info: aktifkan javascript browser untuk tampilan normal...home
database peraturan
http://ngada.org

.
homeinfo PRINTProlegnasTabel LNTabel BN

kembali ke: Perka BNPP No. 1 Thn 2011


LAMPIRAN I:
PERATURAN BADAN NASIONAL PENGELOLA PERBATASAN
NOMOR: 1 TAHUN 2011
TANGGAL: 7 JANUARI 2011


DESAIN BESAR PENGELOLAAN BATAS WILAYAH NEGARA
DAN KAWASAN PERBATASAN TAHUN 2011 - 2025


A.  PENDAHULUAN

1.  LATAR BELAKANG

Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai Negara kepulauan yang berciri nusantara mempunyai kedaulatan atas wilayahnya serta memiliki hak-hak berdaulat di luar wilayah kedaulatannya dan kewenangan tertentu lainnya untuk dikelola dan dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Indonesia sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.Dalam pasal 25A UUD 1945 telah pula ditegaskan bahwa "Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sebuah Negara kepulauan yang berciri nusantara dengan wilayah yang batas-batas dan haknya ditetapkan dengan Undang-Undang". Pengaturan lebih lanjut mengenai wilayah negara yang meliputi wilayah daratan, perairan pedalaman, perairan kepulauan dan laut teritorial beserta dasar laut, dan tanah dibawahnya, serta ruang udara di atasnya, termasuk seluruh sumber kekayaan yang terkandung di dalamnya, telah ditegaskan dalam Undang-undang Nomor 43 Tahun 2008 tentang Wilayah Negara.
Indonesia sebagai negara kepulauan dengan ribuan pulau yang menyebar di wilayah perairan laut yang sedemikian luas dan garis pantai yang panjang, menggambarkan bahwa dua pertiga dari wilayah Indonesia adalah laut, dengan segala konsekuensi dan implikasinya terhadap pengelolaan perbatasan wilayah Negara. Implikasi yang jelas dari kondisi ini, hanya ada tiga perbatasan darat dan sisanya adalah perbatasan laut. Wilayah darat, Indonesia berbatasan langsung dengan tiga negara, yakni Malaysia, Papua Nugini, dan Timor Leste dengan garis perbatasan darat secara keseluruhan adalah 2914,1 km. Sedangkan wilayah laut Indonesia berbatasan dengan 10 negara, yaitu : Malaysia, Singapura, Filipina, India, Vietnam, Thailand, Republik Palau, Australia, Timor Leste, dan Papua Nugini.

Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS 1982)
Batas wilayah laut Indonesia pada awal kemerdekaan hanya selebar 3 mil laut dari garis pantai (Coastal Baseline) setiap pulau, yaitu perairan yang mengelilingi Kepulauan Indonesia bekas wilayah Hindia Belanda. Namun ketetapan batas tersebut, yang merupakan warisan kolonial Belanda, tidak sesuai lagi untuk memenuhi kepentingan keselamatan dan keamanan Negara Republik Indonesia. Atas pertimbangan tersebut, maka lahirlah konsep Nusantara (Archipelago) yang dituangkan dalam Deklarasi Juanda pada tanggal 13 Desember 1957.

PERBATASAN INDONESIA DENGAN
10 NEGARA TETANGGA (DARAT DAN LAUT)



Deklarasi Djuanda dikukuhkan pada tanggal 18 Pebruari 1960 dalam Undang-Undang No. 4/Prp tahun 1960 tentang Perairan Indonesia. Ketetapan wilayah Republik Indonesia yang semula sekitar 2 juta km2 (daratan) berkembang menjadi sekitar 5,1 juta km2 (meliputi daratan dan lautan). Dalam hal ini, ada penambahan luas sebesar sekitar 3,1 juta km2, dengan laut teritorial sekitar 0,3 juta km2 dan perairan laut nusantara sekitar 2,8 juta km2. Konsep Nusantara dituangkan dalam Wawasan Nusantara sebagai dasar pokok pelaksanaan Garis- garis Besar Haluan Negara melalui ketetapan MPRS No. IV tahun 1973.
Melalui Konvensi Hukum Laut Internasional (UNCLOS) pada tahun 1982, yang hingga kini telah diratifikasi oleh 140 negara, negara-negara kepulauan (Archipelagic states) memperoleh hak mengelola Zona Ekonomi Eksklusif seluas 200 mil laut diluar wilayahnya. Sebagai negara kepulauan, Indonesia mempunyai hak mengelola (yurisdiksi) terhadap Zona Ekonomi Eksklusif. Penetapan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) mencapai jarak 200 mil laut, diukur dari garis dasar wilayah Indonesia ke arah laut lepas. Ketetapan tersebut kemudian dikukuhkan melalui Undang-Undang Nomor 5/1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. Konsekuensi dari implementasi undang-undang tersebut adalah bahwa luas wilayah perairan laut Indonesia bertambah sekitar 2,7 juta Km2, sehingga menjadi sekitar 5,8 juta Km2.
Konvensi PBB tentang Hukum Laut 1982 (UNCLOS 1982) melahirkan delapan zonasi pegaturan (regime) hukum laut dan mengatur pemanfaatan laut sesuai dengan status hukum dari kedelapan zonasi pengaturan tersebut. Negara- negara yang berbatasan dengan laut, termasuk Indonesia memiliki kedaulatan penuh atas wilayah perairan pedalaman, perairan kepulauan dan laut teritorial; Sedangkan untuk zona tambahan, zona ekonomi eksklusif dan landasan kontinen, negara memiliki hak-hak eksklusif, misalnya hak memanfaatkan sumberdaya alam yang ada di zona tersebut. Sebaliknya, laut lepas merupakan zona yang tidak dapat dimiliki oleh negara manapun, sedangkan kawasan dasar laut Internasioal dijadikan sebagai bagian warisan umat manusia.
Secara geopolitik Indonesia juga dapat dikatakan sebagai stabilisator kawasan Asia Tenggara mengingat besarnya wilayah dan jumlah penduduk. Terlebih lagi dengan letak posisi geografis Indonesia yang dalam hal ini merupakan negara maritim, sehingga stabilitas keamanan maritim Indonesia juga sebagai salah satu kunci dari stabilitas situasi keamanan di wilayah Asia Pasifik. Khususnya karena negeri ini mempunyai empat chokepoints dari sembilan chokepoints strategis dunia dan tiga ALKI. Keempat chokepoints itu meliputi Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Lombok dan Selat Ombai.
Kemampuan Indonesia mengamankan keempat chokepoints akan berpengaruh langsung terhadap situasi keamanan dan ekonomi kawasan Asia Pasifik secara keseluruhan. Sebab perairan-perairan tersebut merupakan jalur penghubung antara kawasan Asia Barat ke Asia Timur dan sebaliknya. Sehingga bilamana terjadi destabilisasi di keempat chokepoints tersebut merupakan malapetaka bagi pelayaran internasional, sebagaimana halnya yang terjadi di wilayah perairan Somalia.
Walaupun Indonesia tidak menghadapi konflik perbatasan yang serius berupa bentrokan bersenjata dengan negara-negara tetangga. Namun sejumlah wilayah Indonesia yang berbatasan dengan negara tetangga masih terdapat sejumlah persoalan klaim wilayah perbatasan, yang masing-masing pihak merasa memiliki kekuatan hukum. Bahkan terkadang terjadi sejumlah insiden pelanggaran perbatasan, khususnya di wilayah perbatasan laut, baik yang dilakukan oleh pihak sipil seperti nelayan dan pelanggar lintas batas sipil lainnya, sampai kepada aparat pemerintah atau keamanan masing-masing negara.
Kondisi yang demikian mejadikan wilayah perbatasan terkendala untuk dapat dikembangkan sebagai sentra pertumbuhan ekonomi yang berbasiskan pada karakteristik wilayah perbatasan yang seharusnya memiliki intensitas tinggi dalam arus lalu lintas, manusia, barang dan jasa. Karena tanpa adanya kepastian hukum akan batas wilayah negara, akan sulit untuk membangun kerjasama dan koordinasi pengelolaan perbatasan. Hal seperti inilah yang kadangkala dimanfaatkan oleh para pelaku kejahatan lintas negara. Yakni dengan memanfaatkan "loop hole" kelemahan kerjasama antar aparat serta adanya grey area yang menjadi sengketa perbatasan. Para bajak laut yang beroperasi di perairan selat Malaka, antara lain juga memanfaatkan "grey area" sengketa perbatasan. Sehingga walaupun kerjasama antar aparat keamanan perbatasan secara bilateral ataupun multilateral dilakukan, namun apabila sengketa perbatasan tidak mampu diselesaikan dengan segera, akan menjadikan wilayah perbatasan sebagai derah operasi para pelaku kejahatan lintas batas negara (trans national border crime).

Kebutuhan Pembentukan Badan Pengelola Perbatasan
Sedemikian kompleksnya permasalahan dan implikasi batas wilayah Negara. Sedemikian luasnya wilayah Indonesia sebagai Negara kepulauan yang berbatasan dengan sejumlah Negara, baik di wilayah darat dan laut, maka diperlukan pengelolaan perbatasan yang komprehensif dan efektif. Pengelolaan batas-batas Wilayah Negara diperlukan dan sangat penting untuk memberikan kepastian hukum mengenai ruang lingkup wilayah negara, kewenangan pengelolaan Wilayah Negara, dan hak-hak berdaulat.
Di samping pengelolaan batas wilayah Negara, diperlukan pula keberpihakan dan perhatian khusus terhadap upaya pembangunan wilayah-wilayah di sepanjang sisi dalam garis batas, atau kawasan perbatasan, untuk menjamin tetap terpeliharanya kedaulatan Negara, keamanan wilayah, dan kesejahteraan masyarakat setempat.
Sesuai dengan UU No 43 Tahun 2008, pemerintah dan pemerintah daerah berwenang mengatur pengelolaan dan pemanfaatan wilayah Negara dan kawasan perbatasan. Dalam pengelolaan Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan, sesuai Pemerintah berwenang:
a.Menetapkan kebijakan pengelolaan dan pemanfaatan Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan;
b.Mengadakan perundingan dengan negara lain mengenai penetapan Batas Wilayah Negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan hukum internasional;
c.Membangun atau membuat tanda Batas Wilayah Negara;
d.Melakukan pendataan dan pemberian nama pulau dan kepulauan serta unsur geografis lainnya;
e.Memberikan izin kepada penerbangan internasional untuk melintasi wilayah udara teritorial pada jalur yang telah ditentukan dalam peraturan perundang- undangan;
f.Memberikan izin lintas damai kepada kapal-kapal asing untuk melintasi laut teritorial dan perairan kepulauan pada jalur yang telah ditentukan dalam peraturan perundang-undangan;
g.Melaksanakan pengawasan di zona tambahan yang diperlukan untuk mencegah pelanggaran dan menghukum pelanggar peraturan perundang-undangan di bidang bea cukai, fiskal, imigrasi, atau saniter di dalam Wilayah Negara atau laut teritorial;
h.Menetapkan wilayah udara yang dilarang dilintasi oleh penerbangan internasional untuk pertahanan dan keamanan;
i.Membuat dan memperbarui peta Wilayah Negara dan menyampaikannya kepada Dewan Perwakilan Rakyat sekurang-kurangnya setiap 5 (lima) tahun sekali; dan
j.menjaga keutuhan, kedaulatan, dan keamanan Wilayah Negara serta Kawasan Perbatasan.
Untuk melaksanakan ketentuan sesuai dengan tersebut, Pemerintah berkewajiban menetapkan biaya pembangunan kawasan perbatasan dan dapat menugasi pemerintah daerah untuk menjalankan kewenangannya dalam rangka tugas pembantuan.
Dalam pengelolaan wilayah negara dan kawasan perbatasan, pemerintah provinsi berwenang melaksanakan kebijakan Pemerintah dan menetapkan kebijakan lainnya dalam rangka otonomi daerah dan tugas pembantuan, koordinasi pembangunan di kawasan Perbatasan,kerja sama pembangunan kawasan perbatasan antar pemerintah daerah dan/atau dengan pihak ketiga; Serta melakukan pengawasan pelaksanaan pembangunan kawasan perbatasan yang dilaksanakan Pemerintah Kabupaten/Kota. Sedangkan Pemerintah Kabupaten/Kota berwenang melaksanakan kebijakan Pemerintah dan menetapkan kebijakan lainnya dalam rangka otonomi daerah dan tugas pembantuan, menjaga dan memelihara tanda batas, melakukan koordinasi dalam rangka pelaksanaan tugas pembangunan di kawasan perbatasan di wilayahnya; dan melakukan kerjasama pembangunan kawasan perbatasan antar daerah dan/atau dengan pihak ketiga. Selanjutnya diatur dan ditegaskan, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota berkewajiban menetapkan biaya pembangunan Kawasan yang pelaksanaan kewenangannya perlu diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.
Untuk mengelola batas wilayah negara dan mengelola kawasan perbatasan pada tingkat pusat dan daerah, Pemerintah dan pemerintah daerah membentuk Badan Pengelola, baik di tingkat nasional mau pun daerah, yang sifat hubungannya koordinatif. Amanat ini kemudian ditindaklanjuti dengan lahirnya Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) melalui Peraturat Presiden Nomor 12 Tahun 2010. Badan ini, dipimpin oleh seorang kepala badan yang bertanggung jawab kepada Presiden atau kepala daerah sesuai dengan kewenangannya dengan keanggotaan berasal dari unsur Pemerintah dan pemerintah daerah yang terkait dengan perbatasan Wilayah Negara. Badan Pengelola bertugas menetapkan kebijakan program pembangunan perbatasan, menetapkan rencana kebutuhan anggaran, mengoordinasikan pelaksanaan, serta melaksanakan evaluasi dan pengawasan. Pelaksana teknis pembangunan dilakukan oleh instansi teknis sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.

