info: aktifkan javascript browser untuk tampilan normal...
BAB I
KETENTUAN UMUM

(1)Kegiatan Usaha RAP-KARBON terkait Pengelolaan Hutan Produksi Lestari meliputi:
a.Penanaman dan pemeliharaan dari bagian kegiatan IUPHHK-HT atau IUPHHK-HTR yaitu penyiapan lahan, pembibitan, penanaman, pemeliharaan, pemanenan, dan pemasaran sesuai dengan sistem silvikultur yang ditetapkan pada seluruh areal atau bagian hutan atau blok hutan;
b.Penanaman dan pemeliharaan sampai daur tanaman pada seluruh areal atau bagian hutan atau blok hutan IUPHHK-HA dan IUPHHK-RE;
c.Pengayaan pada areal bekas tebangan dalam seluruh areal atau bagian hutan atau blok hutan dalam areal IUPHHK-HA atau IUPHHK-RE atau IUPHHK-HT atau IUPHHK-HTR;
d.Penanaman pada jalur tanam di IUPHHK-HA atau IUPHHK-RE atau IUPHHK-HT yang menggunakan sistem silvikultur Tebang Pilih Tanam Jalur atau menerapkan teknik silvikultur Tebang Pilih Tanam Intensif;
e.Peningkatan produktivitas melalui peningkatan riap tegakan dengan penerapan teknik silvikultur.
(2)Kegiatan PAN-KARBON terkait Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL) meliputi:
a.Perpanjangan siklus tebang atau penundaan tebangan pada areal tertentu pada areal kerja IUPHHK-HA.
b.Perpanjangan rotasi tebang atau penundaan tebangan pada bagian hutan atau blok dalam areal IUPHHK-HTI atau IUPHHK-HTR.
c.Penerapan penebangan ramah lingkungan pada bagian hutan atau blok hutan dalam areal IUPHHK-HA.
d.Pemeliharaan dan pengamanan pada jalur antara di IUPHHK yang menggunakan sistem tebang tanam jalur atau teknik silvikultur Tebang Pilih Tanam Intensif.
e.Perluasan areal perlindungan dan konservasi di dalam areal IUPHHK-HA dan IUPHH-HT.
f.perlindungan dan pengamanan dalam areal yang berfungsi perlindungan di seluruh areal atau bagian hutan atau blok dalam areal IUPHHK-HA atau IUPHHK- RE atau IUPHHK-HT atau IUPHHK-HTR atau IUPHHBK.
g.Perlindungan dan pengamanan pada seluruh areal atau bagian hutan atau blok dalam areal IUPHHK-HA atau IUPHHK-RE.
(3)Kegiatan Usaha RAP-KARBON pada hutan lindung meliputi:
a.Penanaman dan pemeliharaan dari bagian kegiatan izin usaha pemanfaatan kawasan hutan, atau izin usaha pemanfaatan hutan kemasyarakatan, dan hutan desa yaitu penyiapan lahan, pembibitan, penanaman, pemeliharaan, pemanenan, dan pemasaran sesuai dengan sistem silvikultur yang ditetapkan pada seluruh areal atau bagian hutan atau blok hutan;
b.Penanaman dan pemeliharaan sampai daur tanaman pada seluruh areal atau bagian hutan atau blok hutan pada izin usaha pemanfaatan kawasan hutan, atau izin usaha pemanfaatan hutan kemasyarakatan, dan hutan desa;
c.Peningkatan produktivitas melalui peningkatan riap tegakan dengan penerapan teknik silvikultur.
(4)Kegiatan PAN-KARBON pada hutan lindung meliputi:
a.Pemeliharaan dan pengamanan pada areal izin usaha pemanfaatan kawasan hutan, atau izin usaha pemanfaatan hutan kemasyarakatan, dan hutan desa.
b.Perluasan areal perlindungan dan konservasi di dalam areal izin usaha pemanfaatan kawasan hutan, atau izin usaha pemanfaatan hutan kemasyarakatan, dan hutan desa.
c.perlindungan dan pengamanan dalam areal yang berfungsi perlindungan di seluruh areal atau bagian hutan atau blok dalam areal izin usaha pemanfaatan kawasan hutan, atau izin usaha pemanfaatan hutan kemasyarakatan, dan hutan desa.
d.Perlindungan dan pengamanan pada seluruh areal atau bagian hutan atau blok dalam areal izin usaha pemanfaatan kawasan hutan, atau izin usaha pemanfaatan hutan kemasyarakatan, dan hutan desa.

