info: aktifkan javascript browser untuk tampilan normal...
Pasal I
Beberapa ketentuan dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 43/M-DAG/PER/9/2009 tentang Pengadaan, Pengedaran, Penjualan, Pengawasan, dan Pengendalian Minuman Beralkohol diubah sebagai berikut:

1.Ketentuan Pasal 6 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:

"Pasal 6
(1)Perusahaan yang melakukan impor minuman beralkohol golongan A, golongan B, dan/atau golongan C sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 wajib memiliki penetapan sebagai IT-MB dari Menteri.
(2)Untuk memperoleh penetapan sebagai IT-MB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) perusahaan mengajukan permohonan tertulis kepada Menteri melalui Dirjen Daglu dengan melampirkan dokumen:
a.fotokopi Angka Pengenal Importir (API);
b.fotokopi Tanda Daftar Perusahaan (TDP);
c.fotokopi Surat Izin Usaha Perdagangan Minuman Beralkohol (SIUP-MB) Distributor yang menunjukkan bahwa perusahaan pemohon telah berpengalaman sebagai Distributor Minuman Beralkohol selama 3 (tiga) tahun;
d.fotokopi Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);
e.fotokopi Nomor Identitas Kepabeanan (NIK);
f.fotokopi Surat Penunjukan dari 20 (dua puluh) Prinsipal Pemegang Merek/Pabrik Luar Negeri yang berasal dari paling sedikit 5 (lima) negara untuk minimal pembelian 3000 (tiga ribu) karton per Merek per tahun dengan menunjukkan asli surat penunjukan yang ditandasahkan oleh Notaris Publik dan Atase Perdagangan atau pejabat diplomatik/konsuler di bidang ekonomi di negara setempat;
g.Surat Keterangan dari pabrik yang menerangkan bahwa prinsipal/perwakilan pemegang merek berwenang menunjuk Distributor di luar negeri yang ditandasahkan oleh Atase Perdagangan atau pejabat diplomatik/konsuler di bidang ekonomi di negara setempat;
h.fotokopi perjanjian kerjasama dengan Sub Distributor, Penjual Langsung atau Pengecer Minuman Beralkohol paling sedikit di 6 (enam) provinsi; dan
i.Surat pernyataan Pemohon yang menyatakan kebenaran perjanjian sebagaimana dimaksud pada huruf h yang ditandatangani di atas meterai cukup.
(3)Menteri menerbitkan penetapan sebagai IT-MB paling lama 5 (lima) hari kerja terhitung sejak permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diterima secara lengkap dan benar.
(4)Berdasarkan pertimbangan tertentu, Menteri dapat menetapkan BUMN, dan/atau BUMD atas usul Gubernur sebagai IT-MB yang penjualannya dikenakan pajak (duty paid).
(5)Pertimbangan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dapat berupa:
a.Terjadinya kelangkaan minuman beralkohol; dan
b.IT-MB tidak merealisasikan impornya."

2.Ketentuan Pasal 8 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:

"Pasal 8
(1)Alokasi jenis dan jumlah minuman beralkohol yang dapat diimpor untuk memenuhi kebutuhan konsumsi ditetapkan berdasarkan pola pembagian pemenuhan kebutuhan konsumsi minuman beralkohol yang penjualannya dikenakan pajak (duty paid) dan tidak dikenakan pajak (duty not paid).
(2)Kebutuhan konsumsi minuman beralkohol yang tidak dikenakan pajak (duty not paid) sebagaimana dimaksud pada ayat (1), importasinya dilakukan oleh BUMN yang ditetapkan oleh Menteri.
(3)Menteri setiap tahun menetapkan alokasi jenis dan jumlah minuman beralkohol yang dapat diimpor untuk memenuhi kebutuhan nasional dengan mempertimbangkan:
a.untuk kebutuhan duty paid;
1.realisasi impor 3 (tiga) tahun terakhir untuk kebutuhan duty paid;
2.jumlah permohonan dari seluruh IT-MB; dan
3.perkiraan jumlah kunjungan wisatawan asing dan kebutuhan hotel, pub, bar, dan restoran anggota Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia.
b.untuk kebutuhan duty not paid, berdasarkan realisasi impor duty not paid selama 3 (tiga) tahun.
(4)Dalam hal data atas perkiraan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a angka 3 tidak tersedia dalam batas waktu tertentu, penetapan alokasi jenis dan jumlah minuman beralkohol yang dapat diimpor untuk kebutuhan duty paid dapat ditetapkan berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a angka 1 dan angka 2
(5)Alokasi impor minuman beralkohol sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a untuk tahun alokasi berikutnya dibagikan sebesar:
a.80% (delapan puluh per seratus) secara proporsional untuk IT-MB yang sudah mendapat alokasi impor minuman beralkohol pada tahun alokasi berjalan; dan
b.20% (dua puluh per seratus) secara prorata untuk IT-MB yang belum pernah mendapat alokasi impor minuman beralkohol.
(6)Alokasi impor minuman beralkohol sebagaimana dimaksud pada ayat (5) ditetapkan setiap tanggal 1 April pada tahun berjalan.
(7)Jumlah alokasi impor minuman beralkohol kepada IT-MB sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b, lebih kecil dari jumlah yang diterima oleh IT-MB sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf a.
(8)Jumlah alokasi impor minuman beralkohol kepada IT-MB sebagaimana dimaksud pada ayat (7) paling besar 80% (delapan puluh per seratus) dari jumlah alokasi terkecil yang diterima oleh IT-MB sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf a.
(9)Dalam hal alokasi impor minuman beralkohol sebesar 20% (dua puluh per seratus) sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b tidak habis terbagi, maka sisa alokasi minuman beralkohol tersebut dibagikan secara prorata kepada IT-MB sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf a.
(10)Dalam hal tidak terdapat penetapan IT-MB baru, maka alokasi minuman beralkohol sebesar 20% (dua puluh per seratus) sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b, dibagikan secara prorata kepada IT-MB sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf a."

3.Di antara Pasal 8 dan Pasal 9 disisipkan 1 (satu) pasal, yakni Pasal 8A sehingga berbunyi sebagai berikut:

"Pasal 8A
(1)Alokasi impor minuman beralkohol sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (5) kepada IT-MB diberikan oleh Menteri dalam bentuk surat persetujuan impor per tahun.
(2)Untuk memperoleh surat persetujuan impor sebagaimana dimaksud pada ayat (1), IT-MB harus mengajukan permohonan kepada Menteri dengan melampirkan fotokopi IT-MB paling lambat 15 (lima belas) hari sebelum tahun berjalan.
(3)IT-MB yang telah memperoleh persetujuan impor sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib melaksanakan sendiri impornya.
(4)Dalam hal IT-MB telah memperoleh persetujuan impor minuman beralkohol sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak merealisasikan impor minuman beralkohol, maka alokasi impor minuman beralkohol dapat dialihkan kepada IT-MB lainnya berdasarkan persetujuan Menteri.
(5)Pengalihan alokasi impor minuman beralkohol sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dapat dilakukan terhadap:
a.IT-MB yang tidak bersedia merealisasikan impor minuman beralkohol; dan/atau
b.IT-MB yang dalam waktu tertentu realisasi importasinya masih relatif kecil."

4.Ketentuan Pasal 10 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:

"Pasal 10
Menteri dapat mendelegasikan wewenang penerbitan penetapan IT-MB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (3), penetapan alokasi jenis dan jumlah minuman beralkohol sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (3), pemberian surat persetujuan impor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8A ayat (1), dan persetujuan pengalihan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8A ayat (4) kepada Dirjen Daglu."

5.Ketentuan Pasal 14 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:

"Pasal 14
(1)Minuman beralkohol golongan B dan/atau golongan C dijual oleh Penjual Langsung hanya di tempat tertentu untuk diminum langsung.
(2)Minuman beralkohol golongan A dapat dijual oleh Penjual Langsung di tempat tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan/atau di tempat lain sesuai ketentuan Peraturan Menteri ini untuk diminum langsung.
(3)Tempat tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) yaitu:
a.Hotel Berbintang 3, 4, dan 5;
b.Restoran dengan Tanda Talam Kencana dan Talam Selaka; dan
c.Bar termasuk Pub dan Klab Malam.
(4)Penjualan minuman beralkohol golongan B dan/atau golongan C yang dijual di tempat tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a, dapat diminum di kamar hotel dengan ketentuan per kemasan berisi paling banyak 187 ml (seratus delapan puluh tujuh mililiter).
(5)Bagi daerah yang tidak memiliki tempat tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (3), Bupati/Walikota setelah mempertimbangkan kegiatan wisatawan mancanegara di wilayahnya, dapat menetapkan tempat tertentu lainnya bagi Penjual Langsung untuk menjual minuman beralkohol golongan B dan/atau golongan C yang berlokasi di ibukota Kabupaten/Kota atau lokasi lainnya dengan berpedoman pada Peraturan Menteri ini."