Pengelolaan Perbatasan Memerlukan KISS
Pengelolaan batas wilayah dan kawasan perbatasan, memerlukan Koordinasi, Integrasi, Sinkronisasi, dan Simplifikasi (KISS). Untuk ini semua, terkait dengan beberapa dokumen peraturan perundangan nasional, yang antara lain: Undang-undang Nomor 17 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Tahun 2004-2025, Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010-2014, Undang-undang Nomor 43 tahun 2008 tentang Wilayah Negara, Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, Undang-undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau Kecil, Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar, dan Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2010 tentang Badan Nasional Pengelola Perbatasan.
Perundang-undangan sebagaimana tersebut, memiliki keterkaitan erat dengan upaya percepatan penyelesaian batas wilayah negara, serta mencerminkan adanya pergeseran paradigma dan arah kebijakan pembangunan kawasan perbatasan dari yang selama ini cenderung berorientasi "inward looking", menjadi "outwardlooking" sebagai pintu gerbang aktivitas ekonomi dan perdagangan dengan negara tetangga. Di samping itu, pendekatan pengelolaan perbatasan Negara pun, terefleksi nampak adanya pergeseran dengan mengedepankan kombinasi pendekatan kesejahteraan (prosperity approach) yang dilaksanakan secara serasi dengan pendekatan keamanan (security approach) dan pendekatan lingkungan (environment approach).
Sebagai perwujudan dari pergeseran paradigma tersebut, dari sisi penataan spasial nasional,kawasan perbatasan telah ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN) dari sudut pandang pertahanan dan keamanan serta peningkatan pertumbuhan ekonomi, karena memiliki nilai strategis dalam menjaga integritas wilayah Negara dan kesejahteraan rakyat Indonesia.
Kawasan perbatasan laut maupun darat Indonesia dengan Negara-negara tetangga, mempunyai permasalahan berbeda-beda karena masing-masing kawasan memiliki sifat dan karakteristik sendiri. Perbedaan permasalahan dipengaruhi oleh faktor-faktor geografis, ketersediaan SDA dan SDM, kondisi sosial, ekonomi, budaya, politik, serta tingkat kesejahteraan masyarakat.
Pengelolaan perbatasandi Indonesia, hingga saat ini masih dihadapkan pada beberapa isu strategis dengan variasi permasalahanyang menonjoldi dalamnya, yaitu:pengelolaan batas wilayah Negara dn pembangunan kawasan perbatasan.

a.  Pengelolaan Batas Wilayah Negara
Belum selesainya penetapan dan penegasan beberapa segmen batas wilayah negara dengan negara tetangga, baik batas darat maupun batas laut, sehingga sering menjadi penyebab munculnya masalah terkait sengketa garis batas yang potensial mengancam kedaulatan RI. Berikut ini gambaran umum permasalahan batas darat negara dengan tiga negara tetangga.

1)  Perbatasan Darat NKRI

a) Batas Darat RI - Malaysia
Penyelesaian batas kedua negara melalui perundingan, masih menghadapi permasalahan Outstanding Boundary Problems(OBP), sebanyak 9 kasus. (lihat Gambar 2).. Di antara kasus ini, kasus Tanjung Datu termasuk yang memerlukan perhatian serius. Kegiatan survey Investigation, Refixation, Maintenance(IRM), pihak Indonesia masih memiliki kekurangan kelengkapan data, ketersediaan dana survei, dan aksesibilitas.

Gambar 2

Kegiatan Common Border Datum Reference Frame(CBDRF) dan Joint Border Mapping (JBM), baru mampu menghasilkan data dalam bentuk buku ukur, azimuth dan jarak, yang diperlukan data Comp Sheet.

b) Batas Darat RI- PNG
Penyelesaian batas kedua negara melalui perundingan, masih mensisakan beberapa permasalahan.Sumber hukum RI - PNG adalah Treaty 1973 dan telah diratifikasi dengan UU No. 6/1973, saat treaty ditandatangani, terdapat 14 MM. Deklarasi-deklarasi pilar-pilar batas telah ditandatangani di tingkat teknis namun belum ada perundang an di tingkat nasional. Pilar batas telah disepakati dan ditegaskan 52 MM dan telah dipasang: 1792 pilar perapatan.

Gambar 3

*Perjanjian Tahun 1973 - hasil demarkasi terdapat 14 MM dan densifikasi 38 titik
*Peta Batas Skala 1:50.000 sebanyak 27 lembar
*Masih dilaksanakan pengukuran CBDRF di 14 pilar (kendala teknologi penentuan posisi)

Pemeliharaan tetap dilakukan dengan kontinyu oleh pihak Indonesia dan pertemuan teknikal dan bilateral dilakukan setiap tahun. Masalah lain perlu perhatian, terkait dengan pencemaran sungai Fly, rencana pembukaan Pos Pemeriksaan Lintas batasSkouw - Wutung, dan kasus status penduduk perbatasan di Wara Smol, Papua (lihat Gambar 3).

c)  Batas Darat RI - RDTL
Penyelesaian batas kedua negara, RI dengan Republik Demokratik Timor Leste (RDTL), masih menyisakan beberapa permasalahandi lapangan (lihat Gambar 4). Terdapat 3 (tiga) un-resolved segments: Noel Besi, Manusasi, dan Memo.1 (satu) un-surveyed segment (Subina-Oben), dan 1 (satu) segmen kecil di Nelu (TTU, ± 1,5 km) yg sudah didelineasi tahun 2003, tetapi masyarakatnya menolak didemarkasi dengan alasan tidak mau kehilangan lahan garapan. Kondisi saat ini pada wilayah Noel Besi terdapat 44 keluarga Timor Leste, Keluarga RDTL yang seharusnya tidak berada pada wilayah tersebut (Desa Naktuka). Masalah lain terkait Border Crossing Pass yang tidak seragam dan berisi informasi yang tidak sesuai dengan agreement kedua Negara.

Gambar 4
Perbatasan Darat RI - Timor Leste


- Demarkasi & pemeliharaan pilar batas
-Pembuatan peta wilayah kecamatan perbatasan RI - RDTL 45nlp skala 1:25.000
-pembangunan sistem datum geodesi bersama (CBDRF)
-Pemasangan Border Sign Post

Gambaran permasalahan perbatasan tersebut, masih dilengkapi dengan persoalan lain adanya sinyalemen terjadinya pergeseran, kerusakan, dan hilangnya patok-patok perbatasan darat wilayah negara, banyaknya "jalur tikus" lintas batas, dan kondisi Pos Lintas Batas (PLB) yang belum memadai terutama PLB tradisional, secara akumulatif menjadi bagian dari permasalahan strategis perbatasan saat ini yang memerlukan perhatian serius.

2)  Perbatasan Laut NKRI
Sejumlah segmen batas wilayah laut, baik batas dengan negara tetangga maupun batas-batas terluar yurisdiksi negara dimana Indonesia memiliki hak-hak berdaulat untuk pemanfaatannya, banyak yang belum disepakati.
Untuk Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE), dari sebanyak 10 Perjanjian, baru 2 yang telah disepakati dan 8 belum ada kesepakatan. Untuk Batas Laut Teritorial (BLT), dari sebanyak 5 Perjanjian, telah ada sebanyak 3 yang telah disepakati dan menyisakan 2 yang belum. Untuk batas laut kontinen (BLK), dari sebanyak 8 Perjanjian, telah 4 disepakati dan 4 lagi yang belum ada kesepakatannya.
Masih lemahnya upaya pencegahan maupun penegakan hukum terhadap aktivitas-aktivitas ilegal (illegal loging, illegal fishing, illegal mining, human trafficking, dll) serta gangguan keamanan di kawasan perbatasan. Di samping ini, masih rendahnya aksesibilitas informasi yang berpotensi melemahkan wawasan maupun rasa kebangsaan warga bangsa di perbatasan.
Masih minimnya sarana dan prasarana di sebagian besar exit entry point (Pos Lintas Batas) perbatasan darat maupun perbatasan laut, banyaknya "jalan tikus" lintas Negara mau pun PLB tradisional yang kurang efektif pengawasannya, dikaitkan dengan fenomena meningkatnya kasus perdagangan manusia dan terorisme, menjadi bagian dari permasalahan strategis lain di perbatasan wilayah Negara yang memerlukan penanganan khusus.

b.  Pembangunan Kawasan Perbatasan.
Belum optimalnya pengembangan dan pemanfaatan potensi kawasan perbatasan serta kurang tersedianya sarana/prasarana dasar di kawasan perbatasan, merupakan permasalahan umum yang terjadi dan dihadapi hampir di semua kawasan perbatasan wilayah negara Indonesia, sehingga menyebabkan kawasan perbatasan senantiasa tertinggal dan terisolir, dengan tingkat kesejahteraan masyarakatnya yang rendah dan aksesibilitas yang kurang, terutama akses kawasan perbatasan dengan pusat pemerintahan, pusat-pusat pelayanan publik, atau wilayah lain yang relatif lebih maju.
Rendahnya kualitas SDM, kurang meratanya penyebaran penduduk karena karakteristik geografis kawasan, dankerusakan lingkungan akibat eksploitasi SDA yang tidak terkendali tanpa menghiraukan daya dukungnya, menambah kompleksitas permasalahan aktual yang dapat ditemui di sebagian besar kawasan perbatasan wilayah negara, utamanya di wilayah darat.
Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional baru memberikan arahan pemanfaatan ruang kawasan perbatasan yang bersifat makro. Sementara itu rencana rinci RTRWN berupa Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Nasional Perbatasan masih belum tersedia, sehingga pembangunan kawasan perbatasan belum memiliki acuan yang kuat dalam implementasinya.
Dalam pengembangannya, masih banyak potensi kawasan perbatasan yang dapat dikembangkan, namun banyak pula upaya yang harus dilakukan. Selama ini, banyak yang belum tergarap secara optimal untuk kesejahteraan rakyat di perbatasan maupun kemajuan bangsa dan Negara Indonesia.
Kondisi umum pengelolaan batas wilayah negara dan kawasan perbatasan selama ini, kenyataan menunjukkan masih belum dilakukan secara terpadu dengan mengkonsolidasikan seluruh sektor terkait, mengingat belum ada lembaga pengelolanya hingga sampai terbentuknya Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP), sesuai dengan Peraturan Presiden No 12 Tahun 2010.
Setidaknya ada 60-an program yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan kepentingan kemajuan perbatasan. Program ini tersebar secara sektoral di 29 Kementerian/Lembaga pemerintah non kementerian dan tidak memiliki keterkaitan yang jelas dalam sebuah koordinasi yang mantap, sehingga hasilnya pun tidak menunjukkan kemajuan yang signifikan di perbatasan. Ketertinggalan, keterisolasian, keterbelakangan, kemiskinan, dan predikat lain yang menunjukkan kekurang-berhasilan penanganan perbatasan, merupakan sebuah fakta dan isu strategis manajemen perbatasan, sehingga mendesak direspon dengan pembentukan BNPP sebagai badan pengelola yang salah satu fungsinya melakukan koordinasi pengelolaan perbatasan.
Fokus pada isu-isu manajemen yang saat ini dihadapi,akan mengerahkan ruang gerak penguatan pengelolaan perbatasan, setidaknya pada empat permasalahan strategis, yatu:
1)Masih belum adanya keterpaduan program dan kejelasan prosesur penetapan kebijakan program, untuk program-program terkait dengan perbatasan yang secara sektoral menjadi tanggung jawab Kementerian/Lembaga Pemerintah Non Kementerian;
2)Masih belum adanya keterpaduan proses menentukan prioritas kebutuhan anggaran seluruh sektor dan keterbatasan keuangan negara untuk dapat memenuhi anggaran program sebagaimana telah direncanakan.
3)Masih belum adanya koordinasi pelaksanaan program-program pengelolaan perbatasan,sehingga terjadi aktivitas yang "bertabrakan" atau "kekosongan" di perbatasan, bahkan banyak yang kurang fungsional karena tak saling terkait. Sering terjadi, pembangunan gedung atau pasar, tak ada listrik dan sarana transportasinya, sehingga kurang fungsional, bahkan dibiarkan kosong.
4)Masih belum adanya pola evaluasi dan pengawasan pelaksanaan program- program untuk perbatasan negara, sehingga kemajuan dan permasalahan yang dihadapi tidak terpetakan secara komprehensif, sehingga menyulitkan untuk mengambil tindakan korektif dan penanganan yang efektif atas situasi dan kondisi.
Mengingat latar belakang permasalahan tersebut dan kebutuhan mendesak untuk penanganan permasalahan perbatasan wilayah Negara sebagaimana digambarkan,diperlukan langkah-langkah nyata bagaimana mengelola batas wilayah Negara dan kawasan perbatasan secara lebih sistematis, komprehensif, dan visioner. Atas dasar pertimbangan inilah, diperlukan sebuah grand design pengelolaan perbatasan, dengan fokus pada pengelolaan batas wilayah Negara dan kawasan perbatasan, yangdapat memberikan gambaran dan arahan mengenai bagaimana visi dan misi pengelolaan perbatasan sebagaimana yang diamanatkan dalam RPJP Tahun 2005-2025 dapat diwujudkan.