Pasal 4
Pelaksanaan kegiatan usaha penyimpanan karbon dalam skema pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan (REDD), dan penyerapan karbon dalam kerangka mekanisme pembangunan bersih diatur dengan Peraturan Menteri tersendiri.

BAB III
PERMOHONAN IZIN USAHA

Bagian Kesatu
Permohonan dan Persyaratan Bagi Areal yang Telah Dibebani Izin

(1)Berdasarkan permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2), Direktur Jenderal melakukan pemeriksaan atas kelengkapan persyaratan dalam waktu 10 (sepuluh) hari kerja sejak diterimanya permohonan.
(2)Dalam hal permohonan tidak memenuhi kelengkapan persyaratan, Direktur Jenderal atas nama Menteri menerbitkan surat penolakan.
(3)Dalam hal permohonan memenuhi kelengkapan persyaratan, Direktur Jenderal membentuk Tim Penilai Proposal untuk menilai aspek teknis pengelolaan hutan, jenis usaha jasa lingkungan hutan, proyeksi cash flow, dan kegiatan sosial ekonomi terkait masyarakat setempat dalam jangka waktu 15 (lima belas) hari kerja.
(4)Dalam hal hasil penilaian proposal teknis memenuhi syarat, Direktur Jenderal melaporkan hasil penilaian kepada Menteri.
(5)Atas dasar laporan Direktur Jenderal sebagaimana dimaksud pada ayat (4), Menteri memerintahkan:
a.Direktur Jenderal Planologi Kehutanan menyiapkan Peta Areal Kerja;
b.Direktur Jenderal menyiapkan konsep keputusan tentang pemberian IUP RAP-KARBON dan/atau IUP PAN-KARBON.
(6)Berdasarkan Peta Areal Kerja dan konsep keputusan IUP RAP-KARBON dan/atau IUP PAN-KARBON sebagaimana dimaksud pada ayat (5), Menteri yang pelaksanaannya dilakukan oleh Direktur Jenderal menerbitkan Surat Perintah Pembayaran (SPP) iuran IUP RAP-KARBON dan/atau IUP PAN-KARBON berdasarkan tarif yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri, kepada pemohon.
(7)Setelah SPP IUP RAP-KARBON dan/atau IUP PAN-KARBON dilunasi, Menteri menerbitkan Keputusan tentang pemberian IUP RAP-KARBON dan/atau IUP PAN-KARBON kepada pemohon.

Bagian Kedua
Permohonan dan Persyaratan Bagi Areal Yang Tidak Dibebani Izin

Pasal 7
(1)Permohonan IUP RAP-KARBON dan/atau IUP PAN-KARBON sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 untuk areal yang tidak dibebani izin dapat diajukan:
a.Perorangan;
b.Koperasi;
c.Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau Badan Usaha Milik Daerah (BUMD);
d.Badan Usaha Milik Swasta Indonesia (PT, CV, Firma).
(2)Persyaratan permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah:
a.Copy KTP untuk perorangan atau Akte pendirian Koperasi/Badan Usaha yang berbentuk PT, CV atau Firma beserta perubahan-perubahannya dan diutamakan yang bergerak di bidang usaha kehutanan/pertanian/perkebunan;
b.Surat izin usaha dari instansi yang berwenang;
c.Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);
d.Pernyataan bersedia membuka kantor cabang di provinsi dan atau Kabupaten/Kota;
e.Proposal Usaha Pemanfaatan Jasa Lingkungan pada Hutan Produksi (Proposal UPJL) mengikuti format seperti pada Lampiran 1 Peraturan ini.
(3)Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diajukan untuk satu atau lebih kegiatan Pemanfaatan Penyerapan dan/atau Penyimpanan Karbon sebagaimana dimaksud pada Pasal 3.

