Wara-Wiri (Model B422).
3)Lalulintas: (Model B43).
Dikmas Lantas.
e.Pengalangan potensi komunitas (Model B5):
1)komunitas intelektual (Model B51);
2)komunitas profesi, hobi, aktifis dan lainnya (Model B52);
3)pemanfatan sarana olah raga dan seni budaya (Model B53);
4)pembinaan Dai Kamtibmas (Model B 54);
5)kelompok Sadar Kamtibmas (Model B 55);
f.Pendidikan/pelatihan ketrampilan Kamtibmas (Model B6):
1)pelatihan Kamra (Model B61);
2)pembinaan Pramuka Saka Bhayangkara (Model B62);
3)pelatihan penanggulangan bencana alam (Model B63).
g.Koordinasi dan kerjasama Kamtibmas (Model B7);
1)koordinasi dengan Pemda/instansi terkait (Model B71);
2)koordinasi dengan Pembina Satpam/Polsus (Model B72);
3)kerjasama dengan kelompok swasta/informal (Model B73).

Pasal 18
Polmas yang dikembangkan dari Pola Community Policing di negara lain disebut Polmas Model C, meliputi antara lain:
a.Perpolisian masyarakat sesuai Surat Keputusan Kapolri No. Pol. Skep/737/X/2005 (Model C1):
1)Petugas Polmas (Model C11);
2)Pembentukan Forum Kemitraan Polri-Masyarakat (Model C12);
3)Pembentukan Balai Kemitraan Polri-Masyarakat (Model C13).
b.Jepang (Model C2):
1)Sistem Koban (Model C21);
2)Sistem Chuzaisho (Model C22).
c.Kanada dan Amerika Serikat (Model C3):
1)Hot Spots Area (Model C31);
2)Neighbourhood Watch (Model C32).

Operasionalisasi Polmas mencakup:
a.kegiatan perorangan oleh petugas pengemban Polmas di lapangan;
b.kegiatan oleh Supervisor/pengendali petugas Polmas;
c.kegiatan oleh manajemen.

Pasal 21
Kegiatan perorangan oleh petugas pengemban Polmas di lapangan sebagaimana dimaksud pada Pasal 20 huruf a, antara lain:
a.memfasilitasi siskamling di lingkungan tempat tinggalnya;
b.memanfaatkan kesempatan arisan ibu-ibu dan pertemuan-pertemuan rutin di wilayahnya untuk mendiskusikan soal-soal Kamtibmas yang jadi kepedulian warga;
c.memanfaatkan pos pasar untuk menjalin komunikasi dengan para pedagang dan pembeli, dan memberi informasi mengenai masalah pencurian dan pencopetan;
d.menggunakan penyelenggaraan kegiatan masyarakat seperti pertandingan sepakbola, konser musik, dsb, untuk menjalin komunikasi intensif dengan warga yang terlibat untuk mengantisipasi masalah yang dapat terjadi dan melakukan perencanaan bersama dengan warga secara proaktif untuk menghindari masalah Kamtibmas;
e.melakukan tatap muka dengan berbagai kelompok warga, termasuk tokoh masyarakat, agama formal dan informal, kelompok pemuda/pemudi, kelompok perempuan/ibu-ibu, siswa/mahasiswa, serta segmen warga rentan yang sering tak terangkat suaranya untuk mengajak partisipasi aktif untuk memelihara rasa aman, tertib dan tenteram di lingkungannya.

Kegiatan Polmas pada tingkat Manajemen sebagaimana dimaksud pada Pasal 20 huruf c antara lain:
a.koordinasi dan komunikasi dengan pejabat formal dalam rangka pengembangan sistem penanggulangan Kamtibmas;
b.konsultasi dan diskusi dalam pembuatan aturan, perijinan, pengaturan, pembangunan dalam rangka pencegahan dan penanggulangan bencana alam;
c.koordinasi dengan Pemda atau instansi terkait dalam rangka menggalakkan pranata sosial yang masih dapat berfungsi sebagai pengendalian sosial dan tidak bertentangan dengan hukum positif;
d.penentuan sasaran, metode dan prioritas penerapan program di wilayah dan dalam batas kewenangan jabatannya.

BAB V
PELAKSANA/PENGEMBAN POLMAS

Bagian Kesatu
Tingkatan Pelaksana Polmas

Pasal 24
(1)Pada dasarnya Polmas dilaksanakan oleh seluruh anggota Polri mulai dari semua petugas di lapangan sampai pucuk Pimpinan Polri;
(2)Bentuk kegiatan yang dilakukan oleh anggota Polri berbeda sifatnya sesuai dengan kedudukan dan batas kewenangan masing-masing.

Pembina Polmas/Manajer Tingkat Pusat bertugas:
a.menentukan arah kebijakan penerapan Polmas;
b.mengevaluasi pelaksanaan program Polmas;
c.menentukan kebijaksanaan dalam rangka pengembangan strategi Polmas.

Pasal 28
Pembina Polmas/Manajer Tingkat Kewilayahan bertugas:
a.mengembangkan taktik, operasionalisasi, dan strategi Polmas di wilayahnya;
b.memberdayakan dukungan fungsi-fungsi untuk meningkatkan efektifitas Polmas di wilayahnya;
c.menggalang koordinasi dan sinergi dengan instansi setempat untuk operasionalisasi dan pengembangan strategi Polmas;
d.mengevaluasi pelaksanaan program Polmas.

Pasal 29
Pengendali/Supervisor Polmas bertugas:
a.pejabat fungsi teknis berkewajiban mengembangkan pelaksanaan tugas di lingkungan fungsinya untuk mendukung kelancaran Polmas;
b.pengendali Polmas bertugas untuk mengatur, mengorganisasikan, mengendalikan pelaksanaan Polmas di lapangan agar lebih efektif dan selalu berada dalam koridor pedoman Polmas.

Pasal 30
Petugas Polmas:
a.melaksanakan tugas Polmas dengan memedomani falsafah dan strategi Polmas;
b.unsur pelaksana terdiri dari:
1)Petugas yang telah dididik khusus untuk Polmas;
2)Petugas Babinkamtibmas;
3)semua anggota Polisi yang bertugas di lapangan;
4)Anggota Polisi yang bertempat tinggal di lingkungan masyarakat.