2.  MAKSUD DAN TUJUAN

Grand Design Pengelolaan Batas Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan Tahun 2011 - 2025, ditetapkan dengan maksud untuk menyediakan acuan bagi penyusunan rencana induk mau punrencana aksi pengelolaan perbatasan mengenai bagaimana mencapai visi dan misi jangka panjang pengelolaan perbatasan sebagaimana diamanahkann dalam RPJP.
Grand design yang dalam hal ini diposisikan dan berperan menjembatani antara Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJPM), bertujuan untuk memberikan arah bagi penyusunan Rencana Induk dan Rencana aksi Pengelolaan Batas Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan secara bertahap, sistematis, terarah, terukur, dan komprehensif sebagai acuan pengelolaan perbatasan di Pusat maupun di Daerah.

3.  SISTEMATIKA

Sesuai dengan maksud dan tujuannya, penyusunan grand design pengelolaan perbatasan ini, disajikan dalam 5 (lima) Bab.
a.Pada Bab I (Pendahuluan), dijelaskan mengenai latar belakang bermasalahan yang menjadi titik tolak perlunya disusun grand design ini dan maksud serta tujuannya.
b.Pada Bab II (Konsep Dasar), dijelaskan bagaimana konsep dasar pengelolaan perbatasan yang menjadi dasar di mana kerangka pikir pengelolaan perbatasan dibangun. Tiga pendekatan secara simultan menjadi dasar berpikir, yaitu pendekatan keamanan, pendekatan kesejahteraan, dan pendekatan lingkungan.
c.Pada Bab III (Visi, Misi dan Strategi Dasar) diuraikan rumusan visi dan misi jangka panjang sesuai dengan Rencana Pembangunan Nasional Jangka Panjang (RPJP) Tahun 2004-2025, serta bagaimana strategi dasar mewujudkannya dengan apa yang diperkenalkan di sini dengan istilah "Strategi 7 Re". Agenda prioritas penanganan, secara garis besar juga relevan untuk dijelaskan dalam bab ini.
d.Pada Bab IV (Desain Pengelolaan) digambarkan mengenai empat elemen dasar yang merupakan unsur-unsur penting dari desain pengelolaan, yang ditarik dari mandat BNPP sebagai badan pengelola dengan koordinasi sebagai salah satu peran pentingnya. Keempat elemen desain tersebut adalah elemen-1 kebijakan program, elemen-2 kebutuhan anggaran, elemen-3 koordinasi, serta elemen-4 monitoring, evaluasi, dan pelaporan.
e.Pada Bab V (Penutup), memberikan penegasan, catatan, dan penyemangat betapa persoalan perbatasan Negara sedemikian penting untuk dikelola dengan baik untuk Bangsa dan Negara Republik Indonesia.
Untuk melengkapi informasi yang relevan, dalam grand design ini dilampirkan beberapa data yang relevan, yaitu : Lampiran I dan II, data mengenai status dan dokumentasi perundang-undangan penyelesaian batas wilayah darat dan laut Negara Indonesia; Lampiran III mengenai dokumentasi perjanjian garis batas maritim NKRI dengan negara tetangga; Lampiran IV mengenai cakupan kawasan, wilayah konsentrasi pengembangan, dan lokasi prioritas 2011-2014.

B.  KONSEP DASAR PENGELOLAAN PERBATASAN
Pengelolaan perbatasan di seluruh wilayah NKRI merupakan bagian integral dari manajemen negara, yang operasionalisasinya membutuhkan adanya arah yang jelas berdimensi jangka panjang dan komprehensif dalam sebuah grand design bagaimana mencapai visi dan misi pengelolaan perbatasan sebagaimana telah diamanahkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP).
Pengelolaan perbatasan dimaknai sebagai kegiatan manajemen penanganan (bagaimana menangani) perbatasan. Pengertian perbatasan, dalam grand design ini, diartikan sebagai batas wilayah negara dan kawasan perbatasan, sehingga terminologi "pengelolaan perbatasan" perlu senantiasa dibaca dalam pengertian pengelolaan batas wilayah dan kawasan perbatasan. Untuk lebih memberikan pemahaman operasionalnya, dikaitkan dengan spirit dan amanah pembentukan Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) dalam Undang-undang No 43 Tahun 2008 tentang Wilayah Negara, maka pengelolaan perbatasan, dimaknai sebagai upaya bagaimana menggerakkan orang-orang dan potensi kawasan perbatasan melalui penetapan kebijakan perencanaan program, penyusunan kebutuhan anggaran, koordinasi pelaksanaan,serta evaluasi dan pengawasan atas penanganan batas wilayah negara dan kawasan perbatasan untuk mencapai tujuan sebagaimana telah ditetapkan.
Penyusunan Grand Design Pengelolaan atas Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan secara prinsipil diarahkan untuk mencapai tujuan utama pengelolaan perbatasan, yakni; (1) Menjaga integrasi NKRI sebagai amanat konstitusi, (2) Membangun kawasan perbatasan secara berimbang, terpadu, dan komprehensif untuk kesejahteraan rakyat; (3) Mengukuhkan kapasitas Indonesia di wilayah perbatasan dalam konteks persaingan global.
Guna mencapai tujuan utama ini, maka grand design ini disusun dengan mempedomani asas-asas dalam pengaturan wilayah Negara, yaitu asas kedaulatan, kebangsaan, kenusantaraan, keadilan, keamanan, ketertiban dan kepastian hukum, kerja sama, kemanfaatan,dan pengayoman. Di samping itu juga secara simultan mempedomani asas-asas umum yang berlaku dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan nasional dalam rangka mewujudkan pemerintahan yang baik dan pembangunan yang berkelanjutan berorientasi pada kesejahteraan rakyat. Atas dasar berbagai pertimbangan ini, maka penyusunan grand design disusundengan memperhatikan hal-hal sebagi berikut:

1.Mengutamakan Kepentingan Strategis Nasional
Kepentingan strategis nasional meliputi aspek geostrategi, geopolitik, dan geoekonomi. geostrategi, geopolitik dan geoekonomi Indonesia merupakan strategi dalam memanfaatkan kondisi geografis Indonesia dalam peta global untuk menentukan kebijakan dalam mencapai tujuan nasional sebagaimana diamanatkan dalam pembukaan UUD 1945. Geostrategi Indonesia diwujudkan dalam konsep Ketahanan Nasional. Aspek geostrategi Indonesia antara lain terkait dengan posisi geografis Indonesia di persilangan internasional yang kemudian ditetapkan oleh hukum internasional menjadi ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia). Geopolitik Indonesia diwujudkan dalam konsep Wawasan Nusantara dan politik luar negeri bebas aktif. Sementara strategi geoekonomi Indonesia diwujudkan melalui pembentukan kawasan-kawasan ekonomi khusus yang memiliki daya saing global dengan kombinasi keunggulan faktor ekonomi dan letak geografis dalam perdagangan internasional.

2.Pengelolaan Perbatasan Berwawasan Global
Di samping mengoptimalkan potensi sebagai konsekuensi dari letak geografis Indonesia, penataan daerah juga harus sensitive terhadap perkembangan global. Sensitivitas tersebut penting sehingga misi mengelola kawasan perbatasan yang dilakukan, sekaligus harus merupakan langkah strategis untuk merebut peluang dalam era global seraya mengantisipasi efek negative dari globalisasi. Isu-isu seperti perdagangan bebas, perubahan iklim, trafficking, hingga terorisme, merupakan tantangan baru yang dihadapi oleh pemerintah pusat maupun daerah. Keberhasilan dalam mengelola isu-isu tersebut sangat terkait dengan strategi pengelolaan perbatasan. Oleh karena itu grand design pengelolaan perbatasan ini menempatkan dinamika perkembangan global sebagai salah satu pertimbangan utama.

3.Integrasi Seluruh Aspek Perubahan Lingkungan Strategis
Pengelolaan perbatasan dilakukan secara komprehensif lintas sektoral. Seluruh aspek lingkungan strategis menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan pilihan-pilihan pengelolaan.Aspek-aspek perubahan lingkungan strategis tersebut antara lain meliputi; perkembangan jumlah penduduk di kawasan, hubungan kultural etnis masyarakat perbatasan, kualitas SDM, potensi kawasan, pertumbuhan infrastruktur, perkembangan perekonomian rakyat, mobilitas penduduk lintas batas, dinamika politik lokal, serta peta diplomasi batas negara Indonesia dengan negara tetangga.Melalui pengelolaan perbatasan yang didukung dengan perencanaan tata ruang yang komprehensif dan dukungan kebijakan nasional yang kuat, disertai kerjasama dengan lintas sektoral dan Daerah yang baik, diharapkan tantangan-tantangan yang terjadi akibat perubahan lingkungan strategis dapat lebih diantisipasi.

4.Keterpaduan Hubungan Pusat dan Daerah
Pengelolaan batas wilayah negara dan kawasan perbatasan melalui instrument pembangunan di garis batas wilayah negara maupun di kawasan perbatasan, dalam skala pembagian kewenangan urusan pemerintahan antara pemerintah pusat,provinsi,dan kabupaten/kota memerlukan kejelasan kewenangan dan keterpaduan. Prinsip money follow functions yang diterapkan dalam system anggaran kinerja saat ini, memerlukan kejelasan akuntabilitas atas pembiayaan kegiatan menurut kewenangan, antara pusat dan daerah untuk berbagai program dan kegiatan pengelolaan perbatasan. Tantangan dan permasalahan lain di sektor keuangan yang akan tetap menjadi bagian dari faktor penghambat pengelolaan kawasan perbatasan, antara lain: Tarik-menarik kepentingan antara pusat dan daerah, rendahnya kapasitas fiskal daerah, kurangnya alternatif sumber pembiayaan daerah untuk pembangunan kawasan perbatasan, ketergantungan fiskal daerah terhadap Pusat, disparitas antar daerah dan antar kawasan, inefisiensi dan efektifitas pengeluaran pemerintah dan pemerintah daerah, rendahnya kapasitas sumber daya manusia dalam pengelolaan keuangan, dan dalam beberapa hal masih dihadapkan pada perilaku korupsi.