Pasal 8
(1)Pemberian izin IUP RAP-KARBON dan/atau IUP PAN-KARBON pada areal yang tidak dibebani izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu berada pada Menteri.
(2)Dalam hal areal yang dibebani izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu akan melakukan IUP RAP-KARBON dan/atau IUP PAN-KARBON, wajib memperoleh persetujuan Menteri.
(3)Tata cara persetujuan IUP RAP-KARBON dan/atau IUP PAN-KARBON pada areal yang dibebani izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu, diatur dengan Peraturan Menteri tersendiri.
(4)Permohonan IUP RAP-KARBON atau IUP PAN-KARBON sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan kepada Menteri dilengkapi dengan persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2).
(5)Permohonan sebagai pengembang proyek IUP RAP-KARBON dan/atau IUP PAN-KARBON diajukan kepada Menteri sebagaimana diatur dalam Pasal 11.

Bagian Ketiga
Pemberian Izin oleh Bupati/Walikota

(1)Kepala Dinas Provinsi melakukan pemeriksaan atas kelengkapan persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) dalam waktu 10 (sepuluh) hari kerja sejak diterimanya permohonan.
(2)Dalam hal permohonan tidak memenuhi kelengkapan persyaratan administrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2), Kepala Dinas Provinsi atas nama Gubernur menerbitkan surat penolakan.
(3)Dalam hal permohonan memenuhi kelengkapan persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan areal permohonan IUP RAP-KARBON dan/atau IUP PAN-KARBON berada di luar areal yang dibebani izin, Kepala Dinas Provinsi membentuk Tim Penilai Proposal yang anggotanya terdiri dari unsur-unsur UPT Ditjen BPK, UPT Ditjen PHKA, UPT Ditjen. Planologi Kehutanan yang lokasi UPT di provinsi setempat dan Dinas terkait di Provinsi setempat untuk menilai proposal teknis dalam waktu 12 (dua belas) hari kerja.
(4)Tim Penilai Proposasl sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak perlu dibentuk berulang untuk setiap permohonan izin.
(5)Dalam hal hasil penilaian proposal teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (3) memenuhi syarat, Kepala Dinas Provinsi melaporkan hasil penilaian kepada Gubernur.
(6)Atas dasar laporan Kepala Dinas Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (5), Gubernur memerintahkan Kepaka Dinas Provinsi untuk menyiapkan Peta Areal Kerja dan konsep Keputusan tentang pemberian IUP RAP-KARBON dan/atau IUP PAN-KARBON.
(7)Berdasarkan Peta Areal Kerja dan konsep keputusan IUP RAP-KARBON dan/atau IUP PAN-KARBON sebagaimana dimaksud pada ayat (6), Gubernur yang pelaksanaannya dilakukan oleh Kepala Dinas provinsi menerbitkan Surat Perintah Pembayaran (SPP) iuran IUP RAP-KARBON dan/atau IUP PAN-KARBON berdasarkan tarif yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri, kepada pemohon.
(8)Setelah SPP-IUP RAP-KARBON dan/atau IUP PAN-KARBON dilunasi, Gubernur menerbitkan Keputusan tentang pemberian IUP RAP-KARBON dan/atau IUP PAN-KARBON kepada pemohon.