6.Ketentuan Pasal 23 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:

"Pasal 23
(1)Permohonan SIUP-MB untuk Distributor dan Sub Distributor hanya dapat dilakukan oleh perusahaan yang dimiliki Warga Negara Indonesia.
(2)Permohonan SIUP-MB untuk Distributor atau Sub Distributor minuman beralkohol golongan B dan/atau golongan C disampaikan kepada Dirjen PDN, dengan mengisi SP SIUP-MB sebagaimana tercantum dalam Lampiran III Peraturan Menteri ini.
(3)Permohonan perubahan SIUP-MB Distributor untuk IT-MB minuman beralkohol golongan B dan/atau golongan C disampaikan kepada Dirjen PDN, dengan mengisi SP perubahan SIUP-MB sebagaimana tercantum dalam Lampiran III Peraturan Menteri ini.
(4)Permohonan SIUP-MB untuk Sub Distributor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan oleh perusahaan yang berbentuk badan hukum, perseorangan atau persekutuan dengan melampirkan persyaratan:
a.Surat penunjukan dari Produsen atau IT-MB atau Distributor atau kombinasi ketiganya sebagai Sub Distributor;
b.Rekomendasi keberadaan dan legalitas perusahaan dari Gubernur dalam hal ini Kepala Dinas Provinsi setempat berdasarkan Berita Acara Penelitian Lapangan terhadap perusahaan yang bersangkutan dari Dinas Kabupaten/Kota setempat;
c.SIUP Menengah;
d.Tanda Daftar Perusahaan (TDP);
e.Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);
f.Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai (NPPBKC), bagi perusahaan yang memperpanjang SIUP-MB;
g.Akta Pendirian/Perubahan Perusahaan bagi Perseroan Terbatas;
h.Rencana Penjualan Minuman Beralkohol 1 (satu) tahun ke depan; dan
i.Surat Pernyataan di atas meterai yang menyatakan tidak melakukan penjualan minuman beralkohol secara eceran.
(5)Permohonan SIUP-MB untuk Distributor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan oleh perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas dan telah berbadan hukum dengan melampirkan persyaratan:
a.Akta Pendirian Perseroan Terbatas dan Pengesahan Badan Hukum dari pejabat yang berwenang dan akta perubahan (jika ada);
b.Surat penunjukan dari Produsen dan/atau IT-MB sebagai Distributor;
c.Rekomendasi keberadaan dan legalitas perusahaan dari Gubernur dalam hal ini Kepala Dinas Provinsi setempat berdasarkan Berita Acara Penelitian Lapangan terhadap perusahaan yang bersangkutan dari Dinas Kabupaten/Kota setempat;
d.SIUP Menengah atau Besar;
e.Tanda Daftar Perusahaan (TDP);
f.Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);
g.Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai (NPPBKC), bagi perusahaan yang memperpanjang SIUP-MB;
h.Rencana penjualan minuman beralkohol 1 (satu) tahun ke depan dan;
i.Surat Pernyataan di atas meterai yang menyatakan tidak melakukan penjualan minuman beralkohol secara eceran.
(6)Permohonan perubahan SIUP-MB Distributor bagi IT-MB sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dengan melampirkan persyaratan:
a.SIUP-MB asli sebagai Distributor yang telah dimiliki;
b.Akta perubahan (jika ada); dan
c.Penetapan sebagai IT-MB.
(7)Permohonan SIUP-MB untuk TBB disampaikan kepada Gubernur dalam hal ini Kepala Dinas Provinsi dengan mengisi SP SIUP-MB sebagaimana tercantum dalam Lampiran III Peraturan Menteri ini dengan melampirkan persyaratan:
a.Surat penunjukan dari IT-MB sebagai TBB;
b.Surat Izin Tempat Usaha (SITU) khusus minuman beralkohol;