Pasal 31
Uraian Tugas masing-masing pelaksana Polmas sebagaimana dimaksud pada Pasal 27, Pasal 28, Pasal 29, dan Pasal 30 dijelaskan dalam "Lampiran B" Peraturan Kapolri ini.

Bagian Ketiga
Kemampuan Pengemban/Pelaksana Polmas

Pasal 32
Kemampuan yang harus dimiliki oleh pengemban Polmas baik pada tataran Manajemen maupun petugas pelaksana di lapangan adalah:
a.keterampilan berkomunikasi (kemampuan berbicara, mendengarkan, bertanya, mengamati, memberi dan menerima umpan balik dan meringkas);
b.keterampilan memecahkan masalah dan keterampilan memahami masalah (mengidentifikasi masalah di daerah dengan tingkat kejahatan tinggi, mengidentifikasi hambatan dan penyebab masalah dan mengembangkan respon dan solusi yang efektif);
c.keterampilan dan kepribadian untuk menangani konflik dan perbedaan persepsi;
d.keterampilan kepemimpinan (keterampilan memperkirakan resiko dan tanggung jawab, keterampilan menentukan tujuan dan keterampilan manajemen waktu);
e.keterampilan membangun tim dan mengelola dinamika dan motivasi kelompok (keterampilan dalam pertemuan, keterampilan identifikasi kepemimpinan, keterampilan identifikasi sumber daya dan keterampilan membangun kepercayaan);
f.memahami dan menghormati hak asasi manusia;
g.keterampilan mediasi dan negosiasi;
h.memahami keanekaragaman, kemajemukan dan prinsip non-diskriminasi;
i.memahami hak-hak kelompok rentan dan cara menangani/memperlakukan mereka.

Bagian Keempat
Karakteristik Petugas Polmas

Pasal 33
Kepribadian petugas Polmas:
a.mengenali diri sendiri: memahami kelebihan yang dimiliki untuk dimanfaatkan secara optimal bagi kelancaran tugas dan di lain sisi juga menyadari atas kekurangan/kelemahan diri guna dikikis/diperbaiki;
b.percaya diri: bersikap optimis terhadap kemampuannya, apa yang dilaksanakannya dan bagaimana melaksanakannya serta tidak takut untuk mengembangkan kemampuan diri;
c.disiplin pribadi: ketaatan kepada aturan dan ketertiban diri dalam penggunaan waktu secara efektif untuk melaksanakan tugas maupun kehidupan sehari-hari;
d.profesional: kemampuan profesional Polri sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat khususnya kemampuan membangun kemitraan dengan warga masyarakat;
e.integritas: keteguhan dan ketangguhan jiwa raga secara menyeluruh mencakup aspek kepribadian, mentalitas, moralitas dan profesionalitas.

Pasal 34
Penampilan petugas Polmas:
a.simpatik: selalu berpakaian rapi, sikap menarik dan menunjukkan empati;
b.ramah: selalu menunjukkan sikap berteman/bersahabat, murah senyum, mendahului sapa dan membalas salam;
c.optimis: bersikap positif, tidak ragu akan keberhasilan dalam setiap melakukan pekerjaan;
d.inisiatif: kemampuan mengajukan gagasan dan prakarsa dalam mengidentifikasi masalah, menentukan prioritas masalah, mencari alternatif solusi dan memecahkan pemasalahan dengan melibatkan masyarakat;
e.tertib: selalu teratur dalam melaksanakan pekerjaan dan mampu menata/menyusun rencana kerja, dokumen, lingkungan kerja dan wilayah kerja;
f.disiplin waktu: mampu merencanakan pekerjaan dan aktivitas agar memanfaatkan waktu tersedia seproduktif mungkin;
g.cermat: teliti dalam mengumpulkan dan menganalisis fakta serta mempertimbangkan konsekuensi atas setiap pengambilan keputusan;
h.akurat: mampu menentukan tindakan yang tepat dalam mengantisipasi permasalahan, disertai argumentasi yang jelas;
i.tegas: mampu mengambil keputusan dan tindakan tegas tanpa keraguan serta melaksanakannya tanpa menunda-nunda waktu.

Bagian Kelima
Kemampuan Membangun Kemitraan

Pasal 35
Kemampuan yang harus dikembangkan setiap petugas Polmas dalam rangka membangun kemitraan dengan warga masyarakat meliputi:
a.identifikasi: kemampuan mempelajari keadaan/kondisi dalam masyarakat yang mengandung potensi atau mengandung berbagai kemungkinan yang dapat menimbulkan permasalahan Kamtibmas di dalam masyarakat;
b.penetapan prioritas: kemampuan menyeleksi dan menentukan permasalahan yang perlu didahulukan penanganannya, serta kemampuan berkonsentrasi terhadap rencana yang telah disusun agar tidak terganggu oleh usulan-usulan baru atau permasalahan yang kurang penting;
c.ketepatan waktu: kemampuan menyusun jadwal kegiatan dan menerapkannya secara efektif dan tepat waktu. Dalam hal ini, perubahan jadwal masih terbuka kemungkinannya berdasarkan negosiasi pihak yang terlibat;
d.efektivitas dan efisiensi: kemampuan mengoptimalkan hasil pelaksanaan tugas dengan menggunakan sumber daya yang tersedia seminimal mungkin;
e.pertanggungjawaban: selalu bersedia untuk mempertanggungjawabkan segala akibat dari tindakan yang telah dilakukan dalam pelaksanaan tugas ataupun dalam kehidupan diri, serta tidak mengalihkan pertanggungjawaban kepada orang lain atas kesalahan yang dilakukannya;
f.inovasi: kemampuan membangun imajinasi dan kreatifitas guna mengembangkan kiat/upaya, sehingga membuahkan hasil yang lebih optimal melalui pemanfaatan keterbatasan sumber daya yang tersedia;
g.konsistensi: kemampuan menerapkan perlakuan/tindakan dengan standar yang sama terhadap situasi yang sama guna menjamin kepastian hukum, mengurangi rasa khawatir serta memfasilitasi hubungan yang nyaman dengan masyarakat;
h.tepat janji: selalu menepati/memenuhi janji yang telah disampaikan kepada orang lain, guna menumbuhkan rasa percaya masyarakat;
i.penuntasan pekerjaan secepatnya: selalu berusaha menyelesaikan pekerjaan secepatnya tanpa menunda baik untuk kegiatan administrasi maupun pelayanan masyarakat seperti: pengarsipan, pelayanan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK), surat kehilangan, pengaduan, laporan polisi, dan sebagainya;
j.pelayanan nirlaba: memberikan pelayanan kepada masyarakat tanpa memungut biaya lebih dari yang telah ditetapkan di dalam tarif resmi dan standar pelayanan yang telah disosialisasikan kepada masyarakat.