Bagian Kelima
Pemberian izin oleh Menteri

Pasal 11
(1)Direktur Jenderal melakukan pemeriksaan atas kelengkapan persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) dalam waktu 10 (sepuluh) hari kerja sejak diterimanya permohonan.
(2)Dalam hal permohonan tidak memenuhi kelengkapan persyaratan administrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2), Direktur Jenderal atas nama Menteri menerbitkan surat penolakan.
(3)Dalam hal permohonan memenuhi kelengkapan persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan areal permohonan IUP RAP-KARBON dan/atau IUP PAN-KARBON berada di luar areal yang dibebani izin, Direktur Jenderal membentuk Tim Penilai Proposal yang anggotanya terdiri dari unsur-unsur Direktorat Jenderal Bina Produksi Kehutanan, Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan dan Unit Pelaksana Teknis Departemen Kehutanan pada provinsi setempat, serta unsur Dinas terkait di Provinsi setempat untuk menilai proposal teknis dalam waktu 12 (dua belas) hari kerja.
(4)Tim Penilai Proposal sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak perlu dibentuk berulang untuk setiap permohonan izin.
(5)Dalam hal hasil penilaian proposal teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (3) memenuhi syarat, Direktur Jenderal melaporkan hasil penilaian kepada Menteri.
(6)Atas dasar laporan Direktur Jenderal sebagaimana dimaksud pada ayat (5), Menteri memerintahkan:
a.Direktur Jenderal Planologi Kehutanan menyiapkan Peta Areal Kerja.
b.Direktur Jenderal menyiapkan konsep keputusan tentang pemberian IUP RAP-KARBON dan/atau IUP PAN-KARBON.
(7)Berdasarkan Peta Areal Kerja dan konsep keputusan IUP RAP-KARBON dan/atau IUP PAN-KARBON sebagaimana dimaksud pada ayat (6), Menteri menerbitkan Keputusan IUP RAP-KARBON dan/atau IUP PAN-KARBON.
(8)Berdasarkan Keputusan Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (7), Direktur Jenderal menerbitkan SPP-IUP RAP-KARBON dan/atau IUP PAN-KARBON dengan tarif sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(9)Direktur Jenderal menyerahkan Keputusan Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (7) setelah kewajiban iuran IUP RAP-KARBON dan/atau IUP PAN-KARBON dilunasi oleh pemohon.
(10)Dalam hal permohonan izin usaha pemanfaatan dan/atau penyimpanan karbon pada areal hutan kemasyarakatan, dan hutan desa, pemeriksaan atas kelengkapan persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2), ketentuan ketentuan ayat (1), ayat (3), ayat (5), dan ayat (6) huruf b, ayat 8 dan ayat 9 dilaksanakan oleh Direktur Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial.

(1)Dalam hal pemegang izin tidak melunasi iuran kehutanan dalam waktu 1 (satu) tahun, Bupati/Walikota atau Gubernur atau Menteri membatalkan Keputusan pemberian IUP RAP-KARBON dan/atau IUP PAN-KARBON.
(2)Pembayaran iuran IUP RAP-KARBON dan/atau IUP PAN-KARBON disetor ke kas negara melalui Bendahara Penerima untuk Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Kehutanan.

BAB IV
PENGEMBANGAN PROYEK DAN PEMASARAN KARBON

Pasal 14
(1)Pengelola hutan produksi (BUMN) atau pemegang IUPHHK-HA, atau IUPHHK-RE atau IUPHHK-HTI dapat menjadi Pengembang Proyek, untuk kegiatan RAP dan/atau PAN KARBON.
(2)Dalam hal pengelola hutan produksi atau pemegang IUPHHK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bekerja sama dengan investor untuk Kerja Sama Operasional sebagai Pengembang Proyek, dan diajukan kepada Menteri c.q. Direktur Jenderal untuk disetujui.
(3)Kerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (2), paling sedikit berisi hak dan kewajiban antara pengelola hutan produksi atau pemegang izin dengan investor yang menyangkut penjualan dan pembayaran, pemeliharaan dan pengembangan sumber daya hutan, pengembangan pemberdayaan masyarakat setempat, dan pengembangan/replikasi proyek di areal sekitarnya.
(4)Hasil kegiatan Pengembangan Proyek sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa komoditi karbon, dapat dipasarkan pada pasar karbon suka rela di dalam negeri atau di internasional.
(5)Dalam hal pasar karbon sukarela dalam negeri belum terbentuk, Pengembang Proyek dapat memasarkan pada pasar karbon suka rela internasional.
(6)Dalam hal Pengembangan Proyek sebagaimana dimaksud pada ayat (1) akan dipasarkan di internasional, Pengembang Proyek berdasarkan standar yang ada di pasar internasional melakukan:
a.Membangun Desain Proyek dan dapat menggunakan jasa konsultan.
b.Mengajukan penilaian dan verifikasi dengan menggunakan jasa lembaga penilai independen yang ada.
(7)Dalam hal penyusunan desain proyek atau penilaian dan verifikasi DP/PD RAP KARBON atau PAN-KARBON sebagaimana dimaksud pada ayat (6) dilakukan oleh konsultan internasional atau penilai independen internasional, maka konsultan internasional atau penilai independen internasional tersebut harus bekerja sama dengan konsultan nasional atau lembaga penilai independen yang ada di dalam negeri.
(8)Dalam penyusunan desain proyek sebagaimana dimaksud pada ayat (6) huruf a, Pengembang Proyek dapat bekerja sama dengan pemerintah daerah, BUMN/BUMD/BUMSwasta Nasional, lembaga swadaya masyarakat dalam negeri.
(9)Standar pengembangan proyek dan pemasaran karbon yang ada di pasar internasional sebagaimana dimaksud pada ayat (6) tersebut pada Lampiran II Peraturan ini.