c.Surat izin TBB dari Menteri Keuangan;
d.SIUP Menengah atau Besar;
e.Tanda Daftar Perusahaan (TDP);
f.Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);
g.Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai (NPPBKC), bagi perusahaan yang memperpanjang SIUP-MB;
h.Akta Pendirian/Perubahan Perusahaan bagi Perseroan Terbatas; dan
i.Rencana Penjualan Minuman Beralkohol 1 (satu) tahun ke depan.
(8)Permohonan SIUP-MB untuk Penjual Langsung, Pengecer selain TBB dan Penjual Langsung dan/atau Pengecer minuman beralkohol golongan B yang mengandung rempah-rempah, jamu dan sejenisnya disampaikan kepada Bupati/Walikota dalam hal ini Kepala Dinas Kabupaten/Kota dan Gubernur DKI Jakarta untuk Provinsi DKI Jakarta dalam hal ini Kepala Dinas Provinsi DKI Jakarta dengan mengisi SP SIUP-MB sebagaimana tercantum dalam Lampiran III Peraturan Menteri ini.
(9)Permohonan SIUP-MB untuk Penjual Langsung sebagaimana dimaksud pada ayat (8) hanya dapat dilakukan oleh perusahaan yang berbentuk badan hukum, perseorangan atau persekutuan dengan melampirkan persyaratan:
a.Hotel Berbintang 3, 4 dan 5, Restoran bertanda Talam Kencana dan Talam Selaka dan Bar, Pub atau Klab Malam:
1.Surat Penunjukan dari Produsen atau IT-MB atau Distributor atau Sub Distributor atau kombinasi keempatnya sebagai Penjual Langsung;
2.SIUP dan/atau Surat Izin Usaha Tetap Hotel khusus Hotel bintang 3, 4, 5, atau Surat Izin Usaha Restoran dengan tanda Talam Kencana dan Talam Selaka, atau Surat izin Usaha Bar, Pub, atau Klab Malam dari instansi yang berwenang;
3.Surat Izin Tempat Usaha (SITU) khusus minuman beralkohol;
4.Tanda Daftar Perusahaan (TDP);
5.Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);
6.Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai (NPPBKC), bagi perusahaan yang memperpanjang SIUP-MB;
7.Akta pendirian Perseroan Terbatas dan pengesahan badan hukum dari Pejabat yang berwenang dan akta perubahan (jika ada) apabila perusahaan berbentuk Perseroan Terbatas; dan
8.Rencana Penjualan Minuman Beralkohol 1 (satu) tahun ke depan.
b.Penjual Langsung, Pengecer di tempat tertentu lainnya, dan Penjual Langsung dan/atau Pengecer minuman beralkohol golongan B yang mengandung rempah-rempah, jamu dan sejenisnya dengan melampirkan persyaratan:
1.Surat penunjukan dari Produsen atau IT-MB atau Distributor atau Sub Distributor atau kombinasi keempatnya sebagai Penjual Langsung minuman beralkohol di tempat tertentu lainnya, Pengecer minuman beralkohol tempat lainnya, dan Penjual Langsung dan/atau Pengecer minuman beralkohol golongan B yang mengandung rempah-rempah, jamu dan sejenisnya;
2.Rekomendasi lokasi keberadaan perusahaan khusus minuman beralkohol dari Camat setempat;
3.Surat Izin Tempat Usaha (SITU) khusus minuman beralkohol;
4.SIUP Kecil atau Menengah;
5.Tanda Daftar Perusahaan (TDP);
6.Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);
7.Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai (NPPBKC), bagi perusahaan yang memperpanjang SIUP-MB;
8.Akta Pendirian/Perubahan Perusahaan bagi Perseroan Terbatas; dan
9.Rencana penjualan minuman beralkohol 1 (satu) tahun ke depan.
(10)Persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (4), ayat (5), ayat (6) huruf b dan huruf c, ayat (7) serta ayat (9) masing-masing 1 (satu) eksemplar fotokopi dengan menunjukan dokumen aslinya."