5.Dinamika Politik Perbatasan
Isu-isu lain terkait dengan dinamika politik perbatasan yang masih akan menonjol, masih akan diwarnai dengan permasalahan yang belum tuntas terkait dengan garis batas, baik batas darat maupun batas laut. Sekali pun tidak secara kuat mempengaruhi perundingan, namun perkembangan isu-isu yang bersifat sektoral, seperti permasalahan Tenaga Kerja Indonesia (TKI), degradasi lingkungan, pengusahaan hutan dan pertambangan di kawasan perbatasan, berbagai ketimpangan disekitar perbatasan, dan tuntutan atau tekanan global dalam berbagai bentuknya, masih akan mewarnai pengelolaan batas wilayah negara dan kawasan perbatasan ke depan yang patut untuk diperhatikan.
Konsep dasar pengelolaan batas wilayah negara dan kawasan perbatasan tersebut, di samping memperhatikan berbagai hal sebagaimana telah dideskripsikan tersebut, selanjutnya dikembangkan dengan mengacu pada pokok-pokok pikiran:

a)Pengelolaan Perbatasan dilakukan dengan Pendekatan secara Komprehensif Tiga Dimensi : Kesejahteraan, Keamanan, dan Lingkungan
Pengelolaan batas wilayah negara dan kawasan perbatasan, dilakukan dengan menggunakan pendekatan yang berorientasi pada kesejahteraan, yang dilaksanakan serasi dengan dua pendekatan lain yang berorientasi pada keamanan dan lingkungan.
Pendekatan kesejahteraan (prosperity approach) pada dasarnya merupakan upaya yang dilakukan berdasarkan pengembangan kegiatan ekonomi dan perdagangan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kawasan perbatasan. Pengembangan aktivitas ekonomi dan perdagangan, diarahkan berbasis pada komoditas unggulan masing-masing wilayah perbatasan dan sekitarnya, yang berbeda sesuai karakteristik dan potensi unggulannya. Pendekatan kesejahteraan merupakan konsekuensi logis dari paradigma baru pengembangan kawasan perbatasan yang mengubah arah kebijakan pembangunan yang selama ini cenderung berorientasi "inward looking", menjadi "outward looking" sehingga kawasan perbatasan dapat dimanfaatkan sebagai pintu gerbang aktivitas ekonomi dan perdagangan dengan negara tetangga. Pendekatan kesejahteraan secara spasial direfleksikan melalui pengembangan kota-kota utama di kawasan perbatasan atau PKSN yang akan difungsikan sebagai motor pertumbuhan bagi wilayah-wilayah di sekitar perbatasan negara. Konsep pengembangan pusat-pusat pertumbuhan di kawasan perbatasan mengacu pada komitmen untuk menjadikan perbatasan sebagai pusat pengembangan ekonomi regional dan nasional. Pengembangan pusat-pusat kegiatan strategis di kawasan perbatasan, membutuhkan dukungan multi sektor dan kebijakan pemerintah yang kondusif bagi dunia usaha, termasuk insentif yang benar-benar dapat menjadi daya tarik bagi dunia usaha. Berbagai upaya lain juga dibutuhkan, terutama percepatan pembangunan sarana dan prasarana dasar pendukung pengembangan potensi ekonomi kawasandan perdagangan maupun pelayanan publik yang memadai di kawasan perbatasan.
Pendekatan keamanan (Security) memandang kawasan perbatasan sebagai kawasan yang bersebelahan langsung dengan negara lain. Selain itu, wilayah perairan perbatasan memiliki peranan vital bagi perekonomian banyak bangsa karena menjadi lintasan perdagangan dunia sekaligus didalamnya menyimpan sumberdaya alam yang sangat besar. Usaha mengamankan dan melindungi berarti mewujudkan kondisi perairan yurisdiksi nasional yang terkendali dan dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kepentingan nasional. Dengan demikian, pendekatan keamanan di samping melihat kawasan perbatasan sebagai kawasan yang memiliki nilai strategis bagi keutuhan wilayah namun juga bagi kepentingan untuk melindungi kepentingan pembangunan kelautan nasional. Di kawasan perbatasan darat, Konsep struktur ruang pertahanan dan keamanan yang dikembangkan ialah membentuk "sabuk komando" perbatasan negara. Sabuk komando perbatasan negara ini berupa buffer area atau security zone sejauh ±4 km dari garis perbatasan sebagai wilayah pengawasan. Pertimbangan tersebut juga memperhatikan batasan fisik, meliputi ketinggian topografi, kelerangan tanah, maupun keberadaan sungai. Salah satu bentuk pengawasan ini berupa penyediaan pos-pos pengawasan di sepanjang sabuk komando yang berfungsi memantau aset-aset sumber daya negara serta benteng pertahanan terdepan.
Sedangkan di kawasan perbatasan laut, upaya pengamanan dilakukan terhadap daerah-daerah rawan selektif di sekitar pulau-pulau kecil terluar, alur laut kepulauan indonesia, hingga batas-batas terluar perairan yurisdiksi.
Pendekatan lingkungan, memandang dan memperhatikan aspek lingkungan sebagai faktor penting dalam pengelolaan perbatasan merupakan perspektif penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan meminimasi dampak yang akan ditimbulkan oleh kegiatan pembangunan di kawasan perbatasan yang menjadi pintu gerbang kegiatan ekonomi dan perdagangan dengan negara tetangga. Pendekatan lingkungan ini dioperasionalkan dengan langkah-langkah pengembangan yang diperlukan, antara lain dengancara menjaga keseimbangan lingkungan dalam melakukan proses pembangunan, terutama dalam melakukan pengendalian pemanfaatan ruang di kawasan perbatasan darat, perwujudan nyata strategi ini direfleksikan misalnya dengan tindakan untuk melakukan pengendalian pada penebangan liar dan pengendalian terkait dengan larangan adanya aktivitas budidaya di lahan kawasan lindung maupun kawasan konservasi lainnya. Di samping itu, juga diwujudkan dalam bagaimana upaya menjaga keseimbangan lingkungan dalam melakukan eksploitasi sumberdaya alam, khusus untuk potensi bahan tambang batu bara, emas, dan minyak bumi. Sedangkan di kawasan perbatasan laut, strategi ini direfleksikan misalnya melalui pengendalian terhadap aktivitas penambangan pasir di pulau terluar, pencegahan terhadap eksploitasi sumber daya perikananyang tidak ramah lingkungan, serta pembangunan pulau kecil terluar dengan memperhatikan daya dukungnya, yakni kerentanan dan ambang batas pulau untuk menjamin keberlanjutan kehidupan.

b)Pengembangan Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN) sebagai entry point pembangunan kawasan perbatasan secara terpadu
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 26 tahun 2008 tentang RTRW Nasional terdapat 26 PKSN yang ditetapkan untuk mendorong pengembangan kawasan negara, yang letaknya berada di wilayah administrasi pemerintahan daerah otonom provinsi dan kabupaten/kota tersebar di 11 provinsi (Gambar 5). Mengingat keberadaannya yang demikian, maka pengelolaan wilayah perbatasan dan PKSN di dalamnya, tidak dapat dilepaskan dengan berbagai urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah otonom, baik provinsi maupun kabupaten/kota. Sebuah kawasan perbatasan, membutuhkan model pengelolaan yang mampu mensinergikan antar kewenangan (pusat, provinsi, dan kabupaten/kota) yang direfleksikan dalam norma, standard, prosedur, dan kriteria tertentu terkait pengelolaan batas wilayah negara dan kawasan perbatasan.
Untuk pembangunan sebuah kawasan secara terpadu, membutuhkan entry ponitbagaimana keterpaduan tersebut hendaknya dimulai. Sementara itu, loksi prioritas di wilayah konsentrasi pengembangan dibutuhkan sebagai fokus dimana pengelolaan perbatasan secara terpadu hendak diwujudkan. Dalam satu kesatuan sistem pembangunan kawasan, ada hubungan antar sub sistem dari skala yang mikro hingga ke makro. Dalam konteks ini, penetapan lokasi prioritas yang nota bene adalah kecamatan, tak semata-mata pembangunan hanya dilihat dari lingkup kecamatan, tetapi sebagai unit analisis bisa diperluas dalam sistem pembangunan kawasan yang bertumpu pada pembangunan pusat-pusat pertumbuhan wilayah dan simpul-simpul pengembangannya.

Gambar 5

Kawasan perbatasan laut maupun darat Indonesia dengan Negara-negara tetangga, mempunyai permasalahan berbeda-beda karena masing- masing kawasan memiliki sifat dan karakteristik sendiri. Perbedaan permasalahan dipengaruhi oleh faktor-faktor geografis, ketersediaan SDA dan SDM, kondisi sosial, ekonomi, budaya, politik, serta tingkat kesejahteraan masyarakat.

c)Basis Manajemen Penanganan Perbatasan difokuskan pada Problem dan Wilayah (Area and Problem Focus)
Pengelolaan batas wilayah negara dan kawasan perbatasan, dilakukan dengan prinsip manajemen berbasis wilayah (problem and area fokus), yang intinya adalah mengembangkan potensi kawasan dan memecahkan problem-problem strategis perbatasan di wilayah-wilayah konsentrasi pengembangan tertentu secara terpadu.
Pengelola kawasan perbatasan dengan menerapkan manajemen berbasis wilayah (problem and area fokus ) di kawasan perbatasan, akan dipermudah dengan telah ditetapkannya dari awal mengenai lokasi prioritas di mana berbagai inputs pembangunan dari sektor terkait (K/L) dan Daerah akan digiring masuk ke lokasi-lokasi prioritas secara terpadu sesuai kebutuhan kawasan, termasuk sektor swasta yang memungkinkan. Inputs sektoral yang dimaksudkan di sini, mencakup program dan perangkat pendukungnya yang antara lain kegiatan, anggaran, tenaga, peralatan, dan fasilitas lainnya yang dibutuhkan.
Gambar 6 menunjukkan, lokasi prioritas adalah sasaran utama, yang diharapkan inputs pembangunan digiring masuk ke lokasi ini sesuai kebutuhan. Mengingat sifat dan karakteristik kebutuhan, beberapa kegiatan program hanya akan digiring masuk hanya sampai ke Wilayah-wilayah Konsentrasi Pengembangan(WKP), sebagai sasaran antara, namun diperhitungkan mempunya efek secara sistemik dan signifikan mendukung aktivitas lain yang dibutuhkan di lokasi prioritas pembangunankawasan perbatasan. Dalam konteks pengembangan wilayah perbatasan, antara lokasi prioritas, WKP, dan cakupan kawasan perbatasan adalah sub-sub sistem yang saling terkait satu dengan yang lainnya. Koordinasi berbasis wilayah, melihat keterkaitan lokasi ini lebih pada hubungan langsung dan tak langsung dalam sebuah sistem pembangunan yang sasaran utamanya adalah lokasi prioritas pengembangan yang ada di WKP.

Gambar 6

Secara garis besar, mengelola perbatasan memiliki ruang lingkup penanganan yang mencakup dua sasaran strategis yaitu : (1) Pengelolaan batas wilayah antar negara; dan (2) Pengelolaan kawasan perbatasan.

1)Pengelolaan Batas Wilayah Negara
Pengelolaan batas wilayah pada dasarnya memuat berbagai langkah strategis untuk menetapkan dan menegaskan batas-batas wilayah negara serta batas-batas terluar perairan yurisdiksi dengan negara tetangga, pengamanan batas wilayah di darat dan di laut, serta reformasi manajemen pengelolaan lintas batas. Sedangkan pengelolaan kawasan perbatasan pada dasarnya terkait dengan berbagai langkah strategis untuk meningkatan kesejahteraan masyarakat setempat melalui pembangunan wilayah secara berimbang dan berkelanjutan.
Sasaran wilayah (geographical target) pengelolaan batas wilayah darat diarahkan pada segmen-segmen batas darat dengan negara tetangga (Malaysia, Papua Nugini, dan Timor Leste) baik yang sudah disepakati maupun yang belum disepakati. Sedangkan pengelolaan batas maritim diarahkan pada Batas Laut Teritorial (BLT) dan batas-batas perairan yurisdiksi, yakni Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) dan Batas Landas Kontinen (BLK). Penetapan prioritas pengelolaan batas wilayah dilakukan dengan memperhatikan batas-batas yang belum disepakati atau disengketakan dengan Negara tetangga serta isu-isu strategis terkait dengan aspek lintas batas negara.

2)Pengelolaan Kawasan Perbatasan
Sasaran wilayah pengelolaan kawasan perbatasan diarahkan pada Wilayah-wilayah Konsentrasi Pengembangan (WKP), yaitu kabupaten/kota yang berada di dalam Cakupan Kawasan Perbatasan (CKP), baik yang berada di kawasan darat maupun laut. Penentuan prioritas WKP ditetapkan dengan memperhatikan isu-isu strategis di setiap WKP dalam aspek pertahanan, sosial budaya, dan ekonomi.
Fokus lokasi penanganan yang diprioritaskan di setiap WKP disebut dengan Lokasi Prioritas (Lokpri), yakni kecamatan-kecamatan di kawasan perbatasan darat dan laut di dalam WKP yang memenuhi salah satu atau lebih dari kriteria sebagai berikut:

a)Kecamatan yang berbatasan langsung dengan Negara tetangga di wilayah darat.
Sesuai dengan UU No 43 Tahun 2008 tentang Wilayah Negara, kawasan perbatasan adalah bagian dari wilayah Negara yang terletak pada sisi dalam sepanjang batas wilayah Indonesia dengan Negara lain, dalam hal batas wilayah Negara di darat, kawasan perbatasan berada di kecamatan.Hasil identifikasi (2010), terdapat 197 kecamatan yang berada pada kawasan perbatasan Negara.

b)Kecamatan Lokasi Pulau-Pulau Kecil Terluar ;
Untuk kawasan perbatasan laut, berbeda konsepnya dengan perbatasan darat yangmenempatkan kecamatan pada sisi dalam sepanjang perbatasan wilayah Negara. Untuk kawasan perbatasan laut, diperhitungkan dengan memposisikan kecamatan yang menjadi lokasi pulau-pulau kecil terluar.