Proyek RAP-KARBON dan/atau PAN-KARBON yang telah mendapat sertifikat VER, kredit dan penyimpanannya harus nyata/telah terjadi permanen, terregistrasi dan terverifikasi oleh lembaga independen Nasional atau yang ada di Pasar Karbon Suka Rela Nasional atau Internasional.

Pasal 17
(1)Nilai Jual Jasa Lingkungan (NJ2L) RAP-KARBON dan/atau PAN-KARBON adalah pendapatan dari penjualan kredit karbon yang telah disertifikasi dan dibayar berdasarkan ERPA (Emission Reduction Purchase Agrement).
(2)Distribusi dari NJ2L adalah sebagaimana dalam Lampiran III Peraturan ini.
(3)Dana yang diterima oleh pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan PNBP Kehutanan.
(4)Dana untuk masyarakat setempat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikelola melalui Trust Fund yang dikelola dengan prinsip tata kelola yang baik (governance) oleh masyarakat setempat bersama pemerintah desa dan pengembangan proyek difasilitasi oleh Penyuluh Kehutanan setempat untuk kegiatan pengamanan areal hutan proyek Pengembangan RAP-KARBON dan/atau PAN-KARBON dalam rangka mencegah kebocoran (leakeage).
(5)Pengembang Proyek dapat mengasuransikan proyek RAP-KARBON dan/atau PAN-KARBON pada lembaga asuransi ada di pasar Nasional atau pasar Internasional.

Pasal 18
Dalam hal REDD atau Compliant Market berlaku pada bulan Desember Tahun 2012, maka:
a.Sertifikat VER untuk PAN-KARBON harus divalidasi mengikuti prosedur mekanisme compliant yang diakui dan dimasukan dalam carbon baseline REDD Nasional serta diregistrasi pada Badan Registrasi Nasional.
b.Kesepakatan jual beli PAN-KARBON dinegosiasikan kembali.

Sumber-sumber pembiayaan untuk pelaksanaan kegiatan RAP-KARBON dan/atau PAN-KARBON dapat diperoleh dari:
a.dana sendiri.
b.dana Corporate Social Responsibility (CSR) yang ada di dalam negeri maupun di luar negeri.
c.dana hibah luar negeri (donor) dalam kerangka bilateral maupun multilateral.

BAB VI
KETENTUAN LAIN

Pasal 21
Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi, Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung, Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus pada hutan produksi dan/atau hutan lindung, Hutan Rakyat, Hutan Kemasyarakatan (HKm), Hutan Masyarakat Hukum Adat, dan Hutan Desa dapat melaksanakan usaha pemanfaatan RAP-KARBON dan/atau PAN-KARBON sesuai dengan Peraturan ini.

BAB VII
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 22
Peraturan Menteri Kehutanan ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, Peraturan Menteri Kehutanan ini diundangkan dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 22 Mei 2009
MENTERI KEHUTANAN
REPUBLIK INDONESIA,

H.M.S. KABAN
Diundangkan di Jakarta
Pada tanggal 29 Mei 2009
MENTERI HUKUM DAN HAM
REPUBLIK INDONESIA,

ANDI MATTALATTA

[tulis] » komentar « [baca]
LDj © 2010

© LDj - 2010 • ke atas