7.Ketentuan Pasal 31 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:

"Pasal 31
Setiap orang atau perusahaan dilarang menjual secara eceran dalam kemasan minuman beralkohol golongan A, golongan B dan golongan C dan/atau menjual langsung untuk diminum di tempat, di lokasi sebagai berikut:
a.gelanggang remaja, kaki lima, terminal, stasiun, kios-kios kecil, penginapan remaja, dan bumi perkemahan;
b.tempat yang berdekatan dengan tempat ibadah, sekolah, rumah sakit, dan pemukiman; dan
c.tempat tertentu lainnya yang ditetapkan oleh Bupati/Walikota atau Gubernur DKI Jakarta untuk Provinsi DKI Jakarta, dengan memperhatikan kondisi daerah masing-masing."

8.Ketentuan Pasal 35 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:

"Pasal 35
Pelaksanaan pengawasan dan pengendalian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 dilakukan sebagai berikut:
(1)Menteri melaksanakan pengawasan dalam rangka pengendalian peredaran minuman beralkohol sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 berkoordinasi dengan Menteri terkait.
(2)Pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 dilaksanakan oleh Dirjen Daglu, Dirjen PDN, dan Direktur Jenderal Standardisasi dan Perlindungan Konsumen sesuai tugas pokok dan fungsinya dan mengoordinasikan pelaksanaannya dengan Pemerintah Daerah.
(3)Gubernur mengoordinasikan pelaksanaan pengawasan pengedaran dan penjualan minuman beralkohol sesuai dengan wilayah kerjanya.
(4)Bupati/Walikota dalam melaksanakan pengawasan pengedaran dan penjualan minuman beralkohol membentuk Tim Terpadu yang terdiri dari unsur-unsur:
a.Dinas yang tugas dan tanggungjawabnya di bidang perdagangan;
b.Dinas yang tugas dan tanggungjawabnya di bidang perindustrian;
c.Dinas yang tugas dan tanggungjawabnya di bidang kesehatan;
d.Dinas yang tugas dan tanggungjawabnya di bidang pariwisata;
e.Dinas yang tugas dan tanggungjawabnya di bidang keamanan dan ketertiban;
f.Balai Pengawasan Obat dan Makanan sesuai wilayah kerjanya; dan
g.Dinas terkait lainnya.
(5)Tim terpadu sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diketuai oleh Kepala Dinas yang tugas dan tanggungjawabnya di bidang perdagangan.
(6)Dalam melaksanakan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) Tim Terpadu mengikutsertakan Aparat Kepolisian sebagai unsur pendukung.
(7)Kegiatan Tim Terpadu sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dibiayai Anggaran Pemerintah Daerah."

9.Ketentuan Pasal 36 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:

"Pasal 36
(1)Produsen atau IT-MB wajib melaporkan setiap penunjukan Distributor, Sub Distributor, Penjual Langsung dan/atau Pengecer sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) kepada Dirjen PDN dalam hal ini Direktur Bahan Pokok dan Barang Strategis, dengan melampirkan fotokopi perjanjian tertulis.
(2)Distributor wajib melaporkan setiap penunjukan Sub Distributor, Penjual Langsung dan/atau Pengecer sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (6) kepada Dirjen PDN dalam hal ini Direktur Bahan Pokok dan Barang Strategis, dengan melampirkan fotokopi perjanjian tertulis.
(3)Sub Distributor wajib melaporkan setiap penunjukan Penjual Langsung dan/atau Pengecer sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (4) kepada Dirjen PDN dalam hal ini Direktur Bahan Pokok dan Barang Strategis, dengan melampirkan fotokopi perjanjian tertulis.
(4)IT-MB wajib melaporkan setiap penunjukan TBB sebagai Pengecer sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2) kepada Dirjen PDN dalam hal ini Direktur Bahan Pokok dan Barang Strategis, dengan melampirkan fotokopi perjanjian tertulis."

10.Ketentuan Pasal 37 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:

"Pasal 37
(1)IT-MB golongan A, golongan B, dan golongan C wajib melaporkan realisasi impornya setiap 3 (tiga) bulan kepada Dirjen Daglu dalam hal ini Direktur Impor, dengan tembusan:
a.Dirjen PDN;
b.Direktur Jenderal Industri Agro, Kementerian Perindustrian;
c.Direktur Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata;
d.Direktur Jenderal Pajak, Kementerian Keuangan;
e.Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Kementerian Keuangan; dan
f.Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan.
(2)Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan paling lama 15 (lima belas) hari kalender terhitung sejak tanggal barang tiba di pelabuhan bongkar dengan menggunakan formulir sebagaimana tercantum dalam Lampiran V Peraturan Menteri ini."