Gambar 6

Ada 12 pulau kecil terluar yang memerlukan perhatian khusus dan menjadi pertimbangan perhitungan ini, yaitu : Pulau Rondo, Pulau Berhala, Pulau Sekatung, Pulau Marore, Pulau Miangas, Pulau Marampit, Pulau Bras, Pulau Fanildo, Pulau Fani, Pulau Batek, Pulau Dana, dan Pulau Nipah.

c)Kecamatan yang difungsikan sebagai Pusat Kegiatan Strategis Nasional;
Konsep pengembangan Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN) di kawasan perbatasan mengacu pada komitmenuntuk menjadikan perbatasan sebagai pusat pengembangan ekonomi regional dan nasional. Dengan rencana ini, maka pusat-pusat pengembangan kegiatan strategis nasional akan berada di kawasan gerbang perbatasan atau pada jaringan jalan utama menuju gerbang perbatasan. Pengembangan PKSN sebagai pintu gerbang dengan negara tetangga di perbatasan membutuhkan berbagai upaya lain yang strategis dan terpadu di pusat-pusat kawasan terutama percepatan pembangunan sarana dan prasarana dasar maupun pendukung pengembangan ekonomi maupun pelayanan publik.

d)Kecamatan yang menjadi exit-entry point (Pos Lintas Batas) berdasarkan Border Crossing Agreement
Pos Lintas Batas (PLB) adalah area yang berfungsi sebagai gerbang keluar-masuknya pelintas batas wilayah Negara (manusia atau barang) yang minimum dilengkapi fasilitas pelayanan terpadu Customs, Immigration, Quarantine, dan Security (CIQS). Gambaran ideal mengenai PLB, sebagai sebuah area pelayanan terpadu pelintas batas, di dalamnya terdapat pos-pos pemeriksaan yang merefleksikan unsur CIQS.
Keberadaan unsur pelayanan CIQS dalam PLB ini sifatnya terpadu, satu dengan lainnya saling terkait dalam sebuah system koordinasi PLB, yang didukung dengan sebuah satuan kerja atau unit pelayanan pendukung yang dapat memberikan supports facilities dan kendali koordinasi di area tersebut. Berbagai kebutuhan lain, seperti kebutuhan pelayanan administrasi kependudukan pelintas batas misalnya, dapat diintegrasikan dalam Unit Pelayanan Pendukung (UPP- PLB) yang dioperasikan dalam lingkup kendali badan pengelola perbatasan daerah atau satuan kerja yang menjalankan fungsi pengelolaan perbatasan di daerah. Penguatan PLB, dilakukan dengan mendisain-ulang dan pengembangan sistem pelayanan terpadu yang didukung dengan peningkatan manajemen interaksi lintas batas dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia pendukung PLB.
Gambaran PLB sebagaimana dideskripsikan tersebut merupakan gambaran ideal dari PLB,yang terdiri dari dua jenis PLB, PLB Internasional dan PLB Tradisional. PLB Internasional adalah tempat pemeriksaan lintas batas bagi pemegang Paspor dan pemegang identitas Pas Lintas Batas. PLB Tradisional adalah tempat pemeriksaan lintas batas bagi pemegang identitas Pas Lintas Batas.
Berdasarkan 4 (empat) kriteria sebagaimana diuraikan tersebut, maka diperoleh sejumlah Lokasi Prioritas (Lokpri) di Wilayah-wilayah Konsentrasi pengembangan (WKP, dimana inputs pembangunan akan digiring dan diarahkan "masuk" secara mengerucut dan saling mengisi-melengkapi dalam keterpaduan yang dikoordinasikan BNPP. Sementara itu, untuk pengelolaan batas wilayah negara, pengelolaan akan difokuskan pada segmen-segmen garis batas yang belum terpecahkan (problem focus) dan pembangunan di garis batas diarahkan pada area focus yang ditepatkan dengan lokasi-lokasi prioritas pembangunan kawasan perbatasan, yang tentunya di area yang tidak lagi terdapat sengketa batas.

C.  VISI, MISI, SASARAN, DAN STRATEGI DASAR
Pengelolaan perbatasan dalam jangka panjang, yang mencakup upaya bagaimana mengelola batas wilayah antar negara dan mengelola kawasan perbatasan, terkait erat dengan visi dan misi pembangunan nasional, terutama untuk menjamin keutuhan dan kedaulatan wilayah, pertahanan keamanan nasional, serta meningkatkan kesejahteraan rakyat di wilayah perbatasan.
Sesuai dengan arah pembangunan pada Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJN) Tahun 2004-2025, kawasan perbatasan akan dikembangkan dengan mengubah arah kebijakan pembangunan yang selama ini cenderung berorientasi inward looking menjadi outward looking sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pintu gerbang aktivitas ekonomi dan perdagangan dengan negara tetangga. Pendekatan pembangunan yang dilakukan, selain menggunakan pendekatan yang bersifat keamanan, juga diperlukan pendekatan kesejahteraan. Perhatian khusus diarahkan bagi pengembangan pulau-pulau kecil di perbatasan yang selama ini luput dari perhatian.
Berdasarkan arah pengembangan jangka panjang tersebut, dirumuskan visi, misi, sasaran, dan strategi pengelolaan batas wilayah dan kawasan perbatasan perbatasan tahun 2011-2025 sebagai pendorong, pedoman, dan sekaligus penunjuk arah bagi pengelolaan perbatasan jangka panjang, sebagai berikut:

1.Visi dan Misi
Visi Pengelolaan Batas Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan:
Terwujudnya perbatasan negara sebagai wilayah yang aman, tertib, dan maju.

Misi Pengelolaan Batas Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan:
a.Mewujudkan perbatasan negara sebagai wilayah yang aman, melalui peningkatan kondisi pertahanan dan keamanan yang kondusif bagi berbagai kegiatan ekonomi, sosial dan budaya serta penguatan sistem pertahanan perbatasan darat dan laut
b.Mewujudkan perbatasan negara sebagai wilayah yang tertib, melalui peningkatan kerjasama internasional, penegakan hukum, kesadaran politik serta penegasan dan penetapan tata batas Negara
c.Mewujudkan perbatasan negara sebagai wilayah yang maju, melalui peningkatan kegiatan ekonomi, pembangunan sarana dan prasarana, peningkatan kualitas sumberdaya manusia, dan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.

2.Sasaran
Sasaran jangka panjang pengelolaan batas wilayah negara dan kawasan perbatasan (2011-2025), secara umum dan kualitatif didesain dapat mencapai 5 (lima) sasaran sebagai berikut:
a.Adanya kemajuan yang significant terkait penetapan dan penegasan batas antar Negara dan batas-batas perairan yurisdiksi.
b.Terjaga dan terpeliharanya batas-batas wilayah negara dengan baik demi menjamin tegaknya kedaulatan Negara.
c.Menurunnya pelanggaran hukum dan terpeliharanya lingkungan hidup di kawasan perbatasan;
d.Meningkatnya kesejahteraan masyarakat di seluruh lokasi prioritas kawasan perbatasan
e.Berfungsinya PKSN sebagai pusat pelayanan dan pertumbuhan di wilayah-wilayah konsentrasi pengembangan perbatasan.

3.Strategi Dasar
Untuk mewujudkan visi dan misi serta sasaran jangka panjang pengelolaan perbatasan sebagaimana yang dirumuskan tersebut,dilakukan dengan tujuh strategi dasar pengelolaan perbatasan, yang selanjutnya disebut dengan "Strategi 7 Re", yaitu:
a.Reorientasi arah kebijakan pengelolaan perbatasan
b.Reposisi peran strategis kawasan perbatasan
c.Rekonsolidasi daya dukung pengelolaan perbatasan
d.Reformulasi basis pemikiran dan pengaturan pengelolaan perbatasan
e.Restrukturisasi kewenangan pengelolaan perbatasan
f.Revitalisasi kemitraan dan kerjasama perbatasan
g.Reformasi tata laksana pengelolaan perbatasan

Selanjutnya untuk memberikan pemahaman yang sama dan kejelasan atas masing-masing strategi "Re dalam 7 Re" tersebut, selanjutnya dapat diuraikan sebagai berikut:

a.Reorientasi Arah Kebijakan Pengelolaan Perbatasan
Strategi reorientasi, pada prinsipnya mengubah arah kebijakan dari kecenderungan orientasi inward looking, ke orientasi outward looking sebagai pintu gerbang aktivitas ekonomi dan perdagangan dengan negara tetangga. Strategi reorientasi ini memiliki 3 (tiga) elemen strategi, yaitu:
1)Pengembangan Pendekatan Komprehensif
Mengembangkan pendekatan kesejahteraan (prosperity approach), yang serasi dengan pendekatan keamanan (security approach) dan pendekatan lingkungan (environment approach) dalam pembangunan kawasan perbatasan.
2)Pengembangan Pusat Kegiatan Strategis Nasional
Mengembangkan Pusat-pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN) di kawasan perbatasan, sebagai entry point penggerak pertumbuhan bagi wilayah sekitar perbatasan negara, yang mencakup: pembangunan sarana dan prasarana, pengembangan pusat ekonomi perbatasan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat yang didukung sengan penguatan kapasitas dan pemberdayaan masyarakat setempat serta keterpaduan pengelolaan perbatasan.
3)Pengembangan Dukungan Kebijakan
Mengembangkan kebijakan lintas sektoral yang lebih terfokus dan kondusif bagi dukungan terhadap PKSN, sesuai dinamika perkembangan dan perbedaan kebutuhan kawasan perbatasan darat dan perbatasan laut, yang menjadi modal awal bagi kawasan perbatasan sebagai pintu gerbang aktivitas ekonomi dan perdagangan dengan negara tetangga.

b.Reposisi Peran Strategis Kawasan Perbatasan
Strategi reposisi, pada prinsipnya mengubah posisi kawasan perbatasan sebagai "beranda belakang negara" menjadi "beranda depan negara" yang memiliki peran strategis pemacu perkembangan ekonomi regional maupun nasional. Strategi reposisi mencakup 4 (empat) elemen strategi, sebagai berikut:

1)Penyediaan Sarana dan Prasarana
Menyediakan sarana dan prasarana (infra struktur) guna mendukung kebutuhan perbatasan sebagai beranda depan negara untuk kegiatan ekonomi dan investasi seperti ketersediaan sistem jaringan listrik, air, telekomunikasi, transportasi, pelabuhan, pasar, dll. Pembangunan sarana dan prasarana sosial yang berkualitas, seperti sekolah dan pusat kesehatan mutlak diperlukan, terutama di wilayah perbatasan dengan negara tetangga yang ekonominya relatif lebih baik dari Indonesia.Pembangunan sarana dan prasarana pemerintahan di perbatasan yang memadai, dibutuhkan untuk menjamin efektivitas pelayanan administrasi pemerintahan, termasuk pembangunan unit fasilitas pendukung (support facilities unit) untuk mendukung pos lintas batas (PLB) dan fasilitas CIQS-nya (Customs, Imigration, Quarantine, dan Security).

2)Pengembangan Simpul-simpul Pertumbuhan
Mobilisasi dukungan berbagai pihak (public dan private sectors) guna lebih mempercepat pembangunan simpul-simpul pusat pertumbuhan ekonomi di kawasan perbatasan, dengan mendorong pengembangan permukiman baru melalui transmigrasi sebagai rintisan pusat-pusat pertumbuhan wilayah di kawasan perbatasan yang terintegrasi dengan pengembangan PKSN.

3)Penguatan Kapasitas Pemerintah Daerah dan Masyarakat
Memperkuat kapasitas kelembagaan pengelola perbatasan khususnya dan kapasitas pemerintahan daerah otonom pada umumnya, berikut jajaran dan jaringan ke bawahnya hingga kecamatan dan desa, yang siap menciptakan pelayanan publik yang prima dan iklim yang kondusif sebagai "front line" pintu masuk hubungan ekonomi dan perdagangan dengan Negara tetangga; Untuk mendukung, penting secara simultan dilakukan langkah membangun persepsi perbatasan sebagai beranda depan Negara dan mengembangkan wawasan kebangsaan yang lebih menjawab kebutuhan warga bangsa di perbatasan serta. Seiring dengan ini, penataan ulang daerah otonom melalui pembentukan daerah otonom baru di kawasan perbatasan, bilamana harus dilakukan, sangat penting untuk mempertimbangkan dan mengedepankan kepentingan strategis nasional (geo-strategis, geo-politik, dan geo-ekonomi),dalam kerangka mendukung posisi baru kawasan perbatasan sebagai beranda depan negara.

4)Peningkatan Pengamanan dan Penegakan Hukum
Meningkatkan pengamanan dan penegakan hukum yang menjamin iklim yang kondusif bagi investasi di perbatasan dalam posisi sebagai halaman depan Negara. Kepastian hukum, jaminan investasi, kemudahan birokrasi pengurusan perijinan (tak berbelit dan bebas pungutan liar), sertarasa aman berinvestasi menjadi faktor penting. Di samping itu, berbagai kegiatan pencegahan dan penindakan praktek illegal yang terjadi diperbatasan, menjadi bagian tak terpisahkan dalam strategi ini. Keberadaan pos lintas batas (PLB) khususnya pada titik-titik yang sudah disepakati, yang ditunjang dengan penyediaan sarana dan prasarana CIQS (Customs, Imigration, Quarantine, dan Security) yang memadai, penting untuk dioptimalkan.

c.Rekonsolidasi Daya Dukung Pengelolaan Perbatasan
Strategi rekonsolidasi, pada prinsipnya menata ulang daya dukung, kekuatan, dan peluang yang ada untuk dikonsolidasikan ulang agar secara efektif dan efisien mampu dioptimalkan untuk kepentingan perbatasan, baik dalam rangka percepatan penyelesaian batas wilayah negara maupun pembangunan perbatasan. Strategi rekonsolidasi ini mengandung 4 (empat) elemen strategi sebagai berikut:

1)Pengembangan Sinergitas Pengelolaan Perbatasan
Menterpadukan berbagai upaya seluruh sektor terkait di tingkat pusat dan daerah melalui kegiatan koordinasi, integrasi, sinkronisasi, dan integrasi program-program untuk perbatasan yang hasilnya dituangkan dalam dokumen pengelolaan yang menjadi pegangan dan komitmen bersama. Dokumen pengelolaan perbatasan sebagaimana dimaksud terdiri dari 3 (tiga) buku, yaitu: Grand Design jangka panjang, Rencana Induk jangka menengah, dan Rencana aksi jangka pendek (tahunan) pengelolaan batas wilayah negara dan kawasan perbatasan, sebagai acuan bersama untuk dipedomani berbagai pihak terkait.

2)Optimalisasi pemanfaatan SDA dan SDM
Mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya manusia dan sumberdaya alam setempat secara serasi. Mengingat sebagian besar wilayah perbatasan merupakan hutan konservasi dan suaka alam yang perlu dilindungi, maka pembangunan wilayah perbatasan harus disesuaikan dengan daya dukung alam dan dilakukan secara berkelanjutan.

3)Pengembangan Sistem Pelayanan Khusus
Mengembangkan sumber daya manusia bagi peningkatan pelayanan kesehatan dan pendidikan dengan sistem yang didesain khusus dan memperhatikan kearifan lokal bagi kepentingan masyarakat di wilayah perbatasan . Pengembangan kekhususan, dilakukan juga pada sistem permukiman perbatasan, sistem transportasi perbatasan, dan sistem penerangan perbatasan, dan lainnya yang sesuai karakteristiknya memerlukan kekhususan. Upaya ini diarahkan untuk meningkatkan kapasitas seluruh unsur masyarakat sehingga bisa meningkatkan kemampuan kompetisi dan pemanfaatan peluang usaha, khususnya dengan masyarakat negara tetangga.

4)Pengembangan Wawasan Kebangsaan
Menggemakan kembali upaya peningkatan rasa kebangsaan dan bela negara pada masyarakat melalui kemudahan-kemudahan informasi dan komunikasi yang diperoleh sehari-hari, ke depan, berbagai program penyuluhan dan sosialisasi wawasan kebangsaan dalam kerangka NKRI akan lebih ditingkatkan. Jangkauan media komunikasi baik radio, TV maupun media cetak lainnya, diupayakan aksesnya sampai perbatasan.

d.Reformulasi Basis Pemikiran dan Pengaturan Pengelolaan Perbatasan
Strategi reformulasi, pada prinsipnya melakukan review dan merumuskan kembali basis pengelolaan perbatasan, yaitu dasar pijakan pemikiran dan pijakan normatifnya, untuk menjawab dinamika perkembangan kebutuhan perbatasan sesuai dengan paradigma baru pengelolaan perbatasan antar Negara dan kawasan perbatasan. Strategi reformulasi, mencakup 3 (tiga) elemen strategi sebagai berikut:

1)Pengembangan Basis Manajemen
Mengembangkan perubahan basis pendekatan dalam pembangunan kawasan perbatasan, dari pembangunan sektoral kearah penerapan pola pendekatan pembangunan berbasis wilayah,dimana lokasi prioritas di Wilayah Konsentrasi Pengembangan (WKP) merupakan instrument dimana kegiatan koordinasi, integrasi, sinkronisasi, dan simplifikasi berbagai inputs pembangunan sektoral dapat dilakukan.

2)Pengembangan Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria
Mengembangkan Norma, Standard, Prosedur, dan Kriteria (NSPK) penetapan kebijakan program, kebutuhan anggaran program, koordinasi pelaksanaan, serta evaluasi dan pengawasan yang lebih menjamin terwujudnya koordinasi lintas sektor dalam pengelolaan perbatasan mau pun guna mendukung iklim yang kondusif bagi pengembangan perbatasan, termasuk untuk merespon kebutuhan pengembangan model pengaturan pengusahaan sumber daya alam dengan pola dan mekanisme khusus;

3)Pengembangan Mekanisme dan Komitmen
Memperkuat upaya membangun komitmen lintas sektor agar secara terpadu dapat mengarahkan program-program sektornya ke lokasi-likasi prioritas di wilayah-wilayah konsentrasi pengembangan di perbatasan, didukung dengan upaya sistem koordinasi guna menggiring semua inputs yang dibutuhkan tersebut ke sasaran wilayah. Mekanisme ini, di samping memerlukan pengaturan dari aspek normatifnya, juga dibutuhkan pemahaman dan peenguasaan manajemen berbasis wilayah yang dapat dikembangkan melalui perbagai pelatihan atau instrument lain yang relevan.

e.Restrukturisasi Kewenangan Pengelolaan Perbatasan
Strategi restrukturisasi, pada prinsipnya memperjelas kewenangan dalam pengelolaan perbatasan atau kegiatan-kegiatan terkait perbatasan, baik dalam pengelolaan batas wilayah Negara maupun pembangunan kawasan perbatasan. Strategi Restrukturisasi ini mencakup 2 (dua) elemen strategi sebagai berikut:

1)Penataan Ulang Struktur Penanganan Batas
Menata ulang kembali struktur dan pola penanganan penyelesaian batas wilayah Negara dan kerja sama regional kawasan perbatasan dari struktur dan pola ad hoc, ke arah struktur dan pola pengelolaan penanganan perbatasanyang lebih bersifat permanen dan terintegrasi, seiring dengan telah terbentuknya Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP). Restrukturisasi ini tidak merubah dan tetap menempatkan fungsi-fungsi utama Kementerian/Lembaga Pemerintah Non Kementerian sebagaimana telah diatur dalam peraturan perundang-undangan.
Sebagai penjelasan, fokus restrukturisasi lebih diarahkan pada Komite-komite perbatasan yang selama ini besifat ad hoc dan terpisah- pisah, ke depan akan lebih efektif untuk diintegrasikan penanganannya dalam koordinasi BNPP. Beberapa forum tersebut, antara lain : Forum kerjasama Indonesia dengan Negara tetangga: General Border Committee (GBC) RI dengan Malaysia, Joint Border Committee (JBC) RI dengan PNG, Joint Border Committee (JBC) RI dengan RD Timor Leste, Border Committee antara RI-Filipina. Komite-komite perbatasan selama ini diketuai instansi berbeda. GBC RI-Malaysia: Menteri Pertahanan; JBC RI-PNG dan RI-TL diketuai Mendagri; BC RI-Filipina diketuai Panglima Wirabuana.

2)Pembangian Kewenangan Pusat-Daerah
Menegaskan kewenangan pemerintah daerah (provinsi dan kabupaten/kota) dalam kerangka pembagian kewenangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam pengelolaan perbatasan, yang diatur dengan Pemeraturan Pemerintah.
Selanjutnya, pola pembagian kewenangan antara pusat dan daerah, telah diatur dalam PP No 38 Tahun 2008, namun belum sedemikian jelas pembagiannya dalam konteks penanganan perbatasan. Melalui pola pembagian yang jelas ini, prinsip money follow function diberlakukan. Hal-hal yang menjadi urusan pemerintah pusat dibiayai melalui APBN dan yang menjadi urusan pemerintah daerah dibiayai melalui APBD.
Sesuai dengan amanat Perpres 12 Tahun 2010, di provinsi dan kabupaten/kota yang berada di wilayah perbatasan antar Negara, akan dibentuk satuan kerja pengelola perbatasan dengan kewenangan menangani urusan pemerintah yang telah ditetapkan menjadi kewenangan daerah. Untuk menegaskan mana urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pusat atau daerah dalam pengelolaan perbatasan, diperlukan pengaturan pembagian dalam peraturan pemerintah. Dengan demikian, dari segi sistem penanggaran dan akuntabilitasnya, badan pengelola perbatasan di daerah ini dibiayai dari APBD. Sedangkan dalah hal badan di daerah ini mengelola urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pusat, pembiayaannya berasal dari APBN melalui mekanisme dekonsentrasi atau pembantuan (medebewind).

f.Revitalisasi Kemitraan dan Kerjasama Perbatasan
Strategi revitalisasi, pada prinsipnya memperkuat jejaring kemitraan dan kerjasama percepatan penyelesaian permasalahan batas wilayah negara dan pembangunan kawasan perbatasan dengan memperhatikan aspek lingkungan dan kaidah-kaidah hubungan antara Negara. Strategi revitalisasi ini, mencakup beberapa elemen strategi sebagai berikut:

1)Peningkatan Kerjasama Ekonomi Regional
Meningkatkan kerjasama ekonomi dengan negara tetangga melalui skema kerjasama yang sudah ada selama ini, seperti BIMP-EAGA, IMS-GT, IMT-GT, AIDA, dan Sosek Malindo, dengan tetap membuka diri untuk penyesuaian.
Sebagai penjelasan, pada beberapa aspek di wilayah perbatasan tidak akan berjalan optimal tanpa adanya kerja sama dengan negara tetangga. Karena itu upaya-upaya kerja sama harus dilakukan dan dipermudah prosedurnya. Di samping itu juga peran pemerintahan lokal harus diperluas dalam kerjasama dengan pemerintah lokal pada negara tetangga. Beberapa negara tetangga merupakan mitra kerja dalam perekonomian yang sangat potensial. Jika wilayah perbatasan diharapkan menjadi serambi depan dari wilayah Indonesia, maka hubungan dengan negara tetangga ini perlu ditingkatkan. Peningkatan ekspor ke negara tetangga secara geografis relatif mudah dilakukan, dan ini dapat memberikan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi wilayah perbatasan. Peningkatan kerjasama ekonomi dengan negara tetangga dapat dilakukan melalui skema kerjasama yang sudah ada selama ini tersebut.

2)Peningkatan Ketahanan Regional
Meningkatkan ketahanan regional, mengamankan wilayah masing- masing, dan memberikan rasa tenang-aman kepada masyarakat di wilayah perbatasan, khususnya bagi para pelaku investasi. Kerjasama dengan negara tetangga, tidak hanya pada sektor ekonomi, namun juga dilakukan dalam aspek pertahanan dan keamanan.

3)Pengembangan Fasilitas Insentif
Mendorong sektor swasta untuk melakukan investasi di kawasan perbatasan dengan dukungan fasilitas dari pemerintah baik fasilitas fiskal (dalam bentuk insentif) maupun non-fiskal (infrastruktur).
Beberapa wilayah perbatasan mempunyai peluang untuk pengembangan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi melalui pengembangan sentra-sentra industri dan perdagangan. Kerjasama dan kemitraan dengan sektor swasta dan stakeholders perlu terus dibangun untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi kawasan dan kesejahteraan masyarakat. Pelibatan sektor swasta, penting untuk dilipat-gandakan untuk melakukan investasi di kawasan perbatasan, dengan dukungan fasilitas dari pemerintah baik fasilitas fiskal (dalam bentuk insentif) maupun non-fiskal (infrastruktur).
Pola pemberian insentif terhadap investasi di perbatasan, banyak permasalahan yang dapat diselesaikan, diantaranya masalah Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Jika aturan investasi di perbatasan disesuaikan dengan standar internasional serta didukung oleh kebijakan investasi yang baik dan konsisten serta aturan khusus ketenaga-kerjaan yang baik, akan banyak investasi yang mengalir ke wilayah perbatasan, karena lokasi yang saat ini dinilai strategis baik dari aspek Hankam maupun akses ke pasar internasional.

4)Mengembangkan Kemitraan Pengelolaan Perbatasan
Membangun dan memperluas kemitraan dengan semua stakeholders dan jaringan strategisnya , yang memiliki misi yang sejalan untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi kawasan perbatasan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara nyata. Pola kemitraan tidak dibatasi pada sektor publik dan sektor privat, namun sektor-sektor masyarakat termasuk lembaga-lembaga swadaya masyarakat dan perguruan tinggi yang berkepentingan sama untuk membangun perbatasan, akan terus digalang dan dikonsolidasikan.

g.Reformasi Tata Laksana Pengelolaan Perbatasan.
Strategi reformasi, pada prinsipnya menata ulang dan menerapkan tata-laksana pengelolaan perbatasan secara konsisten sesuai prinsip-prinsip akuntabilitas, transparansi, dan partisipasi masyarakat dalam upaya mewujudkan tata pemerintahan yang baik (good governance), didukung dengan kemajuan teknologi informasi terkini, yang terus berkembang dalam skala global dan nasional. Strategi reformasi tata laksana ini mencakup 3 (tiga) elemen strategi sebagai berikut:

1)Pengembangan Prinsip-prinsip Good Governance
Pengembangan prinsip-prinsip good governance, hanya akan diadopsi 3(tiga) dari prinsip-prinsip yang dianggap signifikan, yaitu: Mengembangkan akuntabilitas pengelolaan perbatasan berbasis kinerja, mengembangkan transparansi pengelolaan perbatasan di semua lini, dan mengembangkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan perbatasan, baik dalam pengelolaan batas wilayah Negara dan kawasan perbatasan, dalam segala bentuk dan kombinasinya.

2)Penataan ulang Manajemen Pengelolaan perbatasan
Penataan ulang manajemen difokuskan pada 4 aspek penting yang penting dari proses pengelolaan perbatasan, agar memungkinkan untuk dapat menciptakan keterpaduan dan melaksanaankan berbagai program guna mewujudkan Visi dan Misi pengelolaan perbatasan, yaitu: Aspek penetapan kebijakan program, penetapan kebutuhan anggaran, koordinasi pelaksanaan, serta evaluasi dan pengawasannya.
Upaya ini, memerlukan dukungan kegiatan yang antara lain pengembangan model manajemen interaksi perbatasan, pengembangan sistem informasi manajemen lintas batas, pengembangan model pengembangan kapasitas kelembagaan, pengembangan sistem koordinasi, sistem kerjasama, sistem operating procedure, sistem operasi berbasis teknologi informasi, serta pengembangan berbagai studi dan kajian yang relevan terkait dengan efektivitas dan efisiensi pengelolaan batas wilayah negara dan kawasan perbatasan.

D.  DESAIN MANAJEMEN

Desain pengelolaan perbatasan, dimaksudkan untuk memberikan gambaran dalam sebuah framework bagaimana manajemen penanganan batas wilayah Negara dan pembangunan kawasan perbatasan yang akan dilakukan dalam konteks empat tugas yang diamanahkan kepada BNPP sesuai dengan UU No 43 Tahun 2008. Melalui kerangka manajemen penanganan perbatasan ini, bagaimana menggerakkan orang, fasilitas dan potensi kawasan kearah pencapaian tujuan melalui 4 (empat) pilar utama yang in line dengan tugas pokok BNPP. Dalam frame ini, empat pilar tersebut ditempatkan sebagai komponen desain manajemen. Dalam desain yang dikembangkan ini, ada 4 (empat) komponen desain yang merupakan unsur-unsur dasar yang diperlukan untuk menjelaskan bagaimana dalam jangka panjang mewujudkan visi dan misi pengelolaan perbatasan,yaitu: Kebijakan Program (komponen desain 1); Rencana Kebutuhan Anggaran (komponen desain 2); Koordinasi Pelaksanaan (komponen desain 3); serta Evaluasi dan Pengawasan (komponen desain 4).
Pola penggiringan inputs masuk ke wilayah-wilayah konsentrasi pengembangan dan lokasi-lokasi prioritas, dilakukan dengan menggunakan pendekatan berbasis wilayahya itu pendekatan manajemen yang berorientasi pada problem dan area sebagai fokusnya (problem and area focus). Gambar 8 berikut ini menjelaskan desain manajemen penanganan perbatasan sebagaimana telah diuraikan.

Gambar 8

Untuk pemahaman atas beberapa istilah dalam gambar desain manajemen tersebut, dapat dijelaskan sebagai berikut:

1.Batas wilayah Negara
Mencakup batas wilayah darat dan laut, terkait dengan isu penetapan, penegasan, dan permasalahan lintas batas negara.

2.Kawasan Perbatasan
Mencakup kawasan perbatasan darat dan laut, terkait dengan isu pembangunan di garis batas dan pembangunan di kawasan perbatasan.

3.Problem Focus
Digambarkan sebagai aspek dan agenda prioritas penanganan perbatasan yang menjadi focus utama lintas sektoral di masing-masing lokasi prioritas pada wilayah konsentrasi pengembangan.

4.Area Fokus
Digambarkan sebagai lokasi prioritas (Lokpri) di masing-masing Wilayah Konsentrasi Pengembangan (WKP) pada Cakupan Wilayah Administrasi (CWA) yang ditetapkan berdasarkan kriteria tertentu dimana berbagai input digiring, diarahkan, dan difokuskan masuk menggarap perbatasan secara terpadu . Untuk memudahkan gambarannya, Lokpri adalah Kecamatan perbatasan, WKP adalah kabupaten/kota di wilayah perbatasan, dan CWA adalah provinsi-provinsi yang berada di wilayah perbatasan. Lokpri ditetapkan berdasarkan kriteria-kriteria tertentu sebagaimana telah dijelaskan terdahulu.

5.Komponen Desain 1: Kebijakan Program
a.Pola Penetapan Kebijakan Program
Konsolidasi dan koordinasi penetapan kebijakan program dilakukan melalui pola penyususunan 3 (tiga) dokumen pengelolaan perbatasan, yaitu :
Pertama, Grand Design Pengelolaan Batas Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan Tahun 2011-20025. Dokumen pengelolaan yang pertama ini, disusun untuk jangka waktu 2011-2025 dengan maksud guna mempertajam dan menjembatani pencapaian Visi dan Misi sebagaimana diamanahkan dalam RPJP dan RPJMN secara lebih terkonsolidasi,terkoordinasi, dan terfokus pada bagaimana batas wilayah negara dan kawasan perbatasan akan ditangani.
Kedua, Rencana Induk Pengelolaan Batas Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan. Dokumen pengelolaan yang kedua ini, disusun setiap lima tahun sekali mengikuti periode dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah RRPJM), yang pelaksanaannya untuk periode I disesuaikan dengan waktu mulai efektif beroperasinya BNPP, yaitu : Periode I Tahun 2011-2014, Periode II Tahun 2015-2019, dan Periode III Tahun 2020-2025. Dokumen ini disusun untuk menyediakan acuan perencanaan jangka menengah bagi keterpaduan dan efektivitas penyusunan program dan kegiatan Kementerian/Lembaga Non Kementerian, Pemerintah Daerah, dan lembaga lain terkait guna mendukung pengelolaan batas wilayah Negara dan kawasan perbatasan secara terkonsolidasi, terkoordinasi, dan terfokus.
Ketiga, Rencana Aksi Pengelolaan Batas Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan. Dokumen pengelolaan yang ketiga ini, disusun setiap tahun sekali sebagai penjabaran dari Rencana Induk Pengelolaan Batas Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan pada periode berjalan, yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan tahunan pembiayaan pembangunan nasional melalui mekanisme Musyawarah Pembangunan (Musrenbang) berjenjang sebagaimana dalam sistem perencanaan nasional.

b.Fokus Permasalahan (Problem Focus)
Pengelolaan perbatasan dalam jangka panjang, difokuskan pada 5 (lima) aspek dan agenda prioritas, yang masing-masing dijabarkan dalam beberapa program dan kegiatan(K/L dan Daerah) yang relevan mendukung agenda prioritas tersebut. Aspek dan agenda prioritas untuk pengelolaan batas wilayah Negara dibedakan dengan aspek dan agenda prioritas untuk pengelolaan kawasan perbatasan. Adapun lima aspek dan agenda prioritas sebagaimana dimaksud, ditetapkan pada Tabel 1 sebagai berikut:

Tabel 1
AGENDA PRIORITAS PENGELOLAAN BATAS NEGARA DAN
KAWASAN PERBATASAN TAHUN 2011-2025


c.Fokus Lokasi (Area Focus)
Sesuai dengan PP no. 26 tahun 2008 tentang RTRWN, Kawasan perbatasan secara keseluruhan mencakup 10 cluster/kawasan, terdiri dari 3 kawasan perbatasan darat, dan 7 kawasan perbatasan laut. Cakupan Wilayah Administrasi Provinsi (CWAP) yang termasuk ke dalam kawasan perbatasan secara keseluruhan meliputi 21 provinsi (Lampiran 3).
Wilayah Konsentrasi Pengembangan (WKP) merupakan wilayah kabupaten/kota yang termasuk ke dalam CWAP. Secara keseluruhan terdapat 64 WKP, yang terdiri dari 14 WKP di Kawasan Perbatasan darat, 48 WKP di Kawasan Perbatasan Laut, dan 2 WKP merupakan kawasan perbatasan darat dan juga sebagai kawasan perbatasan laut.
Berdasarkan prioritas pengembangannya, WKP diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok: Wilayah Konsentrasi Pengembangan Prioritas I (WKP I), terdiri dari 19 WKP; Wilayah Konsentrasi Pengembangan Prioritas II (WKP II), terdiri dari 19 WKP; Wilayah Konsentrasi Pengembangan Prioritas III (WKP III), terdiri dari 26 WKP.
Penajaman atas sasaran wilayah konsentrasi, dilakukan melalui penetapan lokasi prioritas di setiap WKP. Lokasi Prioritas (Lokspri) merupakan kecamatan-kecamatan di kawasan perbatasan darat dan laut di dalam WKP yang dinilai memenuhi salah satu atau lebih dari kriteria sebagai berikut:
1)Kecamatan yang berbatasan langsung dengan Negara tetangga di wilayah darat;
2)kecamatan yang difungsikan sebagai Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN);
3)Kecamatan lokasi Pulau-Pulau Kecil Terluar; dan
4)Kecamatan yang termasuk ke dalam exit-entry point (Pos Lintas Batas) berdasarkan Border Crossing Agreement RI dengan Negara tetangga.

Berdasarkan pertimbangan dan pola penetapan lokasi prioritas dengan empat kriteria tersebut, serta dengan memperhatikan pertimbangan khusus dengan expert judgmentuntuk beberapa kasus, maka secara keseluruhan diperoleh sebanyak 187 Lokpri di 64 WKP (lihat selengkapnya pada Lampiran IV).
Tahapan dan pola penanganan Lokpri di seluruh WKP hingga 2025, digambarkan dalam Tabel 1 berikut ini.

Tabel 2
Tahapan Penanganan Lokasi Prioritas (Lokpri)
Tahun 2011-2025


Ket: LG-1 (Lokpri Garapan Rinduk Periode Pertama), LG-2 (Lokpri Garapan Rinduk Periode Kedua), WKP (Wilayah Konsentrasi Pengembangan)

Untuk setiap status dan kondisi permasalahan Lokpri tetap membutuhkan penanganan, namun dengan skala intervensi dengan tingkatan yang dibedakan sesuai dengan statusnya, sebagai berikut:
1)Lokpri dengan status LG-1 pada periode berjalan, ditangani dengan skala intervensi penuh sesuai kebutuhan dan kapasitas kemampuan;
2)Lokpri dengan status LG-2, adalah lokasi prioritas yang telah ditangani dalam satu periode Rinduk (Periode I), dan pada periode berikutnya (periode II) akan ditangani dengan skala intervensi terbatas sesuai kebutuhan yang sifatnya melengkapi kekurangan penanganan pada periode sebelumnya;
3)Lokpri dengan status LG-3 adalah lokasi-lokasi prioritas yang telah ditangani dalam 2 (dua) kali periode Rinduk, dan pada periode berikutnya akan ditangani melalui pembinaan regular dengan skala intervensi dan akselerasi yang terbatas sesuai perkembangan kebutuhan di lokasi prioritas.

Pengaturan lebih lanjut mengenai skala intervensi akan dipertajam setiap lima tahun dalam penyusunan Rencana Induk dan setiap tahunnya dalam penyusunan Rencana Aksi.

d.Pola Pengembangan Kelembagaan
Dalam perspektif kelembagaan, 5 (lima) tahun pertama pengembangan pengelolaan batas wilayah Negara dan kawasan perbatasan melalui konsolidasi dan peranBNPP, didesain dalam 5 tahapan sebagai berikut (Gambar 9):
1)Pada tahap inisiasi (tahun 2010) diawali dengan pembentukan lembaga, pengisian pejabat dan karyawannya, penyediaan anggaran, penyediaan kantor dan perlengkapannya, tata usaha hubungan antar instansi, penyiapan dokumen pengelolaan, penyiapan standard operating procedure, dan koordinasi awal lintas sektoral dan jaring kemitraan.
2)Pada tahap instalasi (2011), mulai dibangun hubungan kerjasama dengan berbagai sektor terkait, penyiapan kelembagaan di daerah,koordinasi pelaasanaan program berdasarkan Rencana Induk dan Rencana Aksi, serta pelaksanaan berbagai program lintas sektor di perbatasan sesuai dengan Rencana aksi 2011.
3)Pada tahap konsolidasi (2012), mengkonsolidasikan seluruh kekuatan dan peluang yang ada, langkah nyata melaksanakan semua tahapan "menggiring" seluruh inputs pembangunan ke lokasi prioritas, koreksi kekurangan sebelumnya dengan evaluasi, melaksanakan rencana aksi 2012 dan menyiapkan rencana aksi 2013.

Gambar 9

4)Pada tahap stabilisasi (2013), diharapkan kondisi sudah stabil, dimana pengelolaan perbatasan sudah sesuai dengan system koordinasi dan program-program yang dilaksanakan telah terfokus pada lokasi-lokasi prioritas di wilayah konsentrasi pengembangan secara terpadu, dan perbagai rintisan perubahan sudah mulai nampak kemajuan;
5)Selanjutnya pada tahap akselerasi (2014), akan dilakukan langkah-langkah percepatan atas sektor-sektor unggulan dan yang paling dibutuhkan untuk mencapai kinerja maksimum pengelolaan batas wilayah Negara dan kawasan perbatasan.

e.Desain Penetapan Rencana Kebutuhan Anggaran
1)Pola Penyusunan
Rencana kebutuhan anggaran pengelolaan perbatasan disusun berdasarkan total kebutuhan seluruh program pengelolaan batas wilayah Negara dan kawasan perbatasan, yang dirumuskan dalam Rencana Aksi dan disepakati bersama sesuai mekanisme perencanaan dan pembahasan anggaran tahunan yang berlaku.
2)Pola Perumusan dan Koordinasi
Rencana kebutuhan anggaran pengelolaan batas wilayah Negara dan kawasan perbatasan, yang menjadi kewenangan sektoral (K/L) dirumuskan oleh masing-masing K/L berkoordinasi dengan BNPP.
3)Pola Pembiayaan
Pembiayaan kegiatan program pengelolaan perbatasan antara APBN atau APBD, ditetapkan dengan mengikuti pola pembagian kewenangan antara Pusat dan Daerah yang diatur dengan Peraturan Pemerintah.
4)Pola Pendekatan Lintas Sektoral
Rencana kebutuhan anggaran pengelolaan batas wilayah negara dan kawasan perbatasan yang bersifat lintas sektor dan pengisi celah-celah yang tidak ditangani sektoral namun sangat dibutuhkan, akan dirumuskan, difasilitasi, dan dikoordinasikan lebih lanjut oleh BNPP, sebagai badan pengelola perbatasan.

f.Desain Koordinasi Pelaksanaan
1)Pola Koordinasi Pelaksanaan
Koordinasi pelaksanaan pengelolaan perbatasan dilakukan berdasarkan Rencana Induk dan Rencana Aksi pada tahun berjalan dan sesuai dengan pedoman koordinasi yang ditetapkan BNPP.
2)Pola Pelaksanaan
Program-program yang telah disepakati dan dituangkan dalam Rencana Induk dan Rencana Aksi, dilaksanakan oleh masing-masing Satuan Kerja K/L penanggung jawab program. Koordinasi pelaksanaan program dalam rangka pengelolaan perbatasan di Daerah, dilakukan oleh badan pengelola perbatasan di Daerah (Prov dan Kab/Kota) atau satuan kerja yang diberikan tanggung jawab menjalankan fungsi mengelola perbatasan negara tetangga.Kementerian/LPNK dan Pemerintah Daerah yang berkontribusi dan mempunyai program-program terkait dengan perbatasan, untuk Kementerian /LPNK anggota BNPP bersifat wajib dikoordinasikan dalam BNPP, yaitu: Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pertahanan, Kementerian Hukumm dan Hak Asasi Manusia, Kementerian Keuangan, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Perhubungan, Kementerian Kehutanan,Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian PPN/Kepala Bappenas, TNI dan POLRI, Bakosurtanal, dan Provinsi terkait. Adapun K/LPNK lain yang bukan anggota namun terkait dengan perbatasan, pelaksanaannya dapat dikoordinasikan melalui BNPP sesuai dengan kebutuhan, sejauh program-program tersebut telah masuk dalam Rencana Aksi yang ditetapkan BNPP.
3)Pola Sinergitas dan Aspek Koordinasi
Pengelolaan perbatasan untuk mewujudkan sinergitas pengelolaan perbatasan dilaksanakan pada 4 aspek penting, yaitu : Aspek kegiatan program, anggaran, lokasi, dan jadwal waktu.

Gambar 10

g.Desain Evaluasi Dan Pengawasan
1)Pola Evaluasi
Evaluasi dilakukan secara terpadu, didukung dengan monitoring yang intensif,untuk mengetahui berbagai perkembangan kemajuan dan permasalahan pelaksanaan kegiatan program Kementerian/Lembaga Non Kementerian terkait sebagaimana yang tercantum dalam Rencana Induk dan Rencana Aksi, sesuai pedoman evaluasi yang ditetapkan BNPP. Evaluasi pengelolaan batas wilayah negara dan kawasan perbatasan dilakukan secara berkala, tahunan dan lima tahunan, berdasarkan rencana induk dan rencana aksi sesuai dengan pedoman evaluasi berkala yang ditetapkan BNPP. Di luar evaluasi berkala, dapat dilakukan evaluasi paruh waktu atau evaluasi dengan tujuan khusus sesuai dengan kebutuhan, yang dilaksanakan sesuai dengan pedoman evaluasi khusus yang ditetapkan BNPP.
2)Pola Pengawasan
Sistem pengawasan dirancang untuk secara khusus difokuskan pada pencermatan atas pelaksanaan Rencana Aksi dan Rencana Induk Pengelolaan Batas Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan. Komitmen K/L dalam melaksanakan rencana sebagaimana tertuang dalam Rencana Induk maupun Rencana Aksi Pengelolaan Batas Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan,menjadi titik perhatian dalam pengawasan pengelolaan perbatasan ini. Penyimpangan antara rencana dan pelaksanaan, akan dibahas dalam forum lintas sektoral secara bertingkat, berujung pada Rapat Pleno Anggota BNPP untuk dicarikan pemecahannya.
3)Pola Pelaporan
Pelaporan hasil evaluasi dan pengawasan, baik yang dilaksanakan secara berkala mau pun secara khusus, disampaikan kepada Presiden RI melalui Kepala BNPP minimal setiap tahun sekali atau sesuai dengan kebutuhan. Untuk mendukung Pengembangan monev dan pelaporan, dikembangkan Sistem Informasi Pengelolaan Perbatasan (SIM Perbatasan) untuk menjamin ketersediaaan data dasar yang lengkap dan akses system teknologi yang memungkinkan pengolahan data secara akurat, tepat, dan cepat sebagai basis pengambilan keputusan pengelolaan perbatasan.

E.  PENUTUP

Sebuah kata "perbatasan", memiliki berbagai makna, yang di dalamnya mengandung kompleksitas permasalahan di satu sisi dan potensi yang sedemikian besar di sisi lain. Kehadiran lembaga baru, Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP), untuk sebagaian besar dinilai sebagai "angin segar" bagi nasib perbatasan yang selama ini di Indonesia dianggap sebagai "beranda belakang" Negara. Pergeseran persepsi perbatasan, sedang terjadi dan akan diwujudkan melalui BNPP yang secara khusus memang dibentuk ini, merubah perbatasan sebagai beranda depan NKRI.
Disadari atau tidak, perubahan posisi kawasan perbatasan menjadi beranda depan NKRI, mempunyai konsekuensi dan berbagai implikasi yang "luar biasa". Konsekuensinya, dibutuhkan politicall will yang kuat dari pimpinan nasional yang di dukung berbagai pihak untuk melaksanakan secara konsisten seluruh gambaran sebagaimana telah dirancang dalam grand design hingga tahun 2025. Dua puluh enam pusat kegiatan strategis nasional akan tumbuh dan berkembang di sepuluh Kawasan Strategis Nasional (KSN), dimana pintu gerbang perbatasan antar Negara juga akan diramaikan dengan lalu-lalangnya jalur kegiatan ekonomi dan perdagangan dengan Negara tetangga yang menguntungkan Indonesia. Selanjutnya, berbagai infrastruktur dasar dan pendukungnya akan dibangun untuk melengkapi kebutuhan kawasan perbatasan sebagai beranda depan NKRI.
Gambaran pada tahun 2025 tersebut, membawa berbagai implikasi yang besar dan tentu investasi yang tidak sedikit untuk menciptakan sebuah halaman depan Negara. Beberapa implikasi yang jelas adalah:
1.Perubahan regulasi dalam segala bentuk hukum pengaturannya, dari Peraturan Menteri/Kepala Lembaga hingga Undang-undang yang kurang kondusif mendukung paradigma baru pengelolaan perbatasan, perlu dilakukan. Banyak regulasi yang harus disempurnakan, banyak konflik kepentingan yang berbenturan, harus diantisipasi, dan banyak pula energi yang harus dikeluarkan untuk semua ini, sehingga dibutuhkan konsistensi kebijakan, komitmen yang kuat, dan kepemimpinan nasional yang memihak bagi percepatan pembangunan kawasan perbatasan sebagai beranda depan Negara.
2.Perubahan prioritas program nasional yang dibiayai APBN melalui Kementerian/Lembaga Pemerintah Non Kementerian dan program daerah yang dibiayai APBD melalui pemerintah daerah, perlu disesuaikan dengan arah kebijakan dalam rangka mendukung percepatan pembangunan kawasan perbatasan. Di samping kemauan penanggung jawab program masing-masing Satker K/L, dibutuhkan iklim kondusif yang mendorongnya melalui berbagai kekhususan (yang memudahkan) dalam berbagai pengaturan standard, prosedur, dan kriteria pembiayaan dan penganggaran program/kegiatan terkait dengan perbatasan. Pola insentif bagi aktivitas tertentu, secara system, sangat dibutuhkan untuk mendorongnya. Dalam contoh kecil, bagaimana petugas (keamanan, guru, medis dll) bersedia dengan iklas dan sungguh-sungguh tertarik mengabdikan dirinya di perbatasan apabla tanpa insentif yang memadai? Demikian juga insentif lain untuk merangsang investasi di kawasan perbatasan guna menumbuhkan pengembangan potensi ekonomi di kawasan tersebut.
3.BNPP sebagai lembaga baru pengelola perbatasan yang salah satu fungsi utamanya melakukan koordinasi penanganan perbatasan, dituntut untuk bekerja dengan professional, memiliki kompetensi yang jelas, dan kapasitas me-manage banyak kepentingan di perbatasan. Kemampuan mengkoordinasikan K/L yang banyak jumlahnya, ditambah dengan memfasilitasi hubungan dengan sektor swasta dan pemerintah daerah secara serasi, tidaklah mudah, namun harus bisa dilakukan. Untuk ini, simultan dengan tahap-tahap pengembangan kelembagaan BNPP, upaya pengembangan SDM di lingkungan pengelola perbatasan pusat dan daerah, diperlukan untuk dapat dilakukan pada lima tahun pertama. Demikian juga berbagai upaya kajian dan pengembangan sistem pendukung berfungsi optimalnya kelembagaan pengelola perbatasan, pada tahap-tahap awal dibutuhkan untuk dilakukan secara sistematis dan komprehensif.
Sebaik apapun desain dan rencana yang dibuat, akan sangat tergantung pada bagaimana kemauan dan kemampuan untuk melaksanakannya. Oleh karena itu, diharapkan sesegera mungkin setelah tersusunnya grand design ini, dapat disusul dengan penyusunan rencana induk hingga tahun 2014 dan rencana aksi tahunannya. Apa yang masih menggantung "di langit", saatnya di"bumi"kan. Apa yang masih diimpikan, di-visikan, saatnya dikonkritkan dalam rencana aksi, untuk kemajuan NKRI dan rakyat seluruh Indonesia: yang merdeka, bersatu, adil dan makmur.


[tulis] » komentar « [baca]
LDj © 2010

© LDj - 2010 • ke atas