Bagian Keenam
Kemampuan Membangun Kepercayaan Masyarakat

Pasal 36
Kemampuan yang harus dimiliki dan dikembangkan untuk membangun kepercayaan masyarakat meliputi:
a.kemampuan membaur dengan masyarakat: membangun hubungan yang harmonis melalui kemitraan dan kerjasama dengan berbagai pihak dalam masyarakat guna menumbuhkembangkan rasa saling percaya dan saling menghargai kredibilitas;
b.luwes/supel/fleksibel: tidak bersikap kaku, melainkan selalu terbuka menerima pendapat dan akomodatif terhadap masukan pendapat serta mampu mempertimbangkan perubahan berdasarkan informasi baru guna menghindari timbulnya konflik yang tidak produktif;
c.apresiatif: secara nyata selalu mengakui prestasi dan memberikan penghargaan kepada orang yang telah bekerja dengan baik;
d.adil: bersikap tidak memihak dan memperlakukan orang lain secara sopan, konsisten, tidak pilih kasih tanpa memandang perbedaan kelompok atau status warga (misalnya ketokohan dan/atau kewenangan);
e.berani mengatakan kebenaran:
1)keberanian berkata "tidak" terhadap suatu kegiatan/aktivitas, keputusan, atau permintaan yang pantas untuk ditolak/mendapatkan jawaban "tidak";
2)keberanian berkata "ya": untuk memberikan persetujuan terhadap suatu kegiatan/aktivitas, keputusan, atau permintaan yang pantas untuk diterima/dan selanjutnya dilaksanakan dengan konsekuen;
3)menghindari sikap/tindakan yang berpura-pura, sehingga menimbulkan kesalahan persepsi dan/atau kesan negatif dari masyarakat.
f.tidak mengenal istilah "Kalah-Menang": senantiasa mencari jalan pemecahan yang saling menguntungkan (win-win solution) dengan tidak menonjolkan pernyataan ataupun persepsi pihak mana yang kalah dan pihak mana yang menang guna menghindari terjadinya dampak negatif dalam masyarakat;
g.profesional: tindakan yang dilakukan selalu mendasari kepada kewajiban untuk melaksanakan tugas secara benar, sesuai prosedur serta teknik pelaksanaan tugas yang berlaku dalam profesi kepolisian;
h.tidak melibatkan masalah pribadi: menghindari gosip dan/atau hal-hal pribadi lainnya serta tidak membangun hubungan pribadi yang berpotensi mengurangi efisiensi di lingkungan kerja dan kemitraan;
i.mengakui kesalahan: secara ksatria dan terbuka mengakui atas kekeliruan tindakan atau kesalahan dan berusaha tidak berbohong atau menutup-nutupi kesalahan serta mengelak tanggungjawab atas kesalahan yang dilakukan;
j.menerima tugas-tugas sulit: tidak menghindari tugas-tugas yang sulit yang menjadi bagian dari kewajiban serta tanggung jawab dalam membangun kemitraan;
k.perencanaan sistematis: mampu mengembangkan rencana terstruktur dan sistematis, menerapkan secara konsisten dan meninjau ulang serta mengubah rencana untuk disesuaikan dengan perkembangan situasi dan informasi di dalam pelaksanaan program kemitraan;
l.efisien: mampu memanfaatkan sumber daya seminimal mungkin untuk mencapai hasil semaksimal mungkin, tidak boros tenaga dan memastikan bahwa sumber daya yang dikeluarkan seimbang dengan manfaat yang akan dicapai;
m.tetap fokus: senantiasa memahami semua tujuan jangka panjang dan jangka pendek, tidak menyimpang dan tetap mengusahakan pencapaian tujuan;
n.memahami atasan: memahami filosofi dan tujuan yang ingin dicapai oleh atasannya, serta memberi masukan yang bijaksana dan melaksanakan tugas Polmas secara efektif dan efisien dengan didasari oleh rasa tanggung jawab dan merupakan kewajiban setiap petugas Polmas.

BAB VI
MANAJEMEN PERUBAHAN UNTUK KEBERHASILAN POLMAS

Bagian Kesatu
Perubahan Manajemen Sebagai Prasyarat Polmas

Pasal 37
(1)Polmas bukan hanya semacam program dalam penyelenggaraan fungsi kepolisian tetapi merupakan suatu strategi mendasar yang menuntut perubahan yang mendasar dari penyelengaraan tugas kepolisian yang semula mendasari pada prinsip pelayanan birokratif ke arah personalisasi penyajian layanan kepolisian, yaitu pelayanan nyata dilaksanakan oleh petugas Polri yang langsung bersentuhan dengan warga masyarakat;
(2)Penerapan Polmas tidak hanya dilaksanakan pada level lokal terutama petugas terdepan lingkungan komunitas, tetapi juga dilaksanakan oleh seluruh anggota Polri dan pejabat Polri dari tingkat pusat sampai sampai kewilayahan sesuai dengan lingkup tugas dan kewenangannya;
(3)Penerapan Polmas secara lokal tidak berarti bahwa prosesnya hanya dilakukan terbatas pada tataran operasional tetapi juga harus berlandaskan pada kebijakan yang komprehensif mulai dari tataran konseptual pada level manajemen puncak.

Pasal 38
(1)Dalam rangka penerapan strategi Polmas dibutuhkan perubahan manajemen Polri guna menunjang keberhasilan penyelenggaraan Polmas secara keseluruhan dari pusat sampai kewilayahan;
(2)Perubahan organisasi diarahkan kepada perubahan dalam rangka mewujudkan organisasi yang memiliki daya saing dan berkembang;
(3)Perubahan individu diarahkan kepada penciptaan kesempatan-kesempatan untuk melakukan perubahan, baik dalam rangka pengembangan karier ataupun kehidupan pribadi;
(4)Dalam upaya perubahan manajemen, masalah yang perlu diwaspadai adalah kemungkinan timbulnya penolakan terhadap perubahan.

Bagian Kedua
Antisipasi Penolakan Terhadap Perubahan

Pasal 39
(1)Upaya dalam rangka mengantisipasi terjadinya penolakan terhadap perubahan meliputi:
a.pendidikan dan komunikasi dengan anggota agar memahami perlunya perubahan;
b.konsultasi dengan pihak terkait;
c.meningkatkan partisipasi dan keterlibatan anggota;
d.menyelidiki penolakan terhadap perubahan;
e.menyiapkan fasilitas dan dukungan untuk perubahan;
f.negosiasi dan kesepakatan untuk menetralisir penolakan;
g.manipulasi dan kooptasi untuk menunjang keberhasilan perubahan;
h.paksaan eksplisit dan implisit terhadap rencana perubahan.
(2)Langkah-langkah mengantisipasi adanya penolakan terhadap perubahan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dijelaskan dalam "Lampiran C 1" Peraturan Kapolri ini.

Bagian Ketiga
Pedoman Manajemen Perubahan

Pasal 40
(1)Pokok-pokok kegiatan sebagai pedoman pelaksanaan manajemen perubahan meliputi:
a.Tahap Kesatu: Merencanakan Perubahan
1)fokus pada tujuan;
2)kenali tuntutan untuk berubah;
3)memilih perubahan yang esensial (Menetapkan prioritas perubahan);
4)mengevaluasi tingkat kesulitan;
5)merencanakan cara-cara melibatkan orang lain;
6)menetapkan jadwal dan jangka waktu;
7)membuat rencana kegiatan;
8)mengantisipasi penolakan terhadap perubahan;
9)menguji dan memeriksa rencana.
b.Tahap Kedua: Melaksanakan Perubahan
a.mengkomunikasikan perubahan;
b.membangun komitmen;
c.mengubah budaya organisasi;
d.membatasi penolakan;
c.Tahap Ketiga: Mengkonsolidasikan Perubahan
a.memantau kemajuan;
b.meninjau ulang faktor yang menentukan perubahan;
c.mempertahankan momentum;
d.pemantapan perubahan.
(2)Penjabaran langkah-langkah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dijelaskan dalam "Lampiran C 2" Peraturan Kapolri ini.

Bagian Keempat
Perubahan Budaya Polri Sebagai Syarat Penerapan Polmas

Pasal 41
(1)Untuk menunjang keberhasilan penerapan Polmas, diperlukan perubahan budaya dari yang dapat menghambat penerapan Pomas menjadi budaya yang kondusif bagi kelancaran penerapan Polmas;
(2)Perubahan budaya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) antara lain meliputi:
a.dari budaya yang menekankan hierarki, pangkat dan kewenangan menuju ke penekanan pada partisipasi, kreativitas dan kemampuan beradaptasi;
b.dari budaya penekanan pada kebiasaan praktek dan prosedur yang berlaku menuju ke keseimbangan antara kebiasaan yang lama dan prosedur baru, hal ini menuntut adanya kesediaan untuk mempertanyakan aturan, prosedur, dan strategi yang berlaku, guna mencapai efektivitas optimal dan menjamin pemberian layanan sebaik mungkin;
c.dari budaya menunggu perintah atasan menuju kepada penekanan pengembangan inisiatif dan diskresi yang berdasar;
d.dari budaya yang bersifat menentukan secara tetap/kaku menuju ke kemampuan beradaptasi dan fleksibilitas;
e.dari sistem tertutup dan kurang bertanggung jawab kepada masyarakat menuju kepada keterbukaan, komunikasi, dan pengakuan atas kegagalan atau keberhasilan yang dicapai;
f.dari menonjolkan solidaritas internal (inward looking) menuju ke profesionalisme eksternal (outward looking).

Bagian Kelima
Perubahan Pola Penugasan Polri Untuk Keberhasilan Polmas

Pasal 42
(1)Untuk menunjang keberhasilan penerapan Polmas, diperlukan perubahan pola penugasan Polri dari pola yang dapat menghambat penerapan Polmas menjadi pola penugasan yang kondusif bagi kelancaran penerapan Polmas.
(2)Perubahan pola penugasan Polri sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) antara lain meliputi:
a.dari fokus yang sempit yang hanya mengutamakan pengendalian kejahatan (penegakan hukum) sebagai tanggung jawab utama polisi menuju ke fokus lebih luas yang meliputi pengendalian kejahatan, pelayanan masyarakat, pencegahan kejahatan, dan pemecahan masalah dalam masyarakat (agar dicatat bahwa Polmas tidak meninggalkan penegakan hukum);
b.dari pola penugasan yang hanya tertuju kepada kejahatan berat menuju ke pola penugasan yang memprioritaskan pemecahan masalah yang ditentukan melalui konsultasi dengan masyarakat;
c.dari pendekatan yang pada dasarnya reaktif terhadap masalah kejahatan dan kekerasan menuju ke keseimbangan antara kegiatan reaktif dengan proaktif;
d.dari respons cepat terhadap semua permintaan pelayanan menuju ke respons yang berbeda-beda tergantung pada kebutuhan dan prioritas;
e.dari penanganan kejadian secara sporadis (terpisah-pisah/sendiri-sendiri) menuju pola penugasan yang komprehensif meliputi identifikasi kecenderungan, pola, tempat rawan kejahatan, dan mencoba menangani penyebab-penyebabnya;
f.dari pola penugasan yang tidak akrab dengan masyarakat menuju ke konsultasi dan hubungan pribadi dengan masyarakat di dalam FKPM, patroli dialogis, Pospol di tempat terpencil dan pos pelaporan yang bergerak;
g.dari pola penugasan yang berbasis teknologi menuju ke pemolisian yang berbasis pada kebutuhan masyarakat yang menggunakan teknologi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat;
h.dari pola penugasan yang mengutamakan penangkapan dan penuntutan sebagai jawaban utama dari permasalahan menuju ke penangkapan dan penuntutan sebagai dua tindakan yang mungkin diambil dari sejumlah pilihan yang dihasilkan melalui pemecahan masalah;
i.dari pandangan bahwa polisi adalah satu-satunya institusi yang bertanggung jawab atas pencegahan dan pemberantasan kejahatan menuju ke penekanan kerjasama antara polisi, instansi pemerintah, badan pelayanan swasta, LSM dan organisasi-organisasi kemasyarakatan.

Bagian Keenam
Perubahan Gaya Manajemen Polri Untuk Penerapan Polmas

Pasal 43
(1)Untuk menunjang keberhasilan penerapan Polmas, diperlukan perubahan gaya manajemen dari yang dapat menghambat penerapan Polmas menjadi manajemen yang kondusif bagi kelancaran penerapan Polmas.
(2)Perubahan gaya manajemen sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) antara lain meliputi:
a.dari manajemen birokrasi menuju ke manajemen strategik;
b.dari manajemen administrasi menuju ke manajemen manusia;
c.dari manajemen pemeliharaan menuju ke manajemen perubahan.

Bagian Ketujuh
Perubahan Model Organisasi Polri Untuk Penerapan Polmas

Pasal 44
(1)Untuk menunjang keberhasilan penerapan Polmas, diperlukan perubahan model organisasi dari yang dapat menghambat penerapan Polmas menjadi model organisasi yang kondusif bagi kelancaran penerapan Polmas.
(2)Perubahan model organisasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) antara lain meliputi:
a.dari struktur terpusat menuju kepada struktur desentralisasi dengan tujuan untuk lebih mendekatkan polisi kepada masyarakat;
b.dari spesialisasi berlebihan menuju kepada keseimbangan antara generalisasi dan spesialisasi;
c.dari standarisasi dan keseragaman menuju kepada keluwesan dan keberagaman;
d.dari gaya manajemen "komando dan pengendalian" yang otoriter menuju kepada gaya manajemen partisipatori dan konsultasi;
e.dari manajemen operasional yang mempertahankan status quo menuju kepada kepemimpinan perubahan stratejik;
f.dari fokus ke strategi jangka pendek menuju kepada fokus terhadap dampak jangka panjang dari strategi;
g.dari penetapan tugas patroli yang sempit (peran petugas yang hanya terbatas menangani laporan dan mereka harus selalu bertindak menurut buku) menuju kepada penugasan patroli yang lebih luas (petugas patroli menjadi seorang generalis yang bertanggung jawab menangani laporan, memecahkan masalah, mengerakkan warga, mencegah kejahatan dan laksanakan penyidikan awal terhadap kejahatan) dengan pengembangan wewenang melakukan diskresi;
h.dari pelatihan yang sempit (yang hanya menekankan kebugaran, beladiri dan pengetahuan hukum) menuju kepada latihan yang lebih luas (juga mencakup pengetahuan tentang pencegahan kejahatan, resolusi konflik, pemecahan masalah dan partisipasi masyarakat);
i.dari peran Mabes Polri sebagai sumber perintah, peraturan dan undang-undang menuju kepada Mabes Polri sebagai sumber dukungan, arahan, norma-norma dan nilai-nilai;
j.dari pengukuran kinerja berbasis kriteria kuantitatif (misalnya jumlah penangkapan) menuju kepada pengukuran kinerja berbasis kriteria kualitatif (seperti pencapaian tujuan masyarakat atau pemecahan masalah);
k.dari ketergantungan yang besar kepada aturan dan perundang-undangan menuju kepada suatu pendekatan yang didorong oleh nilai-nilai dan didasari oleh visi pemolisian.

BABVII
MANAJEMEN PENYELENGGARAAN POLMAS

Bagian Kesatu
Pengorganisasian

Pasal 45
Sebagai suatu pendekatan yang bersifat komprehensif, maka kebijakan penerapan Polmas menyangkut bidang-bidang organisasi/kelembagaan, manajemen SDM, manajemen logistik, dan manajemen anggaran/keuangan serta manajemen operasional Polri.

Pasal 46
Penyelenggaraan fungsi pembinaan Polmas harus distrukturkan dalam suatu wadah organisasi tersendiri yang dapat dihimpun bersama fungsi-fungsi terkait, mulai dari tingkat Mabes sampai sekurang-kurangnya tingkat Polres.

Pasal 47
(1)Penyelenggaraan strategi Polmas menjadi tanggung jawab pejabat yang ditunjuk dan dikoordinasikan secara hierarkhis dari tingkat Pusat/Mabes Polri sampai ke petugas pelaksana terdepan, dalam struktur organisasi Polri:
a.di tingkat Mabes, di bawah tanggung jawab Deops Kapolri, pelaksanaannya dikoordinasikan oleh Karo Bimmas Deops Polri;
b.di tingkat Polda di bawah tanggung jawab Kapolda, pelaksanaannya dikordinasikan oleh Karo Bina Mitra Polda;
c.di tingkat Polres di bawah tanggung jawab Kapolres, pelaksanaannya dikordinasikan Kabag Bimmas Polres;
d.di tingkat Polsek di bawah tanggung jawab dan pelaksanaannya dikoordinasikan oleh Kapolsek.
(2)Pejabat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), bertanggung jawab untuk menyusun rencana, mengorganisasikan, melaksanakan dan mengendalikan operasionalisasi Polmas di lingkungan wilayah tugas sesuai batas kewenangannya;
(3)Pada tataran operasional di lapangan, petugas Polmas merupakan pelaksana Polmas yang langsung bersentuhan dengan warga masyarakat berperan sebagai fasilitator yang memungkinkan beroperasinya Polmas dan sekaligus penghubung antara kesatuan Polri dan komunitas setempat.

Bagian Kedua
Manajemen Personel

Pasal 48
Manajemen personel dalam rangka menyelenggarakan Polmas mencakup:
a.penyiapan personel Polri untuk mendukung penerapan Polmas yang menjangkau ke seluruh wilayah Indonesia diarahkan kepada pemenuhan kebutuhan tenaga petugas Polmas, sehingga setiap desa/kelurahan diharapkan dapat terisi dengan sekurang-kurangnya seorang petugas Polmas;
b.sasaran antara menuju tercapainya jumlah petugas tersebut adalah tergelarnya personel Polri di setiap Polsek dengan jumlah anggota sebanding dengan jumlah desa dalam wilayah hukum Polsek;
c.pedoman penyelenggaraan Polmas selalu menjadi bagian dari kurikulum setiap program pendidikan, dengan silabusnya dan satuan acara pelajaran/perkuliahan yang disesuaikan dengan jenjang dan jenis pendidikannya;
d.pada setiap Polda atau sekurang-kurangnya gabungan beberapa Polda tetangga harus diselenggarakan sekurang-kurangnya satu kali program pelatihan khusus Polmas setiap tahun dalam rangka penyegaran dan/atau regenerasi petugas Polmas;
e.pemilihan personel untuk ditugaskan sebagai petugas Polmas, harus memperhitungkan latar belakang pengalaman tugas pada satuan-satuan fungsi operasional dan aspek moral/kepribadian yang mendukung pelaksanaan misinya sebagai petugas Polmas;
f.sistem pembinaan personel pengemban Polmas harus menjamin terbukanya peluang peningkatan karier yang proaktif bagi petugas Polmas/Pembina Polmas yang dinilai berhasil membina dan mengembangkan Polmas.

Pasal 49
Pembinaan kemampuan personel dalam rangka menunjang peningkatan penerapan Polmas harus dilakukan secara berkelanjutan guna mengantisipasi perkembangan tantangan tugas Polri di masa mendatang, yang meliputi:
a.rekrutmen petugas Polmas;
b.pendidikan/pelatihan menyiapkan para pelatih (master trainers) maupun petugas Polmas;
c.pembinaan karier secara berjenjang dari tingkat kelurahan sampai dengan supervisor/pengawas dan manajemen/pembina Polmas tingkat Polres dan seterusnya;
d.penilaian kinerja dengan membuat standar penilaian baik untuk perorangan maupun kesatuan;
e.penghargaan dan penghukuman;
f.menyelenggarakan program-program diklat Polmas secara bertahap sesuai dengan kualifkasi yang dibutuhkan.

Bagian Ketiga
Manajemen Logistik

Pasal 50
(1)Penyusunan perencanaan pengadaan sarana pelaksanaan tugas Polmas yang disesuaikan dengan Model Polmas yang akan akan diterapkan di kewilayahan.
(2)Pengadaan materiil Polri untuk mendukung kegiatan Polmas diupayakan peningkatannya secara bertahap melalui skala prioritas.
(3)Sarana komunikasi dan transportasi merupakan sarana yang paling utama untuk kegiatan Polmas dan harus lebih diprioritaskan pemenuhannya.
(4)Jumlah dan jenis peralatan yang dibutuhkan disesuaikan dengan model Polmas yang diterapkan oleh masing-masing satuan kewilayahan.
(5)Pemanfaatan sarana dinas untuk kegiatan Polmas secara optimal.
(6)Pemanfaatan fasilitas yang tersedia untuk mendukung kelancaran Polmas.

Bagian Keempat
Manajemen Anggaran

Pasal 51
(1)Perhitungan rencana anggaran Polri harus mengalokasikan biaya operasional yang selayaknya untuk menjamin aktivitas dan dinamika Penerapan Strategi Polmas di seluruh Indonesia termasuk biaya manajemen pada setiap tingkatan organisasi dalam rangka secara terus menerus memantau, mengawasi/mengendalikan, mengarahkan dan menilai keberhasilan pelaksanaan penerapan Polmas.
(2)Untuk mengembangkan program-program Polmas, masing-masing kesatuan wilayah dapat mengadakan kerja sama dengan lembaga donor internasional, nasional dan lokal.
(3)Untuk menjamin keberlangsungan Polmas masing-masing kesatuan kewilayahan perlu melakukan kerja sama dengan Pemda setempat, sehingga operasionalisasi Polmas dapat merupakan program Pemda yang didukung dengan APBD.
(4)Menyediakan dukungan anggaran yang memadai dalam pelaksanan tugas Polmas melalui sistem perencanaan yang tertib.
(5)Mekanisme penggunaan dan pertanggungjawaban anggaran dilaksanakan dengan pengendalian yang efektif dengan memedomani sistem perencanaan dan pertanggungjawaban anggaran yang berlaku.

Bagian Kelima
Manajemen Operasional

Pasal 52
(1)Pokok-pokok yang perlu diperhatikan dalam rangka pelaksanaan manajemen operasional Polmas:
a.Perencanaan:
1)pemetaan dan penilaian situasi;
2)pemutakhiran dan pengolahan data;
3)penilaian Situasi;
4)penentuan model Polmas;
5)penyusunan Rencana Kegiatan;
6)penyusunan rencana kebutuhan anggaran.
b.Pelaksanaan:
1)pengorganisasian petugas dan sarana;
2)pelaksanaan kegiatan;
3)pengendalian kegiatan.
c.Analisa dan Evaluasi Pelaksanaan Polmas 1) analisa dan evaluasi data pelaksanaan Polmas;
2)analisa permasalahan, hambatan dan alternatif pemecahannya;
3)pengkajian kiat-kiat pengembangan Polmas.
(2)Penjabaran pokok-pokok sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dijelaskan dalam "Lampiran D" Peraturan Kapolri ini.

BABVIII
EVALUASI KEBERHASILAN POLMAS

Bagian Kesatu
Analisa dan Evaluasi Polmas

Pasal 53
Guna meningkatkan kualitas Polmas perlu dilakukan analisa da evaluasi secara periodik dan berlanjut terhadap pelaksanaan Polmas, sehingga dapat dijadikan bahan penilaian kemajuan Polmas.

Pasal 54
Sarana untuk anev Polmas dapat dilakukan melalui:
a.sistem pendataan yang memungkinkan proses analisis dari satuan terbawah sampai Pusat;
b.penentuan kriteria keberhasilan Polmas yang dapat diformulasikan ke dalam data kuantitatif ataupun kualitatif;
c.penyelenggaraan penelitian dan pengembangan untuk meningkatkan efektivitas Polmas dan untuk menyesuaikan perkembangan tantangan yang dihadapi.

Bagian Kedua
Kriteria Keberhasilan Polmas

Pasal 55
Kriteria yang dapat dijadikan tolok ukur keberhasilan Polmas:
a.intensitas komunikasi antara petugas dengan masyarakat meningkat;
b.keakraban hubungan petugas dengan masyarakat meningkat;
c.kepercayaan masyarakat terhadap Polri meningkat;
d.instensitas kegiatan forum komunikasi petugas dan masyarakat meningkat;
e.kepekaan/kepedulian masyarakat terhadap masalah Kamtibmas di lingkungannya meningkat;
f.daya kritis masyarakat terhadap akuntabiltas penyelesaian masalah Kamtibmas meningkat;
g.ketaatan warga masyarakat terhadap aturan yang berlaku meningkat;
h.partisipasi masyarakat dalam hal deteksi dini, peringatan dini, laporan kejadian meningkat;
i.kemampuan masyarakat mengeleminir akar masalah meningkat;
j.keberadaan dan berfungsinya mekanisme penyelesaian masalah oleh polisi dan masyarakat;
k.gangguan Kamtibmas menurun.

Pasal 56
Indikator Kinerja Penerapan Polmas dari aspek Petugas:
a.kesadaran bahwa masyarakat adalah stakeholder yang harus dilayani;
b.kesadaran atas pertanggungjawaban tugas kepada masyarakat;
c.semangat melayani dan melindungi sebagai kewajiban profesi;
d.kesiapan dan kesediaan menerima keluhan/pengaduan masyarakat;
e.kecepatan merespon pengaduan/keluhan/laporan masyarakat;
f.kecepatan mendatangi TKP;
g.kesiapan memberikan bantuan yang sangat dibutuhkan masyarakat;
h.kemampuan menyelesaikan masalah, konflik/pertikaian antar warga;
i.kemampuan mengakomodir/menanggapi keluhan masyarakat;
j.intensitas kunjungan petugas terhadap warga.

Pasal 57
Indikator keberhasilan penerapan Polmas dari aspek masyarakat:
a.kemudahan Petugas/pejabat dihubungi oleh warga masyarakat;
b.loket pengaduan/laporan mudah ditemukan;
c.mekanisme pengaduan mudah, cepat dan tidak menakutkan;
d.respon/jawaban atas pengaduan cepat/segera diperoleh;
e.tingkat Kepercayaan masyarakat terhadap Polri;
f.kemampuan forum menemukan dan mengidentifikasikan akar masalah;
g.kemandirian masyarakat mengatasi permasalahan di lingkungannya;
h.berkurangnya ketergantungan masyarakat kepada petugas;
i.dukungan masyarakat dalam, bentuk informasi, pemikiran atau materi.

Pasal 58
Indikator keberhasilan Polmas dari aspek hubungan Polri dan masyarakat:
a.instensitas komunikasi petugas dan warga masyarakat;
b.intensitas kegiatan forum komunikasi petugas dan masyarakat;
c.intensitas kegiatan di Balai Kemitraan Polisi dan Masyarakat;
d.keakraban hubungan petugas dengan masyarakat;
e.intensitas kegiatan kerjasama masyarakat dan petugas;
f.kebersamaan dalam penyelesaian permasalahan;
g.keterbukaan dalam saling tukar informasi dan membahas permasalahan;
h.intensitas kerjasama dan dukungan Pemda, DPR, dan instansi terkait,
i.intensitas partisipasi lembaga-lembaga sosial, media massa, dan lembaga informal lainnya.

Bagian Ketiga
Pemantauan dan Evaluasi Penerapan Polmas

Pasal 59
Pelaksanaan Polmas harus terus di Anev dan dikembangkan yang disesuaikan dengan perkembangan situasi dinamis dalam masyarakat yang terus selalu berkembang.

Pasal 60
Pelaksanaan pemantauan (monitoring) Polmas dilakukan melalui:
a.pembuatan laporan periodik oleh petugas Polmas kepada supervisor;
b.laporan dan hasil evaluasi para supervisor kepada pembina Polmas;
c.analisa data rekapitulasi laporan hirarkhis pembina Polmas;
d.survey pendapat warga masyarakat setempat tentang penerapan Polmas;
e.survey kesan masyarakat terhadap kinerja Polri dan atau Petugas Polmas.

Pasal 61
Pelaksanaan pengendalian melalui Sistem laporan:
a.penentuan periode laporan (harian, mingguan, bulanan);
b.penyeragaman format laporan (meliputi materi data, penggolongan data dan model matrik dan rekapitulasi data) agar memudahkan analisis;
c.penentuan mekanisme dan jenjang laporan dari pelaksanaan terdepan, supervisor, manajemen/pembina kewilayahan sampai manajemen/pembina pusat.

BABIX
PERCEPATAN DAN PENGEMBANGAN POLMAS

Bagian Kesatu
Percepatan Polmas

Pasal 62
(1)Untuk percepatan dan pemantapan Polmas perlu dibentuk Tim Manajemen Polmas di setiap satuan operasional Polri yang anggotanya melibatkan unsur-unsur Polri, pemerintahan dan kelompok strategis di masyarakat.
(2)Tim Manajemen Polmas menyusun strategi dan standar operasional yang dilaksanakan oleh setiap komponen manajemen secara sinergis dan saling mendukung sesuai tatarannya.
(3)Tim Manajemen Polmas dibentuk di tingkat Mabes Polri, Polda dan KOD.

Pasal 63
(1)Tugas dan fungsi Tim Manajemen tingkat Mabes Polri adalah membantu Kapolri dalam rangka perumusan kebijakan dan strategi percepatan dan pemantapan implementasi Polmas tingkat nasional sebagai pedoman pelaksanaan seluruh jajaran Polri.
(2)Pengorganisasian dan susunan Tim Manajemen merupakan perpaduan struktural maupun fungsional di lingkungan Mabes Polri dan mengikutsertakan unsur-unsur non-Polri. Tim Manajemen tingkat Mabes Polri adalah organisasi non-struktural yang bertanggung jawab kepada Kapolri.

Pasal 64
(1)Tugas dan fungsi Tim Manajemen tingkat Polda adalah membantu Kapolda dalam rangka perumusan kebijakan dan strategi percepatan dan pemantapan implementasi Polmas tingkat Polda sebagai pedoman pelaksanaan seluruh satuan kewilayahan pada jajaran Polda.
(2)Pengorganisasian dan susunan Tim Manajemen merupakan perpaduan struktural maupun fungsional di lingkungan Polda dan mengikutsertakan unsur-unsur non-Polri. Tim manajemen tingkat Polda adalah organisasi non-struktural yang bertanggung jawab kepada Kapolda.

Pasal 65
(1)Tugas dan fungsi Tim Manajemen tingkat Polwiltabes/Poltabes/Polres/Ta adalah membantu Ka KOD dalam rangka percepatan dan pemantapan implementasi Polmas tingkat KOD sebagai tindak lanjut arah kebijakan dan strategi Polmas tingkat Mabes Polri dan Polda yang disesuaikan dengan karakteristik wilayah KOD.
(2)Pengorganisasian dan susunan Tim Manajemen merupakan perpaduan struktural maupun fungsional di lingkungan KOD dan mengikutsertakan unsur-unsur non-Polri. Tim Manajemen tingkat KOD adalah organisasi non-struktural yang bertanggung jawab kepada Ka KOD.

Bagian Kedua
Pengembangan Strategi Polmas

Pasal 66
Untuk pengembangan Polmas perlu adanya kesamaan komitmen dan kerjasama dengan segenap instansi terkait terutama Pemda sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam pengelolaan sumber daya lokal dan yang pada gilirannya ikut memetik manfaat dari keberhasilan Polmas peningkatan kesejahteraan warganya.

Pasal 67
Upaya peningkatan koordinasi dalam rangka pengembangan Polmas, antara lain:
a.mengadakan kerjasama dengan Pemerintah Daerah, DPRD dan instansi terkait, perguruan tinggi dan lain-lainnya;
b.membangun dan membina kemitraan dengan kelompok, instansi, atau perorangan:
1)kelompok yang pernah menjadi korban kejahatan;
2)kelompok yang berisiko menjadi korban (dengan perhatian khusus terhadap perempuan dan anak);
3)kelompok yang dapat membantu memecahkan atau meringankan masalah kejahatan yang dialami masyarakat; dan
4)kelompok yang memiliki kewenangan dan otoritas untuk mengendalikan atau membantu "mengatasi" mereka yang menyebabkan sebagian besar masalah.
c.membangun kerjasama dengan media massa, LSM dan pelaku sosial lainnya dalam rangka memberikan dukungan bagi kelancaran dan keberhasilan program-program Polmas;
d.membangun jaringan koordinasi dan kerjasama dengan kelompok, instansi atau perorangan dengan kesatuan Polri setempat;
e.meningkatkan program-proram sosialisasi dengan membentuk tim sosialisasi Polmas di tingkat KOD untuk menunjang kegiatan sosialiasi petugas Polmas dan setiap petugas pada satuan-satuan fungsi guna menumbuhkan masyarakat yang sadar dan patuh hukum.

Pasal 68
(1)Guna meningkatkan kualitas Polmas setiap satuan-satuan fungsi operasional kepolisian tingkat Polres ke atas melaksanakan program-program yang sejalan dengan program pengembangan Polmas.
(2)Untuk mengevaluasi proses kemajuan perkembangan penerapan Polmas dilakukan kajian pelaksanaan dan permasalahan Polmas yang dilaksanakan oleh unit-unit peneliti dari satuan fungsi sesuai dengan batas kewenangan atau lingkup tugasnya di bawah koordinasi Wakapolri.
(3)Guna menampung masukan dalam rangka peningkatan efektivitas penerapan Polmas, kajian Polmas dapat dilakukan bekerja sama dengan pihak luar Polri seperti instansi pemerintah, swasta, akademisi, peneliti, pakar dan pengamat kepolisian, LSM baik di dari dalam negeri maupun luar negeri.

BABX
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 69
(1)Pedoman Dasar Strategi dan Implementasi Polmas masih terbatas muatannya, karena hanya mencakup pokok-pokok penyelenggaraan Polmas sehingga perlu dilengkapi dengan pedoman pelaksanaan yang lebih rinci dalam Peraturan Kapolri yang merupakan penjabaran dan pedoman pelaksanaan Polmas.
(2)Hal-hal yang belum diatur atau belum cukup di atur dalam naskah ini serta hal-hal yang memerlukan penyesuaian berdasarkan hasil evaluasi dalam pengembangan dan penerapannya akan diatur kemudian.

Pasal 70
Pada saat peraturan ini mulai berlaku, semua peraturan mengenai Polmas dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan ini.

Pasal 71
Peraturan Kapolri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, Peraturan Kapolri ini diundangkan dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 26 September 2008
KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA,

Drs. SUTANTO
JENDERAL POLISI
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 13 Oktober 2008
MENTERI HUKUM DAN HAM
REPUBLIK INDONESIA,

ANDI MATTALATTA

[tulis] » komentar « [baca]
LDj © 2010

© LDj - 2010 • ke atas