11.Ketentuan Pasal 38 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:

"Pasal 38
(1)IT-MB wajib melaporkan realisasi pengedaran minuman beralkohol golongan A, golongan B, dan golongan C kepada Dirjen Daglu dalam hal ini Direktur Impor.
(2)Distributor dan Sub Distributor minuman beralkohol wajib melaporkan realisasi pengedaran minuman beralkohol golongan B dan golongan C kepada Dirjen PDN dalam hal ini Direktur Bahan Pokok dan Barang Strategis.
(3)Tembusan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) disampaikan kepada:
a.Direktur Jenderal Pajak, Kementerian Keuangan;
b.Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Kementerian Keuangan;
c.Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan;
d.Direktur Pengawasan Barang Beredar dan Jasa, Kementerian Perdagangan;
e.Kepala Dinas Provinsi setempat; dan
f.Kepala Dinas Kabupaten/Kota setempat.
(4)PTBB yang menjual minuman beralkohol wajib melaporkan realisasi pengedaran dan penjualan minuman beralkohol golongan A, golongan B, dan golongan C kepada Gubernur dalam hal ini Kepala Dinas Provinsi setempat dengan tembusan:
a.Dirjen PDN;
b.Direktur Jenderal Pajak, Kementerian Keuangan;
c.Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Kementerian Keuangan;
d.Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan; dan
e.Kepala Dinas Kabupaten/Kota setempat.
(5)Penjual Langsung dan Pengecer wajib menyampaikan laporan realisasi penjualan minuman beralkohol kepada Bupati/Walikota dalam hal ini Kepala Dinas Kabupaten/Kota dengan tembusan Gubernur dalam hal ini Kepala Dinas Provinsi setempat atau Gubernur DKI Jakarta dalam hal ini Kepala Dinas Provinsi untuk Provinsi DKI Jakarta.
(6)Penjual Langsung dan/atau Pengecer minuman beralkohol golongan B yang mengandung rempah-rempah, jamu dan sejenisnya wajib melaporkan realisasi penjualan minuman beralkohol golongan B kepada Bupati/Walikota dalam hal ini Kepala Dinas Kabupaten/Kota dengan tembusan kepada Gubernur dalam hal ini Kepala Dinas Provinsi setempat atau Gubernur DKI Jakarta dalam hal ini Kepala Dinas Provinsi untuk Provinsi DKI Jakarta.
(7)Penyampaian laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (4), ayat (5), dan ayat (6) dilaksanakan setiap triwulan tahun kalender berjalan sebagai berikut:
-Triwulan I disampaikan pada tanggal 31 Maret;
-Triwulan II disampaikan pada tanggal 30 Juni;
-Triwulan III disampaikan pada tanggal 30 September; dan
-Triwulan IV disampaikan pada tanggal 31 Desember.
(8)Bentuk laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (4), ayat (5), dan ayat (6) sebagaimana tercantum dalam Lampiran VI Peraturan Menteri ini."

12.Di antara Pasal 39 dan Pasal 40 disisipkan 1 (satu) pasal, yakni Pasal 39A sehingga berbunyi sebagai berikut:

"Pasal 39A
(1)Kepala Dinas Kabupaten/Kota menyampaikan laporan penerbitan SIUP-MB bagi Penjual Langsung dan/atau Pengecer kepada Kepala Dinas Provinsi dan tembusan disampaikan kepada Dirjen PDN dalam hal ini Direktur Bahan Pokok dan Barang Strategis.
(2)Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan setiap 3 (tiga) bulan paling lama tanggal 15 bulan berikutnya."

13.Ketentuan Pasal 43 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:

"Pasal 43
IT-MB yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8A ayat (3), Pasal 9 ayat (1), Pasal 28 dan Pasal 33 Peraturan Menteri ini dikenakan sanksi pencabutan penetapan sebagai IT-MB dan/atau sanksi pidana sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan."

Pasal II
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 28 Desember 2010
MENTERI PERDAGANGAN
REPUBLIK INDONESIA,

MARI ELKA PANGESTU
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 19 Januari 2011
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,

PATRIALIS AKBAR

[tulis] » komentar « [